
...Terimakasih telah hadir dalam hidupku. Jadilah mawar merah dalam hidupku. Dan jangan jadi mawar hitam yang akan menggelapkan duniaku....
...----------------...
Setelah menyatakan hal itu kepada Aurora, rasanya Ervin sama-sama merasakan sakit yang dirasakan Aurora. Namun, Ervin berusaha menepis segala rasa yang mengenai Aurora, termasuk cintanya yang harus dibunuh dan ditenggelamkan ke bumi.
Ervin melenggang pergi di depan Aurora, mengejar Laura yang sudah berlalu pergi kala melihat Ervin bersama Aurora tadi.
“Di mana Laura?” gumam Ervin.
Ervin masih berlari, menelusuri setiap lorong rumah sakit. Ia tidak akan menyerah mencari keberadaan Laura. Meskipun perasaan cinta belum tumbuh di dalam hati Ervin tetapi, Ervin tidak mau menyakiti seorang perempuan. Karena Ervin sendiri tahu bagaimana rasanya hati yang dipatahkan... remuk.
“Haduh, kenapa harus berpapasan sama si jutek sih. Kalau Dia tahu aku sudah membuat adiknya bersedih dan kecewa padaku bagaimana? Masa iya aku harus bertengkar sama Dia.” Ervin membalikkan tubuhnya.
Ingin meghindari keberadaan Humaira, tapi rasanya itu tidaklah mudah.
“Ngapain begitu? Dokter aneh,” celetuk Humaira.
Keberadaan Humaira yang berada di belakang Ervin jelas mengejutkan Ervin. Dan kali ini, Ervin tidak bisa menghindari lagi Humaira.
“Tidak apa-apa. Lagipula, bukan urusan kamu aku mau melakukan apapun. Ya sudah, aku harus melakukan visite lagi pada pasien ku. So, good bye.” Hanya alasan alibi Ervin saja untuk menghindari Humaira.
Ervin mengambil langkah dan pergi dari hadapan Himaira. Namun, saat satu jangkah saja Humaira sudah kembali menghentikannya.
“Tunggu! Tadi, Laura datang ke rumah sakit untuk bertemu denganmu. Apa... kalian sudah bertemu?” tanya Humaira dengan menatap Ervin secara intens.
Ervin hanya meneguk saliva nya sendiri, karena ia sampai saat itu belum menemukan keberadaan Laura. Akan tetapi, Ervin juga tidak mau jika di cap sebagai lelaki yang pecundang dan pembohong.
“Maafkan aku! Mungkin Laura terlalu lama menungguku, dan saat Dia melewati ruang perawatan tanpa sengaja Dia melihatku sedaang bersama Aurora.” Ervin berusaha jujur.
Jika Humaira akan marah padanya, Ervin sudah siap menanggung akan hal itu. Karena itu termasuk resikonya, seperti yang sudah dikatakan Humaira padanya.
Tangan Humaira mengepal erat, tatapannya berubah menjadi tajam hingga membuat Ervin kembali menla silava nya sendiri.
“Aku mohon, jangan marah terlebih dahulu. Aku juga tidak sengaja berduaan saja dengan Aurora. Karena Aurora hanya ingin mengobati tanganku saja. Dan daripada kamu marah padaku, lebih baik biarkan saja aku pergi dan mencari Laura.” Ervin penuh harap Humaira mengiyakannya.
Dan benar saja, Humaira mengangguk dan membiarkan Ervin pergi mencari keberadaan Laura.
...----------------...
Setelah belari cukup jauh Ervin merasa aneh saat menatap sebuah bayang-bayang seseorang dari balik tembok tersebut.
Ervin mendekat setelah meyakini jika itu bayang-bayang Laura yang sedang menangis dan bersandar di tembok.
“Aku tahu itu kamu, Laura. Tak apajika kamu tak ingin menemuiku tapi ... Aku mohon jangan marah ataupun bersedih karena aku.”
“Aku minta maaf jika memang apa yang kamu lihat tadi sudah membuatmu sakit hati dan bersedih. Tapi ... Aku mohon berikanlah aku kesempatan untuk menjelaskannya.”
Ervin semakin mendekat, ia hanya tidak ingin terjadinya sebuah kesalah pahaman antara dirinya dengan Laura. Pasalny, Ervin ingin menjaga hati yang harusnya tetap terjaga, hati istrinya.
__ADS_1
Laura yang tahu bayang-bayang Ervin semakin mendekat rasanya ia ingin sekali berlari dan menyembunyikan lukanya yang diakibatkan oleh rasa cemburu yang membakar hatinya.
