Couple Doctor

Couple Doctor
Menjaga Hati


__ADS_3

...Mungkin hati memang tidak bisa mendengar tetapi, hati bisa berbicara dan merasakan terutama saat kita merasa... sedih....


...----------------...


Deg.


Aurora menatap kejadian yang terlihat di depan matanya. Dan terasa saat itu juga jantung perempuan bermata biru itu seolah berhenti berdetak kala ia melihat darah yang mengucur deras di tubuh papa nya.


Preman itu tak hanya sampai di sana, masih ada yang diincar dan tak lain adalah Ervin. Dengan pistol yang sudah ditujukan secara tepat ke arah Ervin, peluru siap untuk diluncurkan.


Dor...


“Argghhh.” Ervin merintih kesakitan setelah peluri itu menyerempet lengannya saja.


Saat preman itu menekan pistolnya tiba-tiba saja kelompok rahasia dari anggota angkatan udara telah lebih dulu menembakkan pelurunya di lengan preman tersebut. Sehingga preman itu menembak Ervin tak terlalu parah.


Anggota rahasia itu mengepung ruang ICU, hingga lima preman itu tak bisa apapun kecuali, menyerah. Selain dikepung oleh anggota rahasia angkatan udara beberapa polisi jiga sudah standby di sana.


‘Ayo Ervin, tahan rasa sakitnya. Karena saat ini bukanlah ini yang menjadi tujuanmu, keselamatan Profesor Nathaniel jauh lebih penting untuk saat ini.’ Ervin bermonolog di dalam hati.


Ervin tidak mempedukikan lagi lengannya yang terasa ngilu karena tembakan itu. Bahkan darah yang mulai merembes membasahi kemeja putihnya ia abaikan, semata ingin menyelamatkan seorang yang berharga dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya tiada selain keluarga bang Jamal.


“Kalian tenangkan keluarga pasien, dan panggil perawat tim medis untuk segara menyiapkan ruang operasi. Cepat! Kita tidak memiliki waktu yang banyak, keselamatan Profesor Nathaniel harus kita utamakan.” Ervin memberikan perintah sesuai pemikirannya saja.


Dan perintah itupun diangguki oleh mereka tim perawat dan tim medis. Sesuai yang sudah diperintahkan, ketiga perawat menenangkan keluarga pasien dan memantau perkembangan selanjutnya dari pasien. Sedangkan tim bedah sudah menuju ke ruang oeparsi setelah Profesor Nathaniel dipindahkan di atas brankar.


“Cepat kalian berganti pakaian! Dokter anestesi, tolong bekerja sama denganku lagi. Jika aku punya salah bisa menegurku. Begitu juga dengan kalian.” Kembali mereka mengangguk_tanda mengitakan ucapan Ervin selalu dokter yang akan memimpin jalannya operasi.


Semua menuju ke ruang ganti hendak berganti pakaian yang steril. Setelahnya Ervin juga melakukan hal sama. Dan saat Ervin hendak masuk kedalam ruang operasi tiba-tiba saja tangan Aurora memegang lengan Ervin. Sepintas Ervin menghentikan langkahnya.


“Aku ingin ikut melakukan operasi itu. Aku mohon!” ucap Aurora dengan gemetar.


“Ingatlah peraturan di rumah sakit ini, Dokter Aurora. Keluarga pasien dilarang untuk membantu, jadi saya mohon tinggal saja dulu di luar dan menunggu.” Tatapan Ervin yang menajam, tetapi bukan tatapan yang disertai kemarahan.


“Tapi aku mau tahu di dalam, Dokter Ervin. Dan seharusnya Anda ingat, Aku juga dokter di rumah sakit ini. Aku janji, aku tidak akan bersikap profesional.” Aurora masih bersi keukeuh ingin masuk ke dalam ruang operasi.


‘Maafkan aku, Aurora. Tapi aku tidak bisa membiarkan kamu masuk. Ini demi penyelamatan.’ Monolog Ervin dalam hati.


Hening, sesaat terasa waktu telah berhenti. Ervin menatap jelas bagaimana Aurora yang sedang mengkhawatirkan kondisi Profesor Nathaniel, tak lain adalah papanya sendiri. Akan tetapi, Ervin akan tetap mengikuti peraturan yang ada di rumah sakit.


