
...Tali paling erat adalah tali persaudaraan. Dalam Islam telah mengajarkan untuk saling bertoleransi, saling menghargai dan tidak akan membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya....
...----------------...
Pada hari senin pagi Ervin sudah bersiap hendak beragkat ke rumah sakit dengan pakaian kemeja panjang berwarna biru tua dan dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam, yang membuatnya nampak tampan_penuh pesona dan gairah layaknya pria dewasa.
“Tak sarapan dulu kau, Ervin?” tanya kak Sita yang menyiapkan sarapan pagi di atas meja makan.
“Tidak saja, Kak. Soalnya Ervin mau bertemu sama seseorang terlebih dahulu.” Ervin pun mengucapkan salam setelah meneguk kopi hangatnya.
Alis kak Sita berkerut hanya bisa saling tatap dengan bang jamal. Pasalnya Ervin tidak menyebutkan dengan siapa akan bertemu. JIka seorang perempuan rasanya tidak mungkin, karena hati Ervin yang telah patah belum pulih. Tetapi, jika orang lain ... Entah siapa.
“Sudahlah! Jangan terlalu khawatir Dia akan bertemu dengan siapa. Percayalah! Ervin lelaki yang bisa menjaga batasannya jika bertemu dengan perempuan. Jika bertemu lelaki ... Abang yakin Ervin bisa menjaga diri jika, memang itu dipelukan.”
Kak Sita ynag sudah menganggap Ervin layaknya adik kandung, perempuan berkepala tiga puluh tahun itu hanya tidak menginginkan jika terjadi sesuatu dengan Ervin.
Kak Sita menghembuskan napas beratnya. Lalu, ia melenggang pergi dan melanjutkan aktivitasnya.
...----------------...
Di sebuah taman, Ervin menghentikan laju motornya di sana. Lau ia turun dari jok motornya dan masuk ke dalam taman. Kedua netranya menyapu area sekitar taman, seolah Ervin sedang mencari seseorang di sana.
“Ternyata di sana.” Ervin melangkah dan menghampiri seseorang yang memiliki temu janji dengannya.
Setelah berdiri tepat di belakang orang tersebut Ervin menyapa dengan lembut.
“Selamat pagi! Letnan Samudra.” terdengar tegas.
Letnan Samudra yang tadinya memunggungi Ervin seketika membalikkan tubuhnya, lalu menyambut kedatangan Ervin dengan senyum mengembang dari bibirnya.
“Selamat pagi juga, Dokter Ervin. Apa kabar kamu?”
Keduanya saling bersalaman.
“Alhamdulillah saya baik. Bagaimana dengan Letnan Samudra sendiri?”
“Saya juga baik. Tapi aku rasa ... Hatimu tidak sedang baik-baik saja, kan?”
Ervin tertawa kala mendengar pertanyaan Letnan Samudra. Ervin berusaha menyembunyikan luka yang masih membekas di hati dan perlahan akan menghilang rasa yang ada. Meskipun tidak tahu kapan akan terjadi.
“Tidak, kok. Hati saya juga baik-baik saja.”
__ADS_1
“Tidak usah berbohong secara berlebihan seperti itu. Karena saya sudah tahu semuanya,” ujar Letnan Samudra.
Ervin menghela napas panjang, memang terasa sulit untuk menyembunyikan masalah yang tertutup rapat dari Letnan Samudra yang menjadi sniper. Dimana seorang snier sudah pasti akan memiliki ketajaman mata. HIngga akhirnya Ervin tidak mampu lagi menutupi segalanya dan menceritakan semuanya pada Letnan Samudra.
“Andai kamu tahu, waktu pertama kali kita bertemu saya berharap bahwa kamu yang akan menjadi adik ipar saya. Tapi ...Ya sudahlah! Semoga kamu mendapatan perempuan yang lebih mencintai kamu nantinya, Dokter Ervin.” Letnan Samudra menepuk bahu Ervin dengan pelan.
Ervin mengangguk, “Ngomong-ngomong kenapa ya, Letnan Samudra mengajak saya bertemu di taman ini?”
“Saya hanya ingin berpamitan saja sama kamu, karena saya sudah menganggap kamu sebagai saudara sendiri.”
“Saya mau bertugas di Libanon selama tiga tahun. Dan saya akan berpesan satu hal sama kamu.”
“Tali paling erat adalah tali persaudaraan. Dalam Islam telah mengajarkan untuk saling bertoleransi, saling menghargai dan tidak akan membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya.”
Ervin masih mendengarkan saja apa yang diucapkan oleh letnan Samudra.
“Islam itu kuat. Meskipun saya bukanlah pemeluk agama islam ... Saya mohon sama kamu, tetaplah jaga tali persudaraan anatara kita, Dokter Ervin.”
Setelah dua puluh menit bertemu dan saling ngobrol satu sama lain kini, keduanya harus bersalaman dan berpamitan.
...----------------...
Sesampai di rumah sakit Ervin sudah dihadapkan dengan beberapa data pasien yang akan diajdwalkan operasi di hari itu. Sebagai dokter profesional Ervin tidak mau jika, fokusnya akan terbagi dua dengan perut yang belum diberi amunisi.
Terdengar suara pntu ruangan Ervin diketuk secara pelan.
“Masuk saja!” titah Ervin.
