
...Jadilah seseorang yang memiliki pikiran baik. Tetaplah berprasangka baik kala diri ini tidak berada di sampingmu, menjamahmu dalam dekapan kehangatan....
...----------------...
Mobil pun memasuki pelataran kediaman Irham. Terlihat di rumah itu tdak banyak orang hanya beberapa saja tetangga dan juga kerabat dekat yanag menhadiri acara pernikahan Laura dengan Ervin. Karena itu adala salah satu permintaan Ervin maupun laura itu sendiri.
Kembali jantung Ervin berdegup kencang kala ia memasuki rumah yang megah itu. Beberapa kali ia menarik napas panjang, menetralkan ritme jantung yang masih tak beraturan.
“Rileks, brother.” Bang Jamal menepuk pundak Ervin.
Semua mata tertuju pada bang Jamal. Menatap lelaki yang gagah dengan ciri khas orang medan itu.
“Bapak belajar darimana pakai bahasa Inggris segala.” Raza pun mencebik.
“Iya, sok Inggris pula. Palingan bisanya cuma begitu doang,” imbuh kak Sita.
Erin hanya menggeleng saja melihat ketiganya yang sedang adu bicara, karena dalam pikiran Ervin masih berpusat tentang kalimat yang dihapalkannya.
“Tenanglah! Jangan lupa baca bismillah sebelum mengucapkannya nanti. Bunda yakin, kamu pasti bisa.” Bunda rania mengangguk_meyakinkan Ervin.
Ervin membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
Keluarga Irham yang mendengar suara keributan di luar segera membuka pintu. Dan setelah tahu siapa yang berada di luar pak Irham pun segera mempersilahkan masuk Ervin dan yang lainnya.
Setiap Ervin memijakkan kaki nya jantungnya pun semakin berdegup kencang. Berusaha untuk tenang dari gemuruh api yang sudah membakar hatinya.
“Ini pengantin lelaki nya sudah datang. Bisakah kita mulai acara ijab qabul nya, Pak?” tanya pak penghulu.
“Sebentar Pak, saya pastikan dulu pengantin perempuannya.”
“Iya, silahkan!”
Pak Irham menuju ke kamar Laura dan memastikan persiapan sang pengantin perempuan. Sedamgkan bu Veronica sendiri sedang menemani Laura bersama Humaira.
Setelah dinyatakan siap melakukan ijab qabul, bu Veronoca dan Humaira menuntun Laura keluar dan duduk di balik tirai yang sengaja dijadikan sebagai pembatas.
Ervin pun sudah siap duduk di depan pak Irham dan pak penghulu. Sedangkan keluarga pihak lelaki sudah duduk di belakang pengantin lelaki.
Acraa yang diadakan secara sederhana kini sudah sia untuk dilangsungkan. Pak Irham meyodorkan tangannya dan Ervin menyambut dengan jantung yang semakin tak karuan saja. Belum juga membaca ijab, keringat sudah mengucur di punggung Ervin.
‘Semoga saja dokter Ervin lancar dalam membacakan ija qabulnya.’ Laura bermonolog dalam hati.
“Saya nikah dan kawinkan putri saya bernama Laura Laurisa Irham dengan mas kawin satu set perhiasan, seperangkat alat sholat lengkap dan juga uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Laura Laurisa Irham binti Irham dengan mask kawin tersebut dibayar ... TUNAI.”
__ADS_1
“Bagaimana para saksi, SAH?”
“SAH...”
Setelah mengucapkan alhamdulillah kini, pembacaan doa pun telah dibacakan oleh pak penghulu untuk kedua mempelai.
Setelahnya dilanjut dengan menghadirkan pengantin perempuan untuk dipersilahkan duduk di samping mempelai laki-laki.
Dengan langkah anggun, Laura dituntun menuju ke tempat Ervin berada.
“Mari mas Ervin, silahkan dibacakan dulu doa untuk pengantin perempuan.” Ervin mengangguk.
Ervin dan Laura saling berhadapan, sejenak saling pandang satu sama lain. Lalu, Ervin menyodorkan tangannya dan Laura menyambut dengan malu-malu.
Ada sesuatu yang menjalar ke tubuh saat Laura mencium punggung tangan Ervin. Kedua nya merasakan debran hebat yang tidak bisa dikontrol dengan mudah.
“Mohon ijinmu, Laura.” Laura yang mengerti maksud Ervin hanya mengangguk pelan.
Ervin meletakkan tangan kanannya di atas ubun-ubun Laura lalu, Ervin mulai membacakan doa. Setelah itu, Ervin menangakup wajah Laura dan mulai menempelkan bibirnya di kening Laura.
Rasanya telah berbeda, ada hawa panas yang menjalar hingga ke syaraf. Cukup lama Ervin mengecup kening Laura, hingga membuat laura nampak tersipu malu. Tetapi, juga mau karena Laura merasa nyaman dan nikmat saat bibir lembut Ervin masih menempel di sana.
Acara romantis dari sang pengantin pun telah usai, kini dilanjut dengan menikmati hidangan yang sudah tersaji di setiap meja. Ada beberapa makanan ringan dan juga nasi beserta lauk pauk yang bisanya disajikan saat ada hajatan.
