
...Dunia ini begitu pelik, hingga terasa begitu menyesakkan dada. Butuh sebuah perjuangan agar diri tak mudah menyerah saat mengarungi dunia....
...----------------...
Laura menyiapkan pakaian untuk Ervin, jadi saat Ervin sudah keluar dari kamar mandi ia langsung bisa memakai pakaian sholatnya tanpa harus menyiapkan sendiri.
“Finally, selesai juga. Begitu terasa indah ya saat menyiapkan hal sekecil apapun untuknya. Tidak pernah aku bayangkan jika... dokter tampan yang dikagumi semua orang kini sudah menjadi suamiku.” Laura tersenyum bahagia.
“Kenapa tuh senyum-senyum sendirian begitu?”
Deg!
Jantung Laura seketika berdebar dengan begitu kencang saat deru napas yang ia rasakan telah menghangatkan. Suara bariton Ervin terdengar begitu merdu di telinga Laura, membuat Laura juga menahan napasnya.
“Bagaimana? Sudah siap, Dek?”
“Hah? Sudah siap apanya, Bang?”
Ervin tersenyum, ia tahu jika saat itu Laura masih belum fokus kemana arah perkataannya.
“Sholat bareng. Adek sudah sholat?”
“Oh, sudah kok. Tadi pas sebelum Abang pulang. Tinggal Abah saja itu yang belum sholat. Sudah gih sholat sana, terus siap-siap. Nanti malah terlambat lagi,” jawab Laura.
Laura segera menghindar dari hadapan Ervin, jika tidak ia akan terus merasakan debaran jantung yang sulit untuk dikontrol olehnya.
Ervin hanya menatap Laura yang sudah melenggang jauh dari hadapannya. Senyum yang terlukis di bibir pun tak pernah surut, terus mengembang dengan sempurna. Mengukir kisah yang terasa begitu bahagia.
“Gemilang cinta, semoga saja kisah cintaku terus seperti ini.”
“Dunia ini begitu pelik, hingga terasa begitu menyesakkan dada. Butuh sebuah perjuangan agar diri tak mudah menyerah saat mengarungi dunia.”
“Hingga Allah telah menghadirkan sosok perempuan yang tepat untuk ku. Laura Laurisa Irham, perempuan yang terpilih untuk membersamai ku.”
__ADS_1
Kembali Ervin tersenyum, memperlihatkan rasa syukur yang tiada tara. Meskipun kenyataan pahit akan ia hadapai lagi jika suatu saat nanti Laura kembali dihadapkan dengan sakitnya.
Senyum itupun perlahan memudar, Ervin segera membentangkan sajadahnya. Ia kembali menghadap sang penguasa, mengadu dan memanjatkan doa adalah sesuatu hal yang kerap dilakukan oleh seorang muslim dalam penghujung sujud mereka.
...----------------...
Setelah berada di sebuah gedung, di mana Ervin dan juga yang lainnya ikut menghadiri acara pernikahan Aurora dengan Abimanyu. Mereka disambut dengan acara yang memukau, gemilang cinta dari kedua mempelai memang belum nampak, karena mereka masih berada di sebuah gedung lain.
Pasalnya, di dalam gedung yang dihias dengan begitu megah, pernak-pernik lampu yang begitu memukau hanya akan dipakai untuk acara resepsi saja. Sedangkan peresmian pernikahan ada di sebuah gereja.
“Bang, mau makan kue itu.” Laura menunjuk sebuah kue yang ada di atas piring.
“Oh yang ada di sana. Kamu duduk saja, Abang akan ambilkan.”
Ervin pun mengambil beberapa kue yang tersaji di sana lalu, ia berikan pada Laura yang menginginkan kue tersebut.
Saat para tamu undangan dan beberapa kerabat yang memang di sana tengah sibuk menanti kedatangan sang mempelai tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dengan pakaian lusuhnya.
“Maaf Pak, disini ada acara penting. Mohon Bapak untuk tidak masuk ke dalam. Silahkan Bapak pergi saja!” pinta satpam yang menjaga di luar.
“Maaf ya Pak, sekali lagi saya mohon dengan sangat kepada Bapak untuk segera pergi. Mohon cari makanan di tempat lain saja.” Satpam itu menegaskan pada pemulung tersebut.
Laura yang melihat akan hal itu hatinya miris. Rasanya masa lalu itu kembali terulang, di mana ia pernah melihat hal yang sama. Dan ketika ia ingin menolong tetapi, sesi pemotretan kala itu akan berpindah tempat. Sehingga Laura tidak sempat untuk memberikan pertolongan apapun. Dan entah bagaimana nasib pemulung waktu itu yang ditemuinya.
“Abang, boleh tak jika aku bantu Bapak itu?”
Ervin sampai menoleh mendengar ucapan Laura. Rasanya Ervin tidak percaya saja dengan sikap lembut dan penolong dari seorang Laura. Karena saat melihat Laura maka akan tampak kehidupannya yang begitu glamor.
“Iya, silahkan! Apa perlu Abang temani kau, Dek?”
“Tak perlu, Bang. Aku bisa sendiri kok,” ucap Laura lalu, ia pun bergerak ke meja makanan.
Setelah mengambil beberapa kue Laura memberikannya pada pemulung yang berpakaian lusuh itu. Dan tanpa sengaja salah satu kameramen memprotes akan kejadian itu.
__ADS_1
“Tunggu! Anda bukankah Laura Laurisa Irham? Seorang model yang kini profesi Anda sedang surut itu, kan?”
Jleb!
Rasanya begitu nyeri mendengar ucapan wartawan itu. Walaupun memang kenyataan yang ada seperti itu tetapi, rasanya ada yang berbeda.
Di saat Laura masih beguyu tenar dalam profesinya banyak sekali orang yang memuji dan mengaguminya. Namun, ketika Laura jatuh jauh lebih banyakagi cibiran buruk yang ia dengar dari orang.
“Maaf! Dia memang Laura Laurisa Irham tapi, perlu Anda tahu jika profesinya tidak sedang surut. Hanya saja Laura harus mengurus dirinya demi suaminya. Dan hal itu membuat Laura tak banyak muncul di kamera ataupun media.” Ervin menggenggam erat tangan Laura.
Laura menoleh ke arah Ervin, ia benar-benar merasa dicintai oleh seseorang yang tak pernah ia kenal sebelumnya dengan ketulusan yang ada. Hal itu membuat cinta seorang Laura semakin bertambah terhadap Ervin.
“Waw! Ternyata Mbak Laura ini sudah menikah ya? Kira-kira suami Mbak Laura itu seperti apa ya? Maksud saya... pengusaha atau memiliki profesi lainnya?” berondong wartawan itu.
Ervin tersenyum miring, ia nampak kesal dengan pertanyaan yang menurutnya tidaklah bermutu sama sekali. Tetapi, Ervin menanggapi dengan sikap yang ramah, agar dunia juga tahu siapa suami Laura.
“Rasanya itu adalah sesuatu hal yang tidak harus kebanyakan orang tahu. Tapi, jika Anda memaksa maka saya akan mengatakannya.”
“Saya, Ervin Evano yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah jantung di rumah sakit ternama di kota Medan. Dan saat ini status saya adalah suami dari model ternama... Laura Laurisa Irham.”
Deg!
Gemilang cinta telah memberikan sinarnya kala sore itu