Namun, hatinya menolak untuk pergi. Dan sedangkan kakinya juga terasa sulit untuk digerakkan. Hanya saja, netranya begitu ingin menatap Ervin.
“Jangan pergi, Laura! Dengarkan penjelasanku dulu, aku mohon!” ujar Ervin setelah berhadapan dengan Laura.
‘Lura, jangan sensi padanya. JIka kamu memiliki sifat pemarah bisa jadi Ervin akan menjauhimu. Bahkan ... Membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan. So, turunkan egomu sedikit saja. Okay.’ Laura bermonolog dalam hati.
Laura pun mengangguk lalu, Ervin memikirkan tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan Laura. Tempat yang tidak sepi dan juga tidak terlalu banyak orang, yang sedang saja.
...----------------...
Tempat yang terpilh tak lain adalah ruangan Ervin, di dalam sana juga ada suster Rani yang bisa dijadikan orang ketiga di antara mereka. Jika hanya berdua saja maka, yang ketiga nya dalah setan.
“Minum saja dulu, mungkin kamu haus setelah menangis.” Ervin meletakkan segelas air di atas meja.
“He'em.” Laura menjawab dengan singkat.
Ervin berdehem sebentar, lalu ia mengambil duduk dan mulai menceritakan bagaimana saat Aurora mengajaknya ke ruangan tersebut.
Flashback On
Saat Ervin membelah dada pasien tanpa sengaja pisau yang ia kenakan macet di tengah-tengah secara tiba-tiba, hingga pisau tersebut meleset lalu, terjatuh dan melukai tangan kanan Ervin.
“Aaarrggh.” Ervin mengaduh kesakitan.
Semua mata tertuju pada Ervin dan tangan Ervin yang sudah mengeluarkan darah. Namun, Ervin sendiri abai dengan kondisi tangannya itu.
Operasi pun kembali dijalankan, meskipun Ervin mengenakan tangan kirinya untuk tetap melakukan operasi tetapi, Ervin bisa menyelesaikan tugasnya ecara perlahan dengan kidal.
Flashback Off
“Auroa datang hanya ingin menjahit luka ku saja. Dan tidak lebih dari itu. Tolong percayalah! JIka hatimu masih meragu kamu bisa tanyakan itu semua pada suster Rani. Itu orangnya ada di sana.” Ervin menunjuk kursi yang agak ujung di ruangan Ervin.
Laura menghela napas panjang. Setelah mengerti apa yang terjadi, Laura menarik dua ujung bibirnya hingga membentuk lengkungan yang indah.
“Aku juga minta maaf sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kamu tadi. Seharusnya aku sadar diri jika aku hanya perempuan yang tak lebih dari kata sempurna, hingga kamu mau menikahiku karena belas kasihan.” Laura menunduk.
“Tidak, Laura. Aku mohon jangan katakan hal seperti itu lagi. Kita berdua nantinya akan menjadi suami istri, dan itu akan dilangsungkan besok pagi loh.” Ervin tersenyum.
Laura menunduk, ia menyembunyikan pipinya yang bersemu merah karena rasa malu. Dan Laura tidak mau jika, Ervin melihatnya yang bahagia menunggu hari esok.
Dan setelah semuanya selesai hingga tidak terjadi salah paham lagi antara keduanya, Ervin memutuskan untuk menemui profesor Nathaniel yang berada di ruangannya.
Profeor Nathaniel menghela napas panjang, ia tidak bisa memaksakan apa yang bukan kehendaknya. Meskipun saat ini profesor Nathaniel masih mengharapkan Ervin sebagai calon menantunya, rasanya kini bertolak.
“Saya tidak bisa menghentikan apa yang sudah menjadi rencana kamu, Ervin. Dan saya hanya bisa mendoakan bagaimana yang terbaik untuk kamu dan Aurora. Semoga kalian berdua bisa bahagia dengan pilihan masing-masing.” Profesor Nathaniel tersenyum bangga.
“Terimakasih! Prof. Anda sudah mau mengerti keadaan ini. Dan saya juga berterimakasih karena sudah diijinkan untuk ambil cuti selama dua hari. Kalau begitu ... Saya permisi, Prof.” Ervin membunguk sebentar, menghormati Profesor Nathaniel sebagai atasannya.
__ADS_1
“Silahkan, Ervin.” Profesor Nathaniel mengangguk.
