
...Dalam Islam sebelum mlakukan pekerjaan apapun wajib mengucapkan basmalah dan ketika pekerjaan itu sudah selesai maka diakhiri dengan kata hamdalah....
...----------------...
Aurora masih berdiri mematung, ia masih dipenuhi dengan kebingungan yang membuatnya penuh dengan tanda tanya. Pasalnya, Ervin masih tak kunjung meredakan tangisnya.
“Maaf jika saya menganggu, tapi ... Apa Dokter Ervin baik-bak saja? Jika masih kurang sehat Dokter Ervin sebaiknya istirahat saja,” ucap Aurora pelan.
Ervin seketika menghentikan tangisnya, lalu ia segera menyeka air mata yang mengalir. Setelahnya ia mendongak, menatap Aurora yang masih berdiri mematung di sampingnya.
“Emm... Saya tidak apa-apa kok, saya hanya... Merasa sedih saja mendengar kabar tentang penyakit yang dialami ibunya Fajar. Karena itu mengingtkan aku pada ibuku yang berpenyakitan.” Ervin berdiri lalu, mengulas senyum tipis untuk membuat Aurora tidak bingung lagi.
Aurora menghela napas lega jika memang Ervin tidak merasa kesakitan di lengannya ataupun merasa sakit yang lainnya yang membuat Ervin menangis setelah tiba-tiba tertawa.
“Bukannya Anda pernah bilang sama saya jika, Tuhan menghadirkan kehilangan bukan untuk ditangisi, melainkan mengajarkan kita untuk tidak terlalu dalam mencintai orang lain.”
“Dan setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.”
Aurora mengulas senyum untuk membalas senyum Ervin tadi. Sejenak rasa canggung menghampiri keduanya, sehingga keheningan telah menemani keduanya sesaat.
Namun, Aurora mengingat sesutu hal yang membuatnya harus kembali tatap muka dengan lawan bicaranya saat ini, tak lan adalah Ervin itu sendiri.
“Dokter Ervin, saya boleh bertanya?” tanya Aurora dengan hati-hati.
“Silahkan saja! Jika saya bisa menjawab maka saya akan menjawabnya tetapi jika tidak, maka saya akan angkat tangan.” Ervin mencoba mencairkan suasana.
Dag... Dig... Dug...
Ritme jantung Aurora mulai tidak beraturan saat ditatap Ervin melalui mata hitam khas orang Indonsia.
‘Oh my God! Tatapannya itu sungguh membuatku jatuh hatu padamu, Ervin. Tapi, aku cukup sadar jika kita tidak akan mungkin bersama.‹ Monolog Aurora dalam hati.
Aurora segera menghilangkan harapan yang seolah membumbung tinggi hingga ke awan, bahkan langit ke tujuh. Namun, ketika sadar dari harapan semu itu Aurora harus menghadapi kenyataan pahit yang membuat Aurora tertampar keras.
“Ehm, saya mau be1rtanya tentang hasil medis Bu Asfiyah. Apa Anda sudah tahu bagaimana kondisi medisnya, Dokter Ervin?” tanya Aurora memperjelas.
Sejenak Ervin terdiam, ia mencoba mengingat suatu hal yang ia lupakan sedari semalaman. Semenjak ia merasa kurang enak badan yang dikarenakan demam tinggi. Entah karena menahan rindu atau efek dari luka jahitan di lengannya.
“Emm, sepertinya aku belum sempat melihat hasil medis dari Bu Asfiyah karena demam semalam. Dan haslnya juga masih belum ku sentuh sama sekali, masih ada di atas meja ruanganku. Tapi... Aku masih mau menjenguk Profsor Nathaniel. Kata Alfan seperti itu,” terang Ervin.
“Oh begitu, ya sudah. Bagaimana kalau Anda lihat hasil medis beliau sekalian bertemu dengan Profesor Nathaniel. T-tapi, kalau tidak bisa juga tidak masalah kok,”
“Hahaha, justru itu ide yang bagus. Kita sebagai dokter ahli bedah jantung sekaligus berdiskusi jika itu memang penyakit serius. Kamu jangan ragu begitu kalau mau memberi saran. Dikira bukan dokter hebat nantinya,” ucap Ervin yang terkekeh.
__ADS_1
“Datanya bisa kamu ambil di atas meja ruanganku. Dan aku akan masuk dulu untuk menemui Profesor,” titah Ervin.
Ervin mengulas senyum yang membuat hati Aurora berbunga-bunga dan bunga tersebut dihinggapi banyak kupu-kupu yang beterbangan di sana.
