
...Andai kau tahu aku melakukan itu semua karena aku tak mau mengulang kesalahan yang sama. Mungkin, aku adalah lelaki yang lemah....
...----------------...
Kebodohan apalgiyang akan terjadi dari perbuatan Ervin. Baru kemarin juga selesai permasalahan akan hal itu, tapi kini telah kembali lagi karena lisan tak pandai berucap dengan baik.
“Maaf, tapi aku tidak percaya dengan kata-kata dokter. Jadi, jangan sok perduli dengan urusan saya.” Laura terus mempertahankan dirinya tetap berada di lingkungan itu.
Ervin mengepalkan erat tangannya, ingin sekali marah pada gadis keras kepala itu. Tapi, Ervin tidak memiliki hakapapun untuk membawa pergi Laura secara paksa.
Namun ...
“Ayo pulang sekarang! Kakak yang akan memaksamu untuk pulang.” Humaira menggenggam erat tangan Laura.
“Dan kamu, Ervin. Lebih baik sekarang kamu pulag dan teangin diri kamu. Pikirkanlah baik-baik apa yang kamu ucapkan tadi. Jangan sampai kamu buat harapan palsu atau bahkan menjadikan adikku sebagai pelampiasan mu saja.” Humaira menatap tajam Ervin.
Lalu, melenggeng pergi di hadapan Ervin seraya menarik tangan Laura untuk pergi dari sana.
Sepersekian detik kemudian, Ervin ikut keluar dan berdiri sejenak di dekat motornya berada. Dan saat Ervin sudah siap untuk maljukan motornya membelah jalanan yang ada di kota Medan, ponselnya bergetar.
Dengan emosi yang belum bisa terkontrol Ervin merogoh saku celananya, memastikan pesan dari siapa yang masuk.
Bunda Rania [Assalamu'alaikum. Bunda sudah sampai di rumah kamu. Kapan pulang? Bunda juga sudah siapkan untuk makan malam loh ini bersama Sita. Cepat pulang gih!]
Dalam hati kecil Ervin melantukan istighfar berulangkali agar amarahnya bisa terjaga. Tidak mungkin jika pulang nanti menampakkan wajah masam dan wajah penuh kemarahan.
Setelah mengatur napasnya, Ervin membalas pesan dari Bunda Rania.
Ervin [Iya, ini masih mau jalan pulang, Bun. Sabar ya, tunggu Ervin.]
Dan setelah membalas pesan bunda Rania, Ervin beralih ke pesan yang baru saja masuk.
Dokter Jutek [Pikirkanlah dengan kepala dingin. Aku tahu kamu hanya tidak ingin terjadi sesuatu sama Laura dan aku ucapkan terimakasih atas rasa perdulimu itu. Tapi, aku mohon... Meskipun aku bukan kakak kandung Laura, aku akan meresa kecewa padamu jika kamu melukai hatinya.
Kedua alis Ervin berkerut, ia berusaha mencerna setiap kata yang tertullis dalam pesan Humaira. Sekilas Ervin merasa semuanya telah salah, tapi ... Jika, itu yang terbaik untuk semuanya maka Ervin akan berusaha ikhlas menerimatakdirnya.
Ervin tidak ingin membalas pesan dari Humaira. Terlalu kacau pikiran Ervin hari itu. Mengingat undangan yang diterimanya dan lisan yang tidak bertulang telah mengucapkan hal kebodohan. Dan kini hanya bisa merutukinya saja.
“Fokus dulu Ervin, ini di jalan. Lebih baik mencari masjid terdekat saja toh, sebenatr lagi waktu maghrib.” Ervin memejamkan kedua matanya sejenak.
Brum ...
Ervin melajukan motor scoopy nya dan membelah jalanan kota Medan. Dengan berusaha tetap fokus Ervin menelusuri setiap jalan.
...----------------...
Sesampai di rumah...
“Masuk sekarang juga!” titah Humaira.
Hening ...
Laura masih saja berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Laura, kakak bilang masuk ya masuk! Apa kamu tidak dengar perintah kakak, hah?” bentak Humaira.
