
...Semua yang terjadi di hadapan kita tak lain adalah takdir Tuhan. Sebaik-baiknya manusia berencana, Allah lah pengatur paling baik takdir kita....
...----------------...
Memutuskan sebuah masalah besar dalam hidup tdak semudah kita membalikkan telapak tangan ataupun menjentikkan jari. Karena setiap masalah harus ada penyelesaian yang bisa diterima oleh semesta.
“Saya memang menginginkan keadaan Laura baik-baik saja tetapi, saya tida bermaksud yang lebih. Jadi, jangan mengartikan rasa khawatir saya ini terhadap putri Anda, Nyonya dan Tuan.” Ervin menolak secara halus.
“Tidak, saya tadi melihat jika dokter Ervin mencium anak saya. Bukankah itu sudah pelecehan namanya? Ya ... Itu tanggung jawab dokter Ervin karena sudah melakukan hal tersebut.” Mama Laura masih menginginkan Ervin untuk menikahi Laura pada hari itu juga.
Ervin menghela napas berat lalu, ia mengusap gusar wajahnya. Rasanya hampir percuma saja membela diri di depan orang yang awam dengan dunia medis.
“Bunda, tolong percaya sama Ervin jika Ervin tidak melakukan hal itu.” Ervin mendekati Bunda Rania.
“Bang-Kak, tolong percaya juga sama Ervin. Kalian adalah orang yang paling mengenal aku,” ucap Ervin saat menoleh ke arah bang Jamal dan kak Sita berada.
Bang Jamal yang melihat Ervin sepeti terpojok sungguh merasa tak tega. Tapi, itu di luar nalar mereka. Meskipun percaya dengan Ervin tetapi jika, kedua orang tua Laura tetap bersi keukeuh ingin Evin menikahi Laura maka, hasilnya akan sama saja. Sulit untuk membuat kedua orang tua Laura mempercayai apa arti napas buatan.
“Kami semua memang percaya dengan kamu, Ervin. Tapi ... Jika kedua orang tua Laura tetap menginginkan kamu bertanggung jawab kita pun tida bisa berbuat apa-apa.” Bang Jamal berusaha menengahi.
Kembali Ervin mengusap wajahnya gusar. Sepersekian detik kemudian, setelah keheningan sejenak menemai mereka kini Ervin mengudarakan suaranya.
“Saya ... Ingin meminta waktu kepada Anda, Tuan. Itupun jika Anda memberikannya.” Dengan kerendahan hati dan pasrah Ervin berusaha meyakinkan diri untuk menerima garis takdir yang jauh berbeda dengan keinginannya.
“Saya akan memberikan waktu kepada kamu. Tapi ... Jika kamu mau jangan terlalu lama. Karena saya takut seandainya Laura sudah sadar Dia akan drop mengetahui pernikahannya mengalami kegagalan terutama jika sampai mengetahui Arlos telah tiada.” Tatapan yang menyiratkan penuh harap.
Ervin hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Setelah itu Ervin melangkah menuju ke tempat yang bisa membuat hatinya tenang dan berdamai.
Di mushola rumah sakit Ervin merenung di sana. Ia menengadahkan tangan sembari menatap ke arah kiblat.
“Ya Rabb ... Tak pernah sekalipun hamba mengeluh saat Engkau menguji diri ini seberat apapun itu. Namun, kali inihamba memohon kepada Engkau. Permudahkanlah urusan hamba, berikanlah hamba jawaban yang tepat untuk permasalahan ini.”
“Jika Laura adalah perempuan yang Engkau takdirkan dan Engkau sandingkan untuk hambamu ini maka, perbesar lah hati hamba dalam menerimanya. Tetapi, jika Laura bukanlah perempuan yang Engkau rencanakan maka, tolong hamba berilah petunjuk-Mu.”
“Karena hamba tahu bahwa Engkau adalah Tuhan yang akan memberikan keadilan pada setiap hambanya. Aamiin Ya Rabb.”
Begitu panjang tetapi, tetap berakhir dalam kata aamiin. Setelah berserah diri kepada Allah Ervin kembali menuju di mana keluarga masih berkumpul.
Namun, saat hendak menelusuri koridor rumah sakit tiba-tiba Bunda Rania mengejutkan Ervin, sehingga seketika itu juga Ervin mengucapkan istighfar seray megelus dadanya.
“Ya Allah, Bunda ... Kenapa ngagetin Ervin begitu sih? Tidak lucu loh kalau nanti dokter jantung malah kena seranga jantung. Wkwkwk.” Ervin masih berusaha tersenyum dalam rasa yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Tes...
Tes...
“Bunda kenapa menangis? Apa Ervin sudah menyakiti Bunda? Atau ... Bunda teringan sama Haura?” berondong Ervin dengan beberapa pertanyaan.
Bunda Rania menggeleng saja, tetapi air bening dari sudut matanya masih saja mengalir membasahi pipi.
Ervin yang tidak menemukan jawaban pasti, ia cukup bingung dengan apa yang terjadi dengan Bunda Rania.