“Maafkan aku, Aurora. Aku tetap tidak bisa mengijinkanmu untuk ikut masuk.”


Ervin pun meninggalkan Aurora yang masih berdiri di sana. Saat berada di dalam, Ervin sesaat menoleh kembali ke belakang. Dan ternyata, Ervin sudah mendapati Aurora yang tengah dipeluk oleh Samudra. Dalam pelukan itu Ervin bisa melihat dengan jelas jika, keduanya memang sangatlah dekat.


‘Menjaga hati, itulah yang sedang aku lakukan saat ini Ya Allah, dari hamba-Mu. Makhluk yang engkau ciptakan dengan segala kecantikan yang ada padanya.’


‘Aurora, inilah yang tak bisa aku artikan cinta terhadapmu. Di satu sisi aku tak bisa melupakan Haura begitu saja. Dan di sisi lain, hatiku merasa sakit yang menusuk hingga qalbu terdalam saat melihatmu dengan lelaki itu.’


‘Namun, aku pasrah jika memang kita tak akan pernah berkisah dalam kenyataan ini. Paling tidak, kisahku dan kisahmu tercantum dalam sebuah buku.’


‘Aku cukup sadar diri dan hukum tabu tak akan pernah bisa kita terjang. Dan tugasku saat ini... aku akan menyelamatkan Profesor Nathaniel. Meskipun semua takdir hanya Allah Subhanahu wa ta'ala yang mengetahuinya.’


Hingga akhirnya pintu ruang operasi telah tertutup rapat, Ervin bersiap melakukan tugasnya untuk memberikan tindakan medis kepada Profesor Nathaniel.


Saat hendak memulai operasi tiba-tiba Ervin merasa tak pantas berdiri di depan pasien. Karena bagaimana pun putri Profesor Nathaniel bisa melihat proses operasinya menjadi seorang pengamat.


“Suster, tolong minta Dokter Aurora dan Letnan Samudra untuk menjadi pengamat.” Perawat itupun mengangguk tanpa suara.

__ADS_1


Sejenak Ervin melepas beban yang ada, mneghela napas panjang sebelum ia benar-benar memulai pembedahan.


Sepersekian detik kemudian, Ervin menutup kedua matanya sejenak setelahnya, ia pun sudah benar-benar siap.


Jeglek.


Lampu operasi telah menyala, tanda jika operasi benar-benar akan dimulai.


“Scalpel.”


Ervin mulai membelah dada Profesor Nathaniel, dan hebatnya Ervin tak memberikan bekas darah saat melakukan pembedahan. Hingga membuat takjub setiap tim yang melihatnya dengan nyata.


Ervin mulai mencari dimana peluru itu berada dengan menggunakan pinset. Alat operasi yang dikhususkan untuk menjepit. Tetapi, Ervin tak menemukan posisi peluru itu, bukan berarti Ervin menyerah begitu saja. Dan itu tanda jika Ervin harus lebih keras lagi dalam berjuang, dalam berperang dan dalamenajamkan kedua matanya saat berada di depan meja operasi.


“Saya tidak bisa menemukan pelurunya. Saya... akan merogoh nya.”


Tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, karena keselamatan pasien itu adalah utama yang harus mereka perjuangkan.


Ervin memejamkan mata, ia seolah tengah menerawang melalui bayangan. Dan setelah lima belas menit kemudian, akhirnya peluru yang hampir mengenai jantung telah ditemukan. Satu peluru berhasil dikeluarkan.


“Suster Kartika, biskah Anda menjahit lukanya di dada? Saya akan mencari peluru kedua dan ketiga yang ada di perut.” Perawat yang bernama Kartika itupun mengangguk, tanda jika perawat Kartika menyanggupi tugasnya yang belum usai.


Dan kembali Ervin mencari dua peluru yang masuk ke dalam perut Profesor Nathaniel dengan merogoh nya.


“Dokter, detak jantung pasien melemah.” Ervin menatap sekilas layar monitor defribilator.


“Lakukan tugas Anda dengan benar, dan saya akan melakukan tugas saya dengan benar. Jika tidak ingin memperburuk kesehatan pasien, maka jangan gugup saat berada di depan meja operasi.” Ervin menatap tajam dokter pendamping yang bertugas di bagian mesin defribilator.


