Couple Doctor

Couple Doctor
Sweet Husband


__ADS_3

...Jangan kau tanyakan lagi pada siapa hati ini berlabuh. Karena jawabannya kau pun tahu. Hati dan cinta ini sudah berlabuh padamu... Dermaga ku. ...


...----------------...


Setelah menunaikan sholat subuh dan tepatnya lagi pagi itu sudah pukul enam, cahaya matahari sudah mulai menyingsing. Akan tetapi, justru membuat Laura merasa mengantuk yang seolah tidak bisa ia tahan.


Namun, karena tempat dan kondisi saat itu membuat Laura tidak memungkinkan untuk tidur.


“Ngantuk ya, Dek? Abang antar pulang saja bagaimana? Biar bisa tidur dan istirahat.”


Ervin merasa jika itu adalah salahnya yang sudah meminta jatah lembur pada Laura. Hingga membuat jatah tidur Laura pada malam itu.


“Tak perlu, Bang. Tanggung kalau pulang, nanti kan balik lagi ke rumah sakit. Aku mau check up hari ini, obatnya juga habis pula.” Laura menolak ajakan Ervin.


Ervin mengusap puncak kepala Laura dengan lembut lalu, mendaratkan bibirnya di kening Laura.


“Emm... kalau begitu sini ikut Abang yuk!” ajak Ervin.


Laura memutar bola matanya sempurna. Rasa penasaran pun telah membuncah dada saat Ervin menuntunnya menuju ke brankar yang ada di ruang kerja Ervin.


“Kenapa kita disini sih, Bang?”


“Kita tidur disini sambil menunggu jam kerja Abang. Masih pukul 06.00 pagi, masih ada waktu paling tidak dua jam lah untuk ... tidur.”


Ervin merebahkan tubuhnya di atas brankar. Lalu, ia pun sedikit bergeser dengan posisi tubuh miring.


“Sini, tidur sama Abang. Abang peluk sampai Adek tidur.” Ervin menepuk-nepuk sisi brankar.

__ADS_1


“Bang, jangan bercanda dong! Ini di rumah sakit loh, masa iya tidur berdua begitu. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Lagipula mana muat buat berdua begitu,” ungkap Laura.


“Apa peduli kata orang, yang terpenting kita itu sudah sah di mata agama dan hukum. Jadi, tak akan dosa jika kita tidur berdua disini. Yang ada nanti mereka malah iri,” ucap Ervin sambil terkekeh geli.


Semenjak menikah mulut Ervin sangat lemes mengucapkan kata-kata romantis. Mungkin itu yang menjadi spesial dalam rumah tangga meskipun tidak di dasari cinta.


Sweet husband, banyak sekali seorang isteri mengidamkan suami yang seperti itu. Dan Ervin pun termasuk dalam kategori sweet husband.


Akhirnya, Laura merebahkan tubuhnya di atas brankar dengan posisi yang sama seperti Ervin. Laura memunggungi Ervin, dan dengan beralas bantal lengan Ervin Laura merasa nyaman. Apalagi lengan Ervin melingkar di perut Laura, memberikan pelukan dari sisi belakang.


Sungguh, pemandangan yang indah_yang membuat hati para pembaca ikut merasa meleyot dengan perlakuan Ervin terhadap Laura.


Namun sayang, para pembaca hanya bisa membayangkannya saja.


Hiks', bikin nyesek.


...----------------...


“Dek... bangun! Sudah jam delapan pagi loh. Sudah dua jam Dek Laura tidurnya, sekarang bangun ya!” bisik Ervin di telinga Laura.


Dan lagi-lagi tidak ada pergerakan dari Laura. Karena saking mengantuknya waktu dua jam pun serasa kurang bagi Laura yang tidak pernah begadang sampai pagi.


Namun, tidak membuat Ervin menyerah begitu saja. Ia masih berusaha membangunkan Laura dengan cara sweet husband.


“Dek... bangun dong!” bisik Ervin lagi sambil mengusap pipi Laura.


Berhasil, cara jitu dari dokter Ervin bisa dinyatakan sukses. Tubuh Laura beringsut secara pelan. Lalu, kedua matanya telah mengerjap_menyesuaikan diri yang belum sadar sepenuhnya.

__ADS_1


Sepersekian detik kemudian, Laura sudah bersih dan wangi setelah mandi di rumah sakit. Meskipun dengan pakaian yang sama tetapi, Laura merasa nyaman.


“Abang mau sarapan pakai apa? Tadi kan, belum sempat sarapan juga,”


“Apa saja. Yang Adek makan Abang juga akan makan.”


“Memangnya begitu ya? Lalu, Abang suka sama aku atau tidak?”


Ervin sibuk dengan laporan data pasien seketika menoleh ke arah Laura yang duduk di depannya.


“Suka.” Ervin menatap dalam Laura.


“Jangan kau tanyakan lagi pada siapa hati ini berlabuh. Karena jawabannya kau pun tahu. Hati dan cinta ini sudah berlabuh padamu... Dermaga ku.”


Ervin mengusap punggung tangan Laura lalu, mengecupnya lembut.


Blush! Perlakuan Ervin dan setiap kata yang terucap oleh bibir yang begitu lumer sukses membuat kedua pipi Laura merona. Dan entah kenapa Ervin sangat menyukai hal itu dari Laura.


...----------------...


Aktivitas berjalan seperti biasa, Ervin pagi itu memulai pekerjaannya dengan melakukan visite terlebih dahulu. Setelahnya melakukan pemeriksaan pada pasien yang melakukan kontrol. Dan sisanya nanti akan Ervin habiskan untuk keadaan darurat jika terjadi.


“Assalamu'alaikum, selamat pagi, Brother! Apa kabar kau hari ini? Dan aku berharapnya... kau baik-baik saja.” Ervin melakukan pemeriksaan rutin pada Leon.


Saat Ervin fokus dengan detak jantung Leon tiba-tiba suster Rani mengatakan jika ada pergerakan jari dari Leon.


“Apa Anda yakin sama penglihatan Anda itu, Sus?” tanya Ervin sopan.

__ADS_1


“Benar Dok, meskipun sebentar tapi saya merasa yakin.” Suster Rani mengangguk mantap.


__ADS_2