Ervin beranjak dari ruangan Profesor Nathaniellalu, ia menuju ke tempat parkir dan menaiki jok motornya.
Sengaja Ervin pulang siang hari itu untuk mempersiapkan acara esok pagi. Sedangkan Laura, ia sudah diminta Ervin untuk pulang lebih dulu.
“Laura, kamu benar-benar beruntung memiliki calon suami yang baik, sholeh dan hebat seperti Ervin. Dan yang menjadi bonusnya adalah ... Tampan.” Humaira mengulas senyum seraya menatap Ervin yang sudah melaju kencang.
Humaira masuk ke dalam mobilnya lalu, menekan pedal gas dan melaju kencang. Dokter cantik itu kembali pulang, karena ingin membantu orang-orang di rumah.
...----------------...
Semua persiapan sudah selesai, mulai dari mahar dan semuanya. Untung saja Laura maupun keluarganya tidak mempermasalhkan hal tersebut, meminta yang lebih. Karena gaji Ervin yang masih dibilang cukup, belum terlalu banyak untuk membeli barang-barang mewah sebagai mahar dan seserahan.
Hampir semalaman Ervin tidak bisa tertidur memikirkan hari esok. Hanya takut saja jika ia tidak lancar dalam mengucapkan ijab qabul. Hal itu adalah hal yang diutamakan dalam inti acara, sehingga Ervin menghapalkan tulisan yang ada dalam secarik kertas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Laura Laurisa Irham binti Irham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ervin terus mengulang kalimat itu.
Tepat jam sebelas malam, Ervin masih setia di meja belajarnya. Kali itu bukan hasil X-Ray dari pasiennya yang ia cermati, melainkan kalimat ijab qabul yang tidak bisa membuatnya tidur.
Dan saat masih menghapalkan kalimat tersebut tiba-tiba ponselnya bergetar_tanda ada notivikasi pesan yang masuk.
Laura [Jangan lupa makan dan minum obat, dokter Ervin. Meskipun esok adalah hari untuk kita tetapi, menjaga kesehatan itu penting. Bukankah seperti itu kata dokter. So, jangan lupa ya, ini pesan dari saya ... Calon istrimu.]
Ervin tidak marah sama seklai setelah membaca pesan itu. Justru Ervin tersenyum manis, baru kali itu ada seorang perempuan yang mengingatkannya akan kesehatan yang wajib dijaga selain kak Sita dan bunda Rania.
Dokter Ganteng [Terimakasih telah hadir dalam hidupku. Jadilah mawar merah dalam hidupku. Dan jangan jadi mawar hitam yang akan menggelapkan duniaku.
Ervin pun membalas pesan dari Laura. Dan Laura yang sudah membacanya pun tak hentinya tersenyum sendirian. Hatinya berbunga-bunga yang siap dihinggapi kupu-kupu cantik.
Kedua calon pengantin tersebut merasakan hal yang tak biasanya. Tidak bisa tertidur dengan lelap.
...----------------...
Setelah tiga jam lamanya Ervin terlelap, kini ia harus bangun pada sepertiga malam ketiga. Seperti biasa, Ervin mengerjakan sholat tahajud.
“Ya Rabb ... Aku kembali mengadu dalam sujudku. Jika Engkau meridhoi pernikahan yang akan hamba jalani maka, berikanlah kelancaran saat hamba mengucapkan ijab dan qabul. Aamiin.”
Ervin menengadahkann tagan dan melangitkan doa lalu, ia mengakhiri dengan kata aamiin sebagai penutup doa nya.
Semua persiapan sudah dimasukkan ke dalam mobil yang Ervin sewa. Karena Ervin merasa malu jika harus memakai angkot milik bang Jamal. Bukan berarti Ervin lelaki sombong, hanya saja Ervin ingin menghargai mertuanya yang termasuk keluarga kalangan atas.
Deg ... Dug... Deg... Dug...
Kira-kira seperti itulah ritme jantung Ervin saat ini. Acara yang akan diterjadi satu kali dalam seumur hidupnya. Dan Ervin tidak ingin acara itu tertunda atau gagal.
“Kau itu harus rileks, jangan seperti itu. Belum juga ijab qabul, keringa suda se-gedhe jagung.” Bang Jamal pun mengejek Ervin.
Ervin hanya mencebik saja, Ia tidak mau bekomentar apapun tentang ucapan bang Jamal.
__ADS_1
Ketika Ervin masih menghapal kalimat yang sama tiba-tiba ponslnya berdering.