
...Jika cinta tidak bisa menyatukan kita dalam ikatan sakral, tak apa. Asalkan silaturahmi antara kita tetap terjaga dengan persahabatan yang terjalin, itupun sudah cukup untukku....
...----------------...
Sore yang sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB Ervin memutuskan untuk mencari udara segar seraya menuju masjid hendak menunaikan sholat ashar. Meskipun sedang bekerja sekalipun Ervin berusaha untuk tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang mulim. Kecuali jika, Ervin memimpin jalannya operasi darurat maka, ia harus mendahulukan nyawa pasiennya.
“Nemu koe pasti ati ambyar-ambyare”
[Ketemu kamu saat hati sakit-sakitnya]
“Pacar seng tak tresnani ninggal aku golek liane”
[Pacar yang kucintai meninggalknku mencari yang lain.]
Ervin mendendangkan lagu jawa yang lagi viral saat ini. Lagu yang diciptakan serta dinyanyikan oleh Gilga Sahid dengan judul lagu ‘Nemu’. Seolah Ervin begitu mendalami lagunya, hanya saja pada kenyataannya jodoh pun masih abu-abu. Belum nampak pangkal ujungnya.
“Dokter Ervin lagi ... Nyanyi?” tanya Alfan yang berjalan disamping Ervin.
“Hahaha, tidak. Saya lagi ... Baca doa, Fan.” Ervin nyengir saja.
Langkah Alfan terhenti, lelaki muda itu memikirkan kembali yang diucapkan Ervin.
‘Masa sih tadi baca doa. Lha tadi ada nadanya juga, memang begitu kali ya cara baca doa nya dokter Ervin.” Alfan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Menyadari jika Ervin sudah jauh Alfan pun segera membuyarkan pikirannya yang absurd. Lalu, ia berlari kecil menyusul Ervin yang hampir memasuki serambi Masjid.
...----------------...
“Dia... Memang Humaira, putriku. Iya, aku tidak mungkin salah lagi.” Bunda Rania begitu merasa yakin dalam hatinya.
Hatinya yang merasa jika benar bahwa Humaira adalah putrinya, bunda Rania bergegas mencari keberadaan dimana dokter Humaira berada.
Dan setelah berlarian menelusuri lorong rumah sakit akhirnya bunda Rania menemukan dokter Humaira yang berada di ruang mayat.
“Dokter Humaira,” panggil bunda rania.
Dokter Humaira yang baru saja keluar dari ruangan tersebut menoleh ke arah pemilik suara.
“Ah iya, Ibu. Ada apa ya memanggil saya? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter Humaira dengan sopan.
“Panggil saja dengan bunda. Karena ... Sebenarnya kamu adalah ...”
“Dokter Humaira, bisa kita bicara sebentar? Ini tentang korban kecelakaan atas nama Arlos.” Tiba-tiba ada dokter forensik lain yang datang dan menyela.
“Baik, Dok.” Dokter Humaira mengangguk. “Maaf ya Bu, saya masih ada pekerjaan lain jadi, saya permisi dulu! Jika ada sesuatu hal nanti bisa ditanyakan sama perawat yang bertugas.
__ADS_1
Pertemuan yang hanya satu kali membuat dokter Humaira tidak mengingat prtemuannya dengan bunda Rania saat berada di ruangan Laura. Hingga dokter Humaira pun pergi meninggalkan bunda Rania.
‘Jaraknya begitu dekat tapi ... Entah kenapa rasanya begitu jauh.’ Bunda Rania bermonolog dalam hati.
...----------------...
Hari sdah nampak gelap, Ervin yang masih berada di masjid menunggu adzan maghrib dikumandangkan sekaligus ikut sholat berjamaah dengan warga sekitar yang biasanya menunaikan sholat bersama.
“Dok.”
“Hmm,”
“Dokter Ervin.”
“Hmm,”
“Ya ampun Dok, jangan ham hem saja loh kalau dipnggil itu. Mbok ya lihat wajah saya yang ganteng ini,” sungut Alfan karena merasa kesal.
Ervin yang tetap fokus menatap layar ponsel pun seketika menoleh ke arah Alfan yang masih duduk di sampingnya.
“Memangnya ada apa sih, Fan? Apa ada yang penting, hm?” tanya Ervin.
“Itu loh, tadi saya lihat dokter Aurora kok ya berjalan berdua saja dengan dokter Abimana ya? Dokter Ervin apa tidak cemburu begitu?”
“Hahaha... Kenapa juga saya harus cemburu, Fan? Saya tidak akan cemburu karena hanya hal sepele, saya akan cemburu jika melihat perempuan yang bisa lebih dari saya.” Ervin tersenyum.
...----------------...
“Dokter Ervin mau kemana?”
“Mau pulang, Fan. Kenapa sih dari tadi tanya melulu kamu itu. Sudah ngikutin malah terlalu kepo pula,” ujar Ervin.