Laura menghentakan kakinya di lantai, dengan wajah kesal Laura pun masuk ke dalam rumah. Dan setelah keduanya masuk kedatangan keduanya telah disambut oleh kedua orang tua mereka.
Binar mata sang ibu menyiratkan kekhawatiran. Begitu halnya dengan sang ayah. Seketika kedua paru baya itu menghampiri putrinya.
“Kamu tidak apa-apa Luara? Kamu kemana saja sih, Nak? Mama khawatir sama kamu.” Sang Mama memberikan pelukan.
Laura hanya diam saja, membungkam bibirnya dengan kebisuan. Humaira yang tidak bisa mengontrol amarah menvceritakan segalanya pada kedua orang tuanya.
...----------------...
Ervin memasuki masjid lalu, ia menuju ke tempat wudhu khusus untuk pria. Di sana lah Ervin membasuh wajahnya hingga merasakan kembali kesegaran dalam setiap air yang menetes.
Allahu akbar ...
Allahu akbar ...
Suara adzan telah dikumandangkan, memekik telinga pada sang pendengarnya. Sekitar sepuluh menit sudah adzan pun telah usai dikumandangkan, dan para jamaah pun menunaikan sholat sunnah seraya menunggu imam datang.
...----------------...
Ervin memarkirkan motornya di ruang kecil yang berada di samping kiri rumahnya. Anggap saja jika ruang itu adalah garasi karena, di sana ada dua motor yang terparkir yaitu, milik Ervin dan Raza.
“Assalamu'alaikum.” Ervin mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam,” jawab semuanya bersamaan.
Ervin melangkah menuju ke ruang keluarga krena, diyakini jika semuanya sedang berkumpul di sana. Dan Ervin pun menyalami para tetua.
“Iya, Bang.”
Ervin melangkah menuju ke kamar mandi setelah meletakkan tas dan ponselnya di atas nakas, dekat dengan ruang keluarga. Karena, tempat mandi dan kamarnya yang terpisah membuat Ervin tidak langsung ke kamar.
Ervin mulai membasahi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan air dingin agar pikirannya bisa jernih kembali setelah diterpa kepenanatan yang sudah membebaninya.
Byurrr...
Setelah lima belas menit sudah Ervin pun keluar dengan hanya memaki handuk yang membalut sebagian tubuhnya. Dengan kata sempurna saat air yang mengucur dari rambutnya kembali membasahi wajah putihnya.
“Ya Allah, bagaimana caraku mengatakan pada mereka tentang keputusanku? Aku pun juga tidak ingin melihat kesedihan pada Laura, aku ... Hanya tak ingin mengulang kesalahan yang sama.”
Ervin berkecak pinggang di depan almarinya. Kembali memikirkan yang terjadi sore tadi.
...----------------...
Di ruang makan mereka semua mengambil posisi yang nyaman. Tidak ada obrolan saat masih menyantap hidangan yang menjadi menu makan malam keluarga kecil itu.
Namun, setelah sepersekian detik kemudian ... Acara makan malam pun telah usai dan Ervin tiba-tiba mengudarakan suara.
“Besok ... Antarkan Ervin menemui keluarga Laura. Karena Ervin mau mengajukan lamaran.”
Semua mata tertuju pada Ervin yang masih setia duduk di tempatnya. Tatapan dari mereka pun tak bisa diartikan.
__ADS_1
“Ervin, jangan main-main Kau itu. Memangnya Kau mau ajukan lamaran untuk siapa?” tanya Bang Jamal.
“Laura. Ervin akan menikahi Lara secepatnya. Dan kalau bisa dalam waktu tiga atau dua harian ini Ervin sudah menikah dengan Laura.” Ervin mengucapkanya tanpa ragu sedikitpun.
“Bocah gendeng, bocah edan. Memangnya pernikahan itu buat mainanan? Sadar Ervin, baru kemarin Kau terjebak skandal sama keluarga Laura tentang hal sama. Lah ini, Kau justru mengulanginya lagi.” Darah bang Jamal pun sudah mendidih.
