Couple Doctor

Couple Doctor
Dokter Kandungan!?


__ADS_3

...Lakukan tugasmu sebagaiman janji seorang dokter. Percayalah, sesulit apapun masalah kamu dalam bekerja nanti serahkan kepada Allah, karena itu salah satu bentuk ujian dari Allah untuk mengujimu seberapa sabar dan seberapa jeli kamu menghadapinya....


...----------------...


Ervin masih terdiam, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pemilik suara yang baru saja bicara tak lain adalah Bunda Rania. Sosok ibu yang pernah merasa kehilangan putrinya_Haura Hilya Nafisha.


“Bunda Rania, sejak kapan Bunda ada disini?” tanya Ervin setelahBunda Rania berdiri di sampingnya.


Bunda Rania mengulas senyum, ia menagkup wajah Ervin dan menatapnya dengan lekat.


“Sejak subuh tadi, kebetulan Bunda mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit. Dimana seorang Ibu yang sudah kamu selamatkan malam itu adalah adik Bunda yang kebetulan sedang berlibur di kota Medan.”


“Loh, yang benar Bun?” tanya Ervin nampak terkejut.


Bunda Rania mengangguk tanda jika itu kebenarannya, setelah itu bunda Rania meminta Ervin untuk menemaninya masuk ke dalam ruangan Bu Marianna.


Bu Marianna yang sedang menyusui sang buah hati pun seketika terkejut mendapati bunda Rania dan Ervin yang mengunjunginya.


“Eh, ada Dokter Ervin. Dan ... Mbak Rania juga datang.”

__ADS_1


“Iya dek, mbak semalam mendapatkan kabar dari rumah sakit. Mungkn selama hari kamu sibuk mengurusi aby twins, jadi tidak sempat memegang handphone.” Bunda Rania memang memiliki sifat penyabar, tak akan marah dengan permasalahn kecil samacam itu.


Bunda rania ikut mendekat saat baby perempuan sudah selesi disusui. Lalu, Bunda Rania menggendong baby perempuan itu, air mata tak bisa lepas dengan mudah saat Bunda Rania menatap lekat baby perempuan itu.


’Ervin tahu, jika Bunda menahan sedih. Ervin juga tahu Bun, dalam hati seorng Ibu pasti selalu merindukan putrinya. Dan perpisahan antara kalian aku lah yang menyebabkannya.’ Ervin ikut bersedih kala melihat Bunda Rania sedang megusap ujung matanya.


Ervin tak aka ikut bicara, biarlah kedua ibu itu merasakan hangatnya kebersamaan denganbaby twins. Dan tak lama kemudian kunjungan pagi tim medis telah masuk ke ruangan Bu Marianna.


“Selamat pagi, Ibu! Kami ijin memeriksa terlebih dahulu ya, Bu.” Perawat memeriksa seperti biasanya.


Sepsekian detik kemudian, dokter memeriksa detak jantung Bu Marianna dan juga memeriksa baby twins.


“Alhamdulillah, perkembangannya cukup bagus. Dan InsyaAllah nanti bisa pulang. Tetapi, ikuti perkembangan nantinya bagaimana ya, Bu.” Dokter memberikan keterangan.


Dokter kandungan tersebut pergi bersama dua perawat yang mengikuti kemana pun selanjutnya melakukan pemeriksaan. Sebelum melewati pintu, dokter lelaki muda yang usianya hampir sama dengan Ervin menatap Ervin dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sedangkan Ervin hanya membalas tatapan itu dengan senuman ramah. Karena Ervin merasa tak memiliki masalah apapun dengan dokter lelaki tersebut.


“Bun, Ervin ijin kerja dulu ya! Sudah waktunya untuk membuka jam kerja ini,” pamit Ervin.

__ADS_1


“Ok. Pesan Bunda cuma satu, lakukan tugasmu sebagaiman janji seorang dokter. Percayalah, sesulit apapun masalah kamu dalam bekerja nanti serahkan kepada Allah, karena itu salah satu bentuk ujian dari Allah untuk mengujimu seberapa sabar dan seberapa jeli kamu menghadapinya.” Ervin memberikan hormat seperti seorang militer yang menghormati atasannya dan selalu siap menjalankan tugas.


Bunda Rania tidak pernah menyalahkan Ervin atas meinggalnya Haura. Justru pertemuan kala itu membuat Bnda Rania menyadari kesalahan pak Haidar_suaminya yang sudah membuat kedua orang tua Ervin meninggal dunia meskipun kematian itu beselang beberapa hari.


Dan semenjak kepergian Haura untuk selamanya Bunda Rania menganggap bahwa Ervin adalah putranya. Hal sama juga dilakukan oleh Ervin, ia tidak menyimpan dendam pada keluarga Haura, hanya saja merasa sedikit kesal dengan kejahatan pak Haidar selama ini.


“Siap, Bun. Kalau begitu Ervin ke ruangan Ervin dulu ya! Nanti kalau Bunda ada perlu dengan Ervin telepon saja, Ervin akan menghampiri Bunda. Assalamualaikum.” Ervin mencium punggung tangan Bunda Rania.


Bunda Rania mengangguk, tanda jika menyetujui ucapan Ervin. Dan setelah menyalami BUnda Rania taklupa Ervin juga menyalami Bu Marianna.


...----------------...


Ervin hendak menerima pasien tetapi tiba-tiba saja dokter lelaki tak lain dokter kandungan yang memeriksa Bu Marianna tadi masuk ke ruangannya.


“Dokter Abimana. Apa Anda ... Ada perlu dengan saya sampai-sampai masuk ke ruangan saya?” tanya Ervin menyapa.


“Saa rasa ... Anda tidak harus bertanya, Dokter Ervin. Seharusnya Anda menyadari kesalahan Anda. Tapi kenyataannya,sudah lima hari Anda tidak datang keruangan saya untuk sekedar mengucapkan kata maaf kepada saya.” Dokter Abimana menatap tajam Ervin yang juga ikut berdiri.


Deg.

__ADS_1


Ervin tidak menyangka jika Dokter Abimana telah berpikir jika penyelamatan pasiennya malam itu adalah kesalahan yang diperbuat oleh Ervin. Dan Ervin berpikir bahwa itu tugas seorang dokter yang harus dilakukan jika ada pasien darurat. Sedangkan malam itu dokter Abimana tidak ada di rumah sakit dan entah dimana keberadaannya.


🌹🌹🌹


__ADS_2