Couple Doctor

Couple Doctor
Pesan Untukmu


__ADS_3

...Perihal cinta, tak semua hubungan harus di awali dengan cinta. Asalkan Allah ridho maka Allah akan mendatangkan cinta dalam dua hati yang sudah terikat dengan janji suci....


...----------------...


Deg.


Ada rasa yang berdebar di dalam hati, entah bahagia atau rasa sedih. Sang pemilik hati pun kembali meragu, kendati ia tidak memiliki hubungan yang lebih dengan Ervin. Pertemuan pun jarang terjadi jika tidak waktu ke rumah sakit dan juga sore itu.


‘Apa Dia ... Benar-benar ingin enikahiku yang ... Penyakitan?’ gumam Laura.


Tidak sengaja Laura mendengar percakapan antara kedua orang tuanya dengan Ervin saat ia sedang menuju ke dapur hendak mengambil air putih.


“Baik, Nak. Biar tante saja yang panggilkan.” Bu Veronica pun menuju ke kamar Laura.


Sedangkan Laura yang mendengar pun segera berlari menuju ke kamarnya. Ia berpura-pura tidak tahu menahu tentang tujuan Ervin yang melamarnya.


“Ma, Laura tidak yakin jika dokter Ervin benar-benar ingin menikah dengan Laura.Cinta saja tidak, bagaimana mau menikah sama Laura.” Laura menolak bertemu dengan Ervin.


Bu veronica menghela napas panjang, menimang kembli apa yang diucapkan Laura. Dan bu Veronica pun mengiyakan kebenarannya, tak mudah memulai hubungan tanpa cinta.


“Maafkan saya, nak Ervin. Laura .. Tidak mau menemui kamu karena Dia tidak mempercayai jika nak Ervin benar-benar ingin menikah dengannya.”


“Tolong sampaikan pesan saya untuknya. Temui saya sekarang, setidaknya dengarkan saja dulu apa yang ingin saya sampaikan padanya. Bukan menolak tanpa saling tatap dan sua.” Kembali Ervin memohon.


Pak Irham dan bu Veronica saling pandang. Lalu, pa Irham memberikan anggukan pada bu Veronica sebagai tanda mengiyakan permintaan Ervin.


“Baiklah! Tunggu sebentar.”


Bu Veronica kembali menuju ke kamar Laura dan menyamoaikan pesan Ervin pada Laura.


Perlahan Laura pun berjalan dengangontai mengekori bu Veronica yang berjalan di depannya. Lalu, mengambil duduk di posisi tengah, diapit oleh pak Irham dan bu Veronica.


“Katakan apa tujuanmu datang kesini, Dokter Ervin?” tanya Laura to the point.


‘Judes dan julid amat jadi wanita. Tidak ada lembut-lembutnya sama seki. Harusnya itu bersyukur, lah ini malah sombong.’ Bang Jamal mengumpat dalam hati.


Hening...


Ervin kembali menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Laura.


“Saya, Ervin Evano yang bekerja sebagai dokter ingin melamar putri dari bapak Irham, Laura Laurisa Irham. Dan kepada Laura, apakah menyetujui lamaran yang saya ajukan ini? Tolong berikan saya jawaban.” Ervin mengucapkan dengan nada tegas dan tanpa ragu sama sekali.


Hening ...


Trakk... Trakk... Trakk...


Terdengar seseorang tengah berjalan menuju ke ruang tamu. Dan tiba-tiba menolak lamaran Ervin.


“Ervin, bukannya sudah aku kirim pesan untuk mu. Tapi kenapa masih saja kamu datang kemari?” ketus Humaira.


Semua mata pun tertuju ke arah Humaira yang baru saja hadir di tengah-tengah suasana yang menegangkan. Pasalnya, selama seharian penuh Ervin tidak saling bertegur sapa dengan Humaira di rumah sakit, sehingga Humaira tidak tahu menahu tentang rencana Ervin.

__ADS_1


“Kenapa Humaira? Tujuanku hanya ingin bertemu dengan adikmu, melamarnya dan ... Jika lamaranku diterima maka akan ada pernikahan tanpa adanya zina mata, zina hati bahkan ... Zina perbuatan.”