“Yaelah Dok, masa mau tahu saja tidak boleh. Kan, kita itu teman loh. Tidak baik juga kalau menolak pertemanan apalagi memutuskan tali silahturahmi.” Ervin hanya menggeleng saja.
Ervin mengabaikan Alfan, ia lebih memilih pergi ke ruangannya. Dan saat hendak membuka pintu Aurora tiba dan menyapanya.
Obrolan pun bergulir ala kadarnya, selayaknya seorang dokter yang sedang mendiskusikan masalah pasien mereka. Namun, di saat obrolan itu masih saja membahas pasien tiba-tiba rasa penasaran Ervin tentang yang diucapkan oleh Alfan tadi telah terbesit dalam benaknya.
“Ra, boleh aku bertanya?”
“Hm, mau tanya apa kamu?”
“Ini ... Masalah kamu dengan Abimana. Tadi siang aku lihat kamu dilamar ya sama Abimana?”
Deg.
__ADS_1
Rasanya untuk mengangkat kepalanya saja Aurora tidak sanggup, apalagi jika harus menatap wajah Ervin. Benar-benar tidak sanggup untuk Aurora lakukan detik berikutnya.
Hening ...
“Ra, kamu dengar aku bicara, kan?”
“Ha, iya. A-aku ... Tadi kamu tanya apa ya?” Aurora berusaha menetralkan hatinya.
Sebelum menjawab pertanyaan Aurora Ervin melepas senyumnya.
“Jangan ragu untuk menjawab, Ra.”
“Tatap aku!” pinta ERvin.
Sepersekian detik kemudian, Aurora memberanikan dirinya untuk menatap Ervin sesuai yang dipinta oleh Ervin.
“Dengarkan baik-baik. Jika cinta tidak bisa menyatukan kita dalam ikatan sakral, tak apa. Asalkan silaturahmi antara kita tetap terjaga dengan persahabatan yang terjalin, itupun sudah cukup untukku.”
“Jangan pernah berpikir jika persahabatan yang terjalin antara kita akan renggang setelah kamu memilih Abimana menjadi lelaki yang akan mendampingi hidupmu. Karena sampai kapanpun kita akantetap menjadi sahabat.”
“Jangan malu ataupun merasa tidak enak hati padaku, Ra. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita couple doctor, jika kita tidak bisa bersatu dalam dunia nyata ... Paling tidak kita bersatu dalam ruang operasi.”
Ervin berusaha menjaga perasaan Aurora, biar bagaimanapun juga eRvin tidak boleh egois. Hukum yang tidak bisa diterjang tak akan baik nantinya bagi kehidupan.
Mungkin, jalan takdir Ervin dan Auror memang hanya sebatas partner dalam bekerja dan juga sahabat saja. Tak akan bisa lebih dari itu. Dan Ervin cukup sadar, ia harus bisa menerima takdir yang sudah digariskan.
“Aku lihat... Cincinnya bagus itu. Aku ucapkan selamat ya untuk kamu dan juga Abimana.” Ervin tersenyum tipis.
Meskipun rasanya hati Ervin berdenyut nyeri dan hancur berkeping-keping tetapi, ia mencoba menahan sakit itu dan berusaha ikhlas.
Aurora mulai berkaca-kaca, rasanya ia tidak akan pernah menyangka jika Ervin bisa setegar itu. Sedangkan Aurora tahu betul bagaimana perasaan Ervin yang berpotek-potek seperti hatinya.
“Ra, kenapa kamu malah nangis sih? Jelek tahu, harusnya kamu itu bahagia. Sudah ah, jangan seperti itu! Takutnya kalau Abimana melihat malah Dia nanti mengira aku lagi yang buat calon istrinya menangis.” Ervin terkekeh.
Aurora menyeka air matanya seraya tertawa kecil. Aurora tahu bahwa Ervin bukanlah lelaki yang akan memetingkan egonya dan bahkan bertindak jauh dari nalar. Hal itulah yang membuat Aurora merasa kagum dengan sosok Ervin.
...----------------...
Ervin sudah bersiap untuk mengendarai motornya, akan tetapi tiba-tiba saja Ervin merasa ada yang aneh dengan motornya tersebut. Hingga ia pun turun dari motor dan kembali mengecek ulang.
“Yah, kok kempes sih ban nya. Bagaimana ini coba, mana tidak ada angkot lagi. Dan tidak mungin juga jika, aku meminta bang Jamal untuk menjeput ke rumah sakit.” Ervin mendesah lesu.
Pasalnya hampir seharian penh ia sudah ditepa masalah dan waktu akan pulang pun masih saja diuji kesabarannya.
Tin...Tin...
__ADS_1
Terdengar suara klakson mobil menyapa Ervin dan membuat Ervin tidak percaya dengan orang yang menjadi sopir mobil tersebut. Di mana sang pemilik mobil telah menawarkan dirinya tumpangan ... Gratis.
🌹🌹🌹