Tidak lama kemudian nampak dokter Humaira masuk ke dalam ruangan Ervin. Hal paling utama dilakukan setelah saling berjumpa tak lain adalah rasa canggung.
“Ada ... Apa?”
“Sebenarnya saya ... Saya mau memberikan sarapan ini untuk kamu sebagai permohonan maaf saya tempo hari yang membuat kamu kesal.” Humaira meletakkan sebuah rantang yang entah apa isi di dalamnya.
Ervin mengulas senyum. Tiba-tiba bayangan saat Ervin mengobrol di taman dengan Humaira terlintas kembali.
“Tidak perlu minta maaf. Lagipula itu semua bukanlah kesalahan kamu. Mungkin ... Kalian hanya mirip saja.”
“Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Lupakan saja semuanya! Dan ngomong-ngomong terimakasih makanannya,” Humaira mengangguk seraya mengulas senyum.
Humaira merasa lega setelah melihat bahwa Ervin tidak marah ataupun bersikap sungkan terhadapnya.
__ADS_1
Setelah meletakkan rantang tersebut Humaira berpamitan untuk melanjutkan pekerjaaanya_menjadi doter forensik. Begitu halnya dengan Ervin, setelah lima belas menit menyantap masakan dari Humaira ia segera besiap memasuki ruang operasi.
“Dokter, hari ini kita tidak mendapatkan asisten dokter. Apa ... Sebaiknya kita undur saja jadwal operasinya?” tanya suster Rani.
“Kenapa tidak dapat? Memangnya dokter Aurora kemana, hm?” Ervin berbalik bertanya.
“Dokter Aurora hari ini ijin tidak masuk pagi, karena ada perlu dengan dokter Abimana ... memilih cincin pernikahan katanya.” Suater Rani mengatakan dengan sangat hati-hati.
Pasalnya, suster Rani tahu betul bagaimana perasaan Ervin trhadap Aurora. Bahkan suster Rani juga tahu perasaan Aurora, keduanya memang saling cinta tetapi, cinta itu terhalang restu semesta.
‘Secepat itu Ra, kamu mengubah perasaan ini yang dulu cinta kini harus berubah biasa-biasa saja. Mengapa terasa sulit, Ya Allah.’
‘Berbahagialah kamu, wahai pujaan hati. Disini, aku akan selalu mendoakanmu yang terbaik.'
Setelah sejenak terdiam, Ervin mulai kembali berpikir tentang operasi yang akan dilangsungkan. Walau bagaimanapun pkeselamatan dan kesehatan pasien harus tetap diprioritaskan, meskipun ke depannya nanti tetap Allah yang menentukan.
“KIta akan tetap melakukan operasinya. Kita sebagai dokter dan perawat harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan pasien, bukan? Jadi, tanpa asisten dokter pun kita harus tetap melakukan operasi ini. Kita harus bisa bertanggungjawab dan harus bisa mengambil resikonya.” Ervin berucap dengan tegas.
Sebenarnya tim operasi itu ragu, pasalnya baru kali ini mereka akan melakukan operasi tanpa bantuan asisten dokter. Mungkin dalam bayangan mereka akan terasa sulit tetapi, mengingat apa yang diucapkan Ervin mereka mengakui jika itu benar.
“Dokter Ervin, bagaimana kalau nanti akan sulit dan malah membuat riuh saat operasi berjalan nanti?” tanya dokter Arimbi selaku dokter anestasi.
“Tenanglah! KIta punya tim, kita tidak akan merasa kesulitan atauapun riuh nantinya. Maka dari itu, kita harus bisa mengambil resikonya. Ingat! Demi pasien kita.” Ervin menatap tajam satu persatu timnya.
Setelah berpikir cukup panjang mereka pun mengiyakan kebenaran yang ada. Dan operasi pun akan tetap dilangsungkan meskipun tanpa asisten dokter disamping Ervin nantinya.
...----------------...
Semua alat sudah disiapkan, pasien pun sudah diberikan suntikan bius untuk menghilangkan rasa nyeri dan sakit saat dimulainya operasi. Setelah dirasa siap, operasi pun telah dimulai.
“Scalpel.”
Deg.
Ervin menghentikan sejenak ucapannya. Ia melaah kembali ucapannya itu. Dan baru tersadar bahwa ia tidak akan didampingi asisten dokter. Jadi, ia harus bisa mengambil alat-alat operasi yang diperlukan.
Ervin pun mengambil scalpel itu dengan tangannya sendiri. Setelahnya ... Dada pasien pun diberikan sayatan. Dengan usaha sendiri dalam mengambil alat medis, operasi dilangsungkan cukup lama dari biasanya.
Hal itupun membuat beberapa tim operasi tersebut merasa was-was, takut jika pasien mengalami kegagalan saat di meja operasi. Dan jika hal itu terjadi maka, besar kemungkinan pasien akan kehilangan nyawa.
Ervin masih berusaha melakukan yang terbaik untuk keselamatan paien. Dalam hati kecilnya terus melantunkan dzikir, meminta kepada Allah agar dipermudahkan dalam operasi tersebeut.
__ADS_1
Detik berikutnya, operasi masih saja berjalan. Waktu yang digunakan pun sudah lebih dari lima jam lamanya. Membuat yang lain semakin was-was saja.
🌹🌹🌹