Ervin hanya diam, ia tahu betul bagaimana orang-orang yang perduli padanya suda bersusah payah membantunya keluar dari masalah pernikahan dengan Laura. Tapi kini, justru Ervin sendiri lah yang kembali menjebak dirinya dalam pernikahan itu.
“Iya Ervin, Bunda mohon jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Kembali pikirkan baik-baik dalam hal ini. Dan ... Apa yang mendorong kamu memilih keputusan itu? Bunda ingin tahu.”
Meskipun bukanlah ibu kandung Ervin, tetapi bunda Rania memiliki perasaan sayang dan perduli dengan kehidpan sekaligus masa depan Ervin.
Ervin menarik napas panjang. Lalu, ia pun mengatakan apa yang menjadi alasannya memilih keputusan menikahi Laura.
“Jujur ... Ervin berharap ini semua hanya sebuah mimpi saja. Mimpi buruk yang ingin Ervin akhiri dengan cara bangun.”
Semua diam mendengarkan ...
“Tapi sayangnya ... Ini bukan sebuah mimpi. Tapi kenyataan yang harus Ervin hadapi dengan hati yang tegar, sabar dan kuat.”
“Andai kalian tahu aku melakukan itu semua karena aku tak mau mengulang kesalahan yang sama. Mungkin, aku adalah lelaki yang lemah.”
“Tapi kalian tidak pernah tahu selama ini bagaimana caraku melawan kepahitan. Belum sempat aku bisa membahagiakan ibuku justrukematian yang lebih dulu merenggutnya. Hal sama juga terjadi pada Haura. Dan ... Ketika aku jatuh cinta tapi kenyataanya apa, aku juga harus kehilangan karena semesta tidak memberi restu. Hikss ... Hiks ...” Ervin menunduk, menyembunyikan air matanya yang sudah jatuh ke bumi.
Sejenak semuanya terdiam, mereka tahu selama ini Ervin mengalami kehidupan yang berliku, bahkan kisah cintanya pun juga berliku. Apalagi Ervin harus dihantui dengan rasa bersalah yang seolah mengikutinya setiap waktu.
“Tapi pernikahan bukan sebuah kisah yang bisa dipermainkan, Ervin. Tolomhg, pikirkanlah kembali sebelum semuanya terlambat.” Bunda Rania hanya tidak mau jika Ervin kembali mengalami kehidupan yang berliku.
Ervin menyerka air matanya dan kembali menegakkan pandangannya.
“Keputusan Ervin tetap sama. Ervin akan menikahi Laura. Tolong hargai keputusan Ervin.”
Ervin pun pergi, meninggalkan kursinya. Dan tidak ada yang bisa mencegah keputsan Ervin jika, itu benar-benar keputusannya.
...----------------...
Seiring waktu yang berlalu, hingga malam itu tiba waktunya. Di mana Ervin bersama bang Jamal, kak Sita dan bunda Rania telah bertandang di kediaman keluarga Irham dengan tujuan melamar Laura.
“Bismillah,” gumam Ervin.
Ervin pun melangkah lalu, ia pun mengetuk pintu secara pelan. Dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka dengan lebar.
“Assalamu'alaikum, Bu.” Ervin menyalami Bu Veronica.
“Waalaikumsalam. Mari masuk, nak Ervin dan semuanya,” ajak bu Veronica.
Ervin, bang jamal, Kak Sita dan bunda Rania duduk di atas sofa yang ada di sana. Dan Ervin tepat bertatapan dengan Pak Irham, tak lain ayah dari Laura.
“Ada apa nak Ervin datang kesini bersama keluarga semua? Apa ... Ada sesuatu hal yang penting?” tanya pak Irham.
Memang pak irham tidak tahu menahu tentang Evin yang memiliki niatan datang ke rumahnya. Pasalnya, Ervin juga tidak mengatakan apapun pada Laura maupun Humaira. Begitu halnya dengan Humaira, ia tidak pernah mengatakan apa yang terjadi sore itu.
“Ah iya, Pak Irham. Sebenarnya kedatangan saya bersama keluarga bermaksud untuk melamar Laura, putri Bapak dan Ibu. Dan apa ... saya bisa
__ADS_1
minta tolong untuk memanggilkan Laura sekarang juga?”
Deg.