“Tidak ada ucapan terimakasih dalam ha itu Laura, karena saya sudah memiliki tujuan yang diridhoi oleh Allah. Nyatanya ... Allah sudah melancarkan acar kita hari ini. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.” Ervin memegang tangan Laura dan mengusapnya lembut.
“Boleh aku menciumnya?” tanya Ervin memastikan.
Dengan malu-mau Laura pun mengangguk.
Tring ... Tring ... Tring ...
Tiba-tiba ponsel Ervin berdering, mengganggu waktu romantis yang baru saja diciptakan. Dan mau tidak mau Ervin harus menerima panggilan itu.
“Iam sorry, baby. Aku harus angkat telepon dulu.” Ervin menunjukkan layar ponselnya di depan Laura.
Laura terdiam, rasanya ia tidak percaya kalimat itu telah diucapkan oleh Ervin yang membuat Laura merasa terbang hingga langit ke tujuh. Dan dalam ketinggian itu Laura tak ingin terjatuh.
“Halo, dengan dokter Ervin disini.” Ervin tau itu panggilan dari rumah sakit.
“Iya, saya tahu itu. Tapi sebelumnya saya minta maaf sudah menganggu acara kamu, Ervin. Karena ini panggilan darurat. Kami kekurangan dokter, saat ini ada kecelakaan beruntun yang mengakibatkan beberapa korban mengalami cidera. Saya mohon datanglah bersama dokter Humaira.”
Ervin hapal dengan pemilik suara tersebut. Mengingat sumpah yang telah diucapkan saat kelulusan Ervin nampak bersemangat untuk terjun ke dunia medis. Akan tetapi, mengingat saat itu adalah acara pernikahannya Ervin merasa bimbang.
“Siapa? Ada apa?” tanya Laura tanpa bicara.
__ADS_1
Ervin menghampiri Laura dan mendekat. Lalu, Ervin mengatakan semuanya pada Laura siapa dan tujuannya apa menghubunginya. Karena Ervin tidak mau jika tak jujur pada Laura yang ini sudah menyandang status sebagai istrinya. Perempuan yang akan selalu membersamainya sampai nanti, sampai waktu yang tidak menentu.
“Kamu ... Akan pergi, ya?”
Ervin menarik napas panjang kala pertanyaan itu terlontar dari bibir Laura.
“Jadilah seseorang yang memiliki pikiran baik. Tetaplah berprasangka baik kala diri ini tidak berada di sampingmu, menjamahmu dalam dekapan kehangatan.”
“Aku akan pergi, karena ini panggilan darurat. Dan itu adalah pekerjaanku, pekerjaan suamimu. Dukung aku dalam setiap lagkah menuju kebaikan, ingatkan aku saat langkah ini adalah langkah buruk. Percayalah! Aku akan segera pulang setelah menyelesaikan pekerjaan ini.”
Laura mencerna setiap kata yang diucapkan Ervin. Sebenarnya hatinya tak ikhlas saat indahnya pengantin baru justru terunda karena Ervin harus pergi.
‘Mungkin ini adalah resiko menjadi istri seorang dokter. Dan aku harus ... Menerima itu.’
Hening ...
“Ervin, emm ... Maaf sudah menganggu kalian. Tadi, aku mendapatkan panggilan dari rumah sakit. Apa ...kamu akan pergi, dokter Ervin?” tanya Humaira dengan ragu-ragu.
Sekali lagi Ervin menatap Laura, meminta ijin pada sang istri. Dan dengan berat hati Laura mengangguk_mengijinkan Ervin untuk pergi.
“Ijinkan aku sekali lagi,” ucap Ervin.
Laura yang mengerti maksud Ervin pun hanya mengangguk pasrah.
Setelah mendapatkan ijin dari Laura, Ervin kembali menangkup wajah Laura dan membacakan doa pengantin. Lalu turun ke bawah dan kembali menempelkan bibirnya di kening Laura.
Kecupan itupun mendarat dengan lembut dan cukup lama.
‘Ya ampun, bucin amat nih engantin baru. Baru tahu juga kalau dokter jutek yang nyebelin ini bisa romantis begitu.' Humaira bemonolog dalam hati.
Setelah berpamitan dengan semuanya, Ervin dan Humaira bersiap untuk menuju ke rumah sakit. Atas ijin Laura, Ervin dan Humaira hanya menaiki satu kendaraan saja tanpa berpisah.
“Kita naik motor begini?” tanya Ervin memastikan.
“Iya, cepat naik gih! Darurat ini, jangan kebanyakan berpikir napa,” jawab Humaira.
“Kamu yang nyetir? Kamu bisa nyetir?”
“Banyak tanya mulu deh, cepetan naik. Ingat ... DARURAT.” Humair memberi penekanan pada kalimatnya.
Dan mau tidak mau Ervin mengambil duduk di jok belakang. Lalu, motor pun melaju dengan kencang.
🌹🌹🌹
Maafkan saya ya up nya terlalu lama. Soalnya ada keadaan darurat yang begitu mendesak. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi like dan komen +++
__ADS_1