Ervin melenggang pergi setelahnya Aurora membuyarkan lamunannya saat bersama Ervin. Lalu ia mengambil data medis Bu Asfiyah di ruangan Ervin.
...----------------...
Didalam ruangan yang di atas pintu berwarna putih bertuliskan Anggrek nomor 132. Obrolan bergulir begitu saja antara Profesor Nathaniel dengan Ervin. Namun, setelah Aurora masuk ke dalam dan ikut bergabuung dengan kedua orang yang sudah santai di sana, seketika topik pembicaraan pun berbeda.
“Ini sangat serius, dalam hasil medis Bu Asfiyah saya melihat ada penyempitan beberapa pembuluh darah yang menyuplai darah ke otot jantung. Apa analisis saya benar, Prof?” tanya Ervin meminta pendapat.
“Coba saya lihat dulu,” jawab Profesor Nathaniel.
Profesor Nathaniel meraih hasil X-ray tubuh Bu Asfiyah. Profesor Nathaniel menatap tajam lembaran kertas di tangannya.
“Saya rasa apa yang kamu katakan itu benar, Dokter Ervin. Lantas, apa yang harus kalian lakukan sebagai dokter bedah jantung ketika mendapatkan pasien yang seperti ini?”
Ervin maupun Aurora sama-sama diam. Mereka tengah berpikir hal yang harus mereka utamakan saat mendapatkan paisen yang memiliki penyakit jantung koroner. Apalagi jika keluarga pasien dari kalangan kurang mampu bisa jadi titik permasalahan. Karena biaya operasi jantungnya saja bisa sampai ratusan juta, belum lagi jika menginap sampai dua hari di ruang ICU maka, biaya yang akan dikeluarkan pihak keluarga semakin banyak. Tak hanya itu, belum lagi biaya obat dan rawat jalan setelah pulang dari rumah sakit.
“Kalau saya pribadi ... Saya akan mundur dari ruang operasi. Karena tanpa persetujuan pihak keluarga kita tidak akan bisa melakukan operasi tersebut.” Aurora mengutarakan pendapatnya.
“Saya kurang terima dengan pendapat Anda, Dokter Aurora. Bagi saya keselamatan pasien saya itu lebih penting dan memang harus diutamakan.”
Ervin terus saja membalas ucapan Aurora, karena baginya pendapat Aurora itu kurang tepat.
“Maaf, kita bisa meyakinkan pihak keluarga untuk membayar DP operasinya terlebih dahulu, sisanya mereka bisa nyicil. Kita tidak bisa mengabaikankesehatan pasien kita yang sudah terlanjur percaya dengan hasil kerja di rumah sakit ini. Jika kita mengabaikanya maka, sama saja kita membuat rumah sakit ini tidak lagi dianggap ramah dan nilainya nanti akan buruk.”
“Maka hal pertama yang kita lakukan sebagai calon dokter hebat harus bisa membuat Direktur rumah sakit ini melakukan keringannan dengan menjelaskan rincia yang ada. Setelah Direktur menyetujui maka, kita akan bertindak meyakinkan kepada keluarganya. Dan setelah semuanya setuju maka, kita bisa menjalakan operasinya dengan maksimal.”
Profesor Nathaniel merasa takjub dengan jalan pemikiran Ervin yang diambil dalam berargumen tentang pasien, keluarga dan direktur rumah sakit.
Bukan hanya Profesor Nathaniel saja yang berdecak kagum, bahkan Aurora sampai-sampai tidak berkedip saat Ervin menjelaskan hal tersebut di depannya.
‘Aduh, kenapa jadi begini sih? Harusnya aku semakin keras membuang rasa cinta yang aa di hati ini. Tapi kenyataannya justru sebaliknya, semakin besar saja cinta yang ada.’ Monolog Aurora dalam hati.
“Kamu benar Dokter Ervin, dan saya sebagai Profesor menyetujui semuanya. Dan bisakah kamu melakukannya demi pasien? Karena menurut hasil medis yang ada Bu Asfiyah harus segera menjalani operasinya. Kita tidak bisa mengabaikan hal semacam ini terlalu lama.” Profesor Nathaniel menatap tajam Ervin.
Hening...
Ervin nampak berpikir, pasalnya ia tidak bisa melakukan hal itu sampai beberapa hari karena, ia ingin mengambil cuti agar bisa bertandang ke kampung halaman. Sudah lama pula ia tidak bertandang ke desa, tempat ia lahir dan juga tempat Ibu-Bapaknya berpulang.
“Bagaimana Ervin? Apa kamu sanggup?” tanya Profesor Nathaniel memastikan.