Begitu tegas dan tajam, tetapi itulah yang seharusnya dilakuakn dokter yang profesional agar tidak merasa gugup. Jika gugup memenuhi diri, maka akan semakin memperburuk kondisi pasien saja.


Dan saat Ervin berjuang mencari titik dua peluru yang belum ditemukan itu, ada hati yang merasa waspada dengan keselamatan Profesor Nathaniel. Di balik pintu kaca yang menjadi pemisah antara ruang operasi dengan ruang pengamat ada Aurora yang menatap meja operasi dengan tajamnya. Bukan hanya Aurora saja tetapi, Letnan Samudra pun merasakan hal sama.


“Dan saat inilah aku menyadari jika hukum tabu tak bisa kita terjang bersama. Benar apa yang kamu katakan, Ervin.”


“Untukku agamaku, untukmu agamamu.”


“Dan sampai akhirnya jarak yang seperti inilah tak bisa kita kikis bersama.”


Air mata yang sudah jatuh kini semakin deras saja dan membasahi pipi Aurora. Saat kesedihan benar-benar menerpa, senyum yang kerap terukir menghiasi bibir pun nyaris tak terlihat lagi. Hanya harapan dari Tuhan nya lah yang bisa diucapkan Aurora dan Samudra.


Tak ingin kehilangan itulah yang dirasakan Aurora sebagai anak perempuan yang kurang akan kasih sayang tetapi, itu hanyalah pemikiran Aurora saja. Karena, sebagai seorang Profesor, jelas saja kesibukan selalu menghampiri sehingga hampir seharian tak bisa menemani Aurora walaupun hanya sekedar bertegur sapa.


“Maafkan aku, Pa. Aku salah dalam mengartikan kesibukanmu. Dan aku kini menyadari jika sebagai seorang dokter dan profesor tidak bisa berdiri tegak dan tidak bisa menatap semua orang dengan bangga saat mereka telah gagal menyelamatkan nyawa pasien setelah memberikan sepercik harapan kepada keluarga mereka.”


Aurora tak hentinya menatap ke arah Ervin yang berjuang dengan keras. Bahkan nampak jelas jika keringat telah mengucur membasahi seluruh tubuh Ervin. Hal itupun mengundang rasa iba dari seorang Aurora.


‘Ya Allah, mengapa begitu sulit menemukannya? Bismillah.’


Ervin kembali menutup kedua matanya, menerawang bagaimana bayangan organ itu. Dan sepuluh menit kemudian akhirnya dua peluru sekaligus bisa ditemukan.


“Alhamdulillah...” Sejenak Ervin menatap tim operasinya secara bergantian seraya mengulas senyum di balik masker yang menutupi mulutnya.


Setelah merasa berhasil, Ervin pun berbalik dan menatap kedua orang yang berdiri di balik kaca. Setelahnya, Ervin mengangkat jempolnya ke arah Aurora dan Samudra. Dan dari sana Ervin bisa melihat jika Aurora kembali tersenyum, begitu juga dengan Samudra yang memberikan anggukan pelan_tanda jika, Samudra memberikan kepercayaan penuh kepada Ervin.


“Kita lakukan tugas terakhir kita.” Semua mengangguk setuju.


“Pinset.”

__ADS_1


“Gunting bedah.”


Krekk.


Tugas telah selesai saat benang telah digunying dengan amat rapi. Berperang dengan jam yang terus berdetak kini sudah terlewati. Biarpun terasa melelahkan dan menegangkan tetapi, hal itulah yang membuat bangga dari seorang dokter ahli bedah.


“Pindahkan pasien ke ruang ICU!” titah Ervin pada perawat.


Ervin menuju ke ruang ganti dan mengganti bajunya. Saat mengangkat lengannya ia kembali teesadar jika ia tengah terluka. Peluru itu membuat lengan atas Ervin terluka dan jika tidak segera dijahit bisa saja akan infeksi.


“Arghh.” Ervin merintih kesakitan.


“Ternyata terkena luka tembak itu seperti ini ya!” ucap Ervin absurd.