“Dan satu pesan untuk mu, Laura. Perihal cinta, tak semua hubungan harus di awali dengan cinta. Asalkan Allah ridho maka Allah akan mendatangkan cinta dalam dua hati yang sudah terikat dengan janji suci.”


“Bagaimana Umaira, apa apa jawabanmu atas lamaranku?”


Deg.


Suara lantang dan tegas Ervin dengan suara khas baritonnya mmpu membuat Laura menatap tanpa berkedip. Seolah tatapan yang sedetik bertemu mampu membuat Laura terhipnotis.


Namun, Laura masih meragukan lamaran itu. Bukan bermaksud ingin menolak tetapi, Laura tahu betul dengan kondisinya saat ini.


“Sebelum aku menjawabnya aku mau mengajukan pertanyaan kepadamu, Dokter Ervin.”


Kedua alis Ervin berkerut, ia mencoba menerawang apa yang akan dipertanyakan sama Laura padanya.


“Silahkan!” balas Ervin dengan singkat.


Semua yang ada di sana ikut penasaran dengan apa yang akan dipertanyakan Laura pada Ervin. Jika ketampanan, itupun sudah jelas ada pada Ervin, jika itu kekeyaan ... Masih membutuhkan proses untuk mendapatkan kekayaan dunia dan akhirat dan ... Jika cinta, sudah terjawab dari tadi.


“Anda tahu kondisi saya, jantung yang tidak normal dan bahkan ... bisa saja saya tidak bisa memberikan kamu keturunan jika pernikahan tetap terjadi. Lantas ... Apa dokter Ervin masih mau menerima saya tanpa menuntut apapun.” Laura menyembunyikan rasa kecewanya jika gagal.


“Kita hanya manusia, sekenario terbaik dalam hidup hanya Allah yang mengaturnya. Dan selebihnya ... Qadarallah, Allah yang menentukan.” Ervin menjawab dengan hati yang jauh lebih tenang dan mantap.


Tidak mau menyia-nyiakan lelaki yang menurut Laura itu adalah versi terbaik yang sudah dihadirkan dalam hidupnya untuk yang kedua kali. Sehingga Laura menerima lamaran Evin. Bahkan saat itu juga acara ijab qabul telah ditentukan dengan kesepakatan dua belah pihak. Keluarga Ervin berusaha ikhlas menerima keputusan Ervin, meskipun rasanya itu begitu tidak adil bagi mereka untuk Ervin.


“Alhmdulillah,” pekik Ervin.


Setelah selesai mengutarakan niat baik, keluarga Laura mempersilahkan keluarga Ervin untuk menikmati hidangan yang tersaji. Meskipun tidak banyak karena, sebelumnya juga tdak ada persiapan tetapi, masih bisa untuk mengisi acara selanjutnya dengan bersantai.


...----------------...


Ervin menatap langit yang gelap, langit yang tidak dihiasi oleh jagat raya. Seolah angkasa telah kehilangan auroranya. Seperti halnya dengan kisah Ervin saat ini.


“Ra, kita benar terpisahkan untuk selamanya ya. Aku akan menikah sama perempuan yang kupilih. Begitu halnya dengan kamu, semoga kamu bahagia dengan Abimana.” Ervin tersenyum kecut.


Bukan menyesali apa yang sudah terjadi, hanya saja Ervin mengenang masa itu. Masa ketika ia membuka hatinya kembali setelah dipatahkn oleh Haura. Namun semesta berkata lain, cinta itu tak harus dimiliki untuk dipersatukan karena sebuah perbendaan yang amat sensitif jika di terjang.


“Good night Ra.”


Ervin masuk ke dalam karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Di mana sudah tengah malam dan Ervin juga membutuhkan waktu untuk istirahat setelah tubuhnya bekerja seharian, setelah pikirannya dikuras saat berdaa di meja operasi dan saat berada di rumah Laura.


...----------------...


Di sepertiga malam yang ketiga, Ervin bangun hendak menunaikan sholat sunnah tahajud. Meskipun sudah tumbuh dewasa tetapi, Ervin tidak pernah lupa untuk tetap menjalankan yang sunnah maupun wajib. Kebiasaan yang ditanamkan sedari kecil mmbuat Ervin selalu menghapalnya hingga saat ini.