“Ervin minta maaf Bun, jika Ervin sudah menyakiti Bunda. Mungkin menurut Bunda Ervin adalahanak yang sudah buat malu keluarganya. Bahkan ... ”
“Jangan berkata apapun lagi tentang kejelakan dirimu, Nak. Bunda memang bukanlah sosok Ibu yang berperan penting dalam hidup kamu. Karena Bunda tahu, bahwa Bunda bukanlah ibu yang sudah melahirkan kamu.“ Bunda Rania memotong kalimat Ervin.
Bunda Rania menangkup wajah Ervin, menatap dengan dalam hingga Bunda Rania mampu membaca bagaimana sedihnya Ervin saat ini.
...----------------...
Bunda Rania dan Ervin sudah berada di tengah-tengah kedua orang tua Laura. Bahkan bang jamal dan kak Sita pun msih menemani Ervin di sana.
“Ervin, apa kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusan kamu?” bisik Bunda Rania.
Ervin nampak menghela napas panjang. Lalu, ia pun berkata.
Ervin memustukan jika ia mau menikahi laura setelah Laura sadar dari koma. Karena bagaimana pun Laura juga harus tahu tentang pernikahan yang akan mengikat keduanya nanti.
Dan kedua orang tua Laura pun menyetujui akan hal itu. Kini kedua orang tua Laura sedikit merasa lega hanyasaja dadanya mereka masih terasa begitu sesak mengingat Laura tak kunjung sadar.
‘Ervin, kini aku tahu siapa sebenarnya kamu. Lelaki yang memiliki hati besar, menerima tanpa mengubahnya. Dan aku ... Mengagumimu.’
Seorang perempuan diam-diam menganggumi Ervin. Mengakui rasa yang berbeda dalam hatinya.
...----------------...
Kembali Ervin melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang dokter ahli beah jantung. Tetapi, siang itu ia meminta ijin kepada Aurora untuk menunaikan sholat dzuhur di masjid terdekat dari rumah sakit.
“Dokter Aurora, saya minta Anda untuk berjaga sendirian dulu ya! Saya ijin mau ke masjid dulu. Saya janji tidak akan lama kok,” ijin Ervin dengan nada lembut.
“Siap! Dokter Ervin. Jika ada keadaan darurat saya akan kabari Anda.” Aurora mengangguk.
Ervin membalas hanya dengn anggukan dengan senyuman. Lalu bergegas menuju ke masjid tempat ia biasa menghilangkan rasa lelah.
__ADS_1
...----------------...
Code Blue...
Code Blue...
Kode darurat telah berbunyi tepat di mana Laura saat ini dirawat. Aurora yang saat itu tengah berjaga di sana segera melakukan tindakan dan tak lupa ia meminta perawat Rani untuk segera menghubungi Ervin.
“Dokter Aurora gawat! Nomor dokter Ervin susah dihubungi. Lantas bagaimana ini?”
“Lakukan sebisa kita! Siapkan alat kejut jantungnya.” Perawat Rani mengangguk.
Setelah beusaha semaksimal mumgkin akirnya Aurora mampu memberikan pertolongan kepada Laura. Namun, denyut jantung Laura begitu lemah.
Laura keluar dari ruang ICU, lalu bertemu dengan keluarga Laura dan menyatakan jika Laura sudah melewati masa kritis.
“Aurora,” panggil seseorang.
Pemilik suara itupun menghampiri Aurora yang masih berdiri di bersama bang Jamal, kak Sita dan Bunda Rania.
“Bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kamu. Ikutlah denganku sebentar saja.” Seseorang itupun menarik lengan Aurora.
Aurora mengernyitkan kedua alisnya. Ia merasa bingung dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh dokter Abimana.
“Sebelumnya aku minta maaf jika sudah mengganggu waktumu, Ra. Tapi, aku tidak mau memendam rasa penasaran, dan aku mau jujur bahwa aku benar mencintai kamu.”
Aurora terbelalak lebar, kendati ia tida percaya jika dokter kandungan itu telah menyatakan cinta yang kesekian.
“Will you marry me, Aurora?”
Tiba-tiba dokter Abimana berjongkok di depan Aurora seraya membuka kotak kecil yang di dalamya sebuah cincin berlian. Dengan rasa percaya dii yang besar lelaki muda itu melamar Aurora saat suasana masih sangat genting.
Deg.
‘Keadilan yang Engkau buat sudah begitu nyata dan seadil-adilnya Engkau ... Mungkin inilah jawaban yang tepat. Berikanlah kami kebahagiaan masing-masing Ya Allah.’
Begitu nelangsa kisah cinta seorang dokter Ervin. Tabu yang tidak bisa dilawan membuat kisah cinta Ervin Evano dengan Aurora Lovania Geraldo kandas ketika masih kuncup.
Ervin memutuskan untuk pergi dan tak ingin berada di sana, tempat yang membuatnya tersayat. Hatinya merasa tertusk belati tajam dengan begitu dalam. Jika diibartakan sebuah ranting, maka akan patah berkali-kali. Dan ia harus bisa menerima kenyataannya jika, kisah itu tak akan bisa dirajut lebih panjang lagi.
Sepersekian detik kemudian, Lura telah dinyatakan sadar diri.
__ADS_1
🌹🌹🌹