Ervin tersenyum masam. Kembali terlintas bayangan Haura saat melindunginya dari tembakan itu. Yang membuat Haura kehilangan nyawanya di tempat kejadian. Dan saat itulah Ervin merasa jika, itu semua salahnya. Dan hanya bisa berandai jika, Haura tidak akan mengorbankan nyawanya maka, semuanya saat ini pasti akan baik-baik saja.


“Haura... Andai kau tidak ada di sana. Peluru itu akan masuk ke jantungku dan bukan jantungmu. Dan pasti kamu akan baik-baik saja.”


Ervin tidak bisa membendung air mata yang telah terbendung memenuhi pelupuk matanya. Dan sering air mata Ervin yang mengalir deras, darah yang keluar dari lengan Ervin pun ikut mengalir deras.


Namun, Ervin berusaha untuk menahannya. Walaupun terasa ngilu tetapi, hatinya justru lebih merasakan kesedihan, kehilangan, kekecewaan, kehancuran dan itu adalah titik kelemahan seorang Ervin Evano.


“Aku sudah cukup setia saat kita SMA dulu Haura. Tapi kenyatannya kau pergi tinggalkan aku hanya dengan alasan aku miskin. Dan saat semesta kembali mempertemukan kita, aku kembali tertampar kenyataan yang begitu pahit. Aku kehilanganmu untuk selamanya. Hiks... Hiks... Hiks...”


...----------------...


Di dalam ruangannya Ervin mencoba membersihkan lukanya dengan obat merah. Dan beberapa alat operasi telah disiapkan olehnya. Tak lain adalah, gunting bedah dan juga gak lupa benangnya.


“Arghh.” Kembali Ervin merintih saat kapas telah menekan kulit yang sobek itu.


“Kenapa sesulit ini sih mengobati luka sendiri? Harusnya kan, lebih gampang daripada mengobati orang lain. Lebih bisa berhati-hati pula, lah ini... susah.” Tidak hentinya Ervin mengumpat dalam hati.


Aurora yang melihat Ervin kesusahan merasa iba. Nyeri dan ngilu yang dirasakan Ervin seakan menular dalam dirinya. Dan Aurora pun tak tahan melihat hal itu.


“Jika susah seharusnya panggil dokter yang lain dan memintanya untuk menjahit. Bukan sok bisa seperti itu,” ucap Aurora yang mengejutkan Ervin.


“Hei, siapa yang mengijinkan mu untuk masuk? Tak lihat di papan yang menempel di pintu apa?” ketus Ervin.


Ya, seperti itulah yang sering dilakukan Ervin untuk menjaga hatinya dan menjaga hati Aurora agar tidak terjerat dalam cinta yang terlarang.


“Iya, aku sangat tahu yang tertulis di papan itu. Dokter Ervin spesialis jantung. Bukankah papan kita sama, hm?”


“Aku tahu, maaf jika lancang main masuk tanpa permisi. Tapi, aku hanya ingin membantumu saja. Tolong ijinkan aku menjahit lukamu itu.”


Hening...


Ervin merasa tak percaya jika ia akan mengiyakan tawaran Aurora yang diajukan baru saja. Pasalnya, jika ia mengiyakan maka jarak yang ada jelas saja akan terkikis hingga tak tersisa lagi. Karena, Ervin tahu betul bagaimana jarak pasien dan dokter saat menjahit luka.


Namun, Ervin menyadari satu hal jika benar adanya ia tidak bisa menjahit lukanya sendirian. Dan ia juga membutuhkan dokter lain untuk membantunya dalam menjahit luka yang membuat ngilu dan nyeri yang teramat di lengannya itu.


“Baiklah! Jika, memang kamu tidak membutuhkan bantuan ku maka, aku akan pergi. Maaf jika sudah mengganggu waktunya. Tapi... aku mengucapkan terimakasih padamu, Ervin. Terimakasih karena, sudah berusaha dengan keras menyelamatkan papa ku.”


Aurora siap melangkahkan kakinya pergi dari dalam ruangan Ervin. Akan tetapi, jauh dari nalarnya. Ervin memegang lengan Aurora yang membuat Aurora berhenti dan kembali berbalik.


“Aku tidak bisa menjahit nya sendiri. Jadi... bantukah aku menjahit lukanya.” Ervin tidak memberanikan dirinya untuk menatap wajah yang sendu itu karena terlalu lama menangis dan bersedih.


Dag... Dig... Dug...

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2