Setelah mengambil ai wudhu Ervin merasa wajahnya kembali segar dan pandangannya pun tidak buram seperti habis bangun tidur.


“Allahu akbar.”


Ervin mengucapkan takbir setelah sajadah panjang ia bentangkan.

__ADS_1


“Ya Allah Ya Rabb... Kembali hamba mengadu dalam sepertiga malamku. Mengadu tentang bagaimana hidup ini yang tidak semulus dengan harapan hamba. Awalnya pilihan itu terasa sulit tapi, lapangkan dada hamba dan berikan hamba kesabaran hati dalam menerimanya.”


“Laura Laurisa Irham, nama yang ingin hamba sebut dengan indah saat ijab qabul nanti. Semoga Engkau meridhoi nya Ya Rabb. Aamiin.”


Saat tangan telah menengadah terlintas bayangan sang ibu yang selalu memberikannya kekuatan dan selalu menyayanginya kembali terlintas. Hingga Ervin tak kuasa menhaan air matanya untuk tidak jatuh ke bumi.


“Ibu... Ervin rindu sama Ibu. Hiks... Hiks...”


“Pak, doa kan Ervin agar Ervin menjadi lelaki yang kuat seperti bapak. Yang menjaga istrinya setulus hati.” Ervin menyeka air matanya.


Setelah usai meratap, Ervin memutuskan untuk membaca mushaf sambil menunggu adzan subuh dikumandangkan.


“Aku tak akan biarkan kamu tersesat, karena aku sangat menyayangimu.” Sekilas Ervin mengingat kata-kata romantis dari Allah.


Karena Ervin yang tidak ingin tersesat dalam sebuah lubang yang dalam ia pun memutuskan untuk membaca surat Al-Azhab ayat:43.


“Bismillahirrahmanirrahim...”


“Huwallażī yuṣallī 'alaikum wa malā`ikatuhụ liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa kāna bil-mu`minīna raḥīmā (QS. 33:43).”


Surat itupun memiliki makna bagi hamba yang membacanya. ‘‘Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”


Ervin tersenyum setelah usai membaca ayat tersebut. Dan tidak lama kemudian suara adzan subuh telah dikumandangkan. Lalu, Ervin kembali berdiri dan menunaikan sholat dua rakaat.


...----------------...


Setelah sarapan pagi bersama Ervin mengantarkan bunda Rania ke rumah sakit sekalian ia berangkat bekerja di sana. Karena, bunda Rania harus cek up rutin dengan kesehatannya yang sering mengalami darah tinggi atau hipertensi.


“Kerjalah, Ervin. Bunda bisa sendiri kok, jangan terlalu khawatirkan bunda.”


“Tapi Bun, benar tidak apa-apa? Apa mending Ervin temani bunda saja ya masuk ke dalam. Takutnya...”


“Husstt. Tidak boleh berpikiran seperti itu. Ingat Ervin, kita tidak boleh mendahului takdir.”


“Astaghfirullahal azhim, maaf Bun. Ervin lupa.” Bunda Rania tersenyum seraya menggeleng kepala.


Dan akhirnya obrolan telah dihentikan ketika Rvin harus ke ruangannya. Sedangkan bunda Rania harus menunggu di ruang tunggu saat berada di ruangan yang akan memeriksa kondisinya.


“Suster, tolong siapkan hasil data dari korban kebakaran beberapa hari lalu. Karena saya ingin mempertenyakan sesuatu pada aggota keluarganya.” Suster pun mengangguk_mengiyakan permintaan Humaira.


Bunda rania yang tidak jauh dari sana pun bisa melihat Humairayang ada di sana bersama salah seorang perawat. Dan berhubung Humaira adalah dokter forensik jadi, yang diperiksa tak lain adalah mayat yang akan dilakukan autopsi.


“Putri bunda, Humaira Hilya Nafhisa. Kini kamu tumbuh dewaa nak. Bunda bersyukur kamu bisa jatuh dalam keluarga yang menyayangimu dengan tulus. Maafkan bunda, Nak.”


Bunda Rania mengusap sudut matanya yang mengembun.


Deg.


‘Putri? Apa maksud Bunda berkata seperti itu? Apa karena wajah mereka sama dan bunda menganggap jika Humaira adalah Haura?’


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2