__ADS_1
“Maafkan saya, saya tidak bisa melakukannya. Karena surat pengambilan cuti saya sudah terlanjur ditanda tangani. Maksimal, kan, saya tidak akan hadir ke rumah sakit sampai beberapa hari.” Ervin bukan tidak mau bertanggung jawab, tetapi waktu yang diberikan pihak rumah sakit tidak akan banyak.
“Begini saja, bagaimana jika Dokter Aurora saja yang melakukannya? Nanti akan ditemani oleh Dokter bedah jantung senior.”
Profesor Nathaniel pun menyetujui akan hal itu. Dan semua prosesnya segera dilakukan oleh Aurora dan satu dokter ahli bedah jantung senior.
...----------------...
Ervin sesampainya di rumah ia melepaskan rasa lelahnya selama dua hari terakhir kurang tidur, yang membuatnya jatuh sakit.
Ervin menatap langit-langit di kamarnya seraya memutar kembali obrolannya dengan Aurora sebelum ia memutuskan untuk kembali pulang.
Flashback On
Di tempat parkiran Aurora sengaja meghentikan Ervin yang hendak melajukan motor maticnya. Setelah berdiri di depan motor Ervin, Aurora merentangkan kedua tangannya.
“Jangan pergi dulu, Dokter Ervin! Saya masih membutuhkan Anda, sebentar saja. Saya mohon!” pinta Auora.
Dengan senang hati Ervin mengikuti Aurora yang mengajaknya kembali ke rooftop dan sejenak mengobrol bersama.
“Katakan apa yang akan kamu tanyakan padaku,” ucap Ervin dengan nada lembut.
“Aku... Sebenarnya ragu menjalankan operasi ini. Karena operasi ini adalah operasi pertamaku. Jika nanti aku melakukan kesalahan bagaimana?”
‘Sungguh perempuan yang aneh, tadi nyebut Anda, saya. Lah sekarang, kembali lagi aku dan kamu. Tapi... Ya, terserah Dia sajalah.’ Ervin bermonolog dalam hati.
Ervin sejenak menghela napas panjang. Setelah ia selesai merangkai kata yang pas dalam angannya untuk menjawab pertanyaan Aurora, ia pun menatap manik biru milik Aurora dengan taja. Dan tatapan itupun sejenak sempat mengunci satu sama lain.
“Perlu kamu tahu, calon dokter hebat bukanlah Dia yang ragu dalam bertindak, terutama ketika Dia sudah berada di depan meja operasi. Karena Dia lah yang mengendalikan semuanya.”
“Dan satu hal lagi. Dalam Islam sebelum melakukan pekerjaan apapun wajib mengucapkan basmalah dan ketika pekerjaan itu sudah selesai maka diakhiri dengan kata hamdalah. Jadi, kita sebagai perantara penyelamat bagi pasien akan dipermuddahkan dalam segala hal. Jika kamu menyembah Tuhanmu, maka berdoa lah padanya. Tapi sesungguhnya Tuhan itu hanyalah satu, Allah Subhanallah Wa ta'ala.”
Setelah Ervin menjelaskan sepemahamannya saja kepada Aurora, ia pun kembali menaiki jok motornya. Setelah itu, mesin motor telah dinyalakan lalu, melaju dengan kecepatan rendah. Karena mengingat lengan Ervin yang terluka maka, ia merasa sedikit kesulitan untuk menyetir.
Flashback Of
Ervin tersenyum tipis, tetapi dalam hatinya masih miris. Kenyataan lagi-lagi menamparnya amat keras jika, memang ia tidak akan pernah ditakdirkan bersama Aurora. Kecuali jika, Aurora mendapatkan hidayah.
“Ya Rabb... Sesungguhnya aku tak pernah tahu bagaimana jalan takdir yang Engkau pilihkan untukku. Tapi aku percaya jika, takdir itu adalah yang terbaik. Perihal jodoh dan kematian aku akan serahkan semua takdirku pada-Mu.”
Rasa harap masih melekat di dalam diri Ervin. Harapan setiap seorang hamba pasti tak luput dari yang baik.
Setelah melepas rasa lelah dan sudah menunaikan sholat dzuhur siang itu, Ervin segera berkemas hendak menuju kampung halaman. Akan tetapi, tiba-tiba ponsel Ervin berbunyi, menandakan jika ada notifikasi pesan masuk. Dan setelah membacanya, Ervin tak hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah Subhanallah Wa ta'alakarena sudah dipermudah tujuan baiknya.
__ADS_1
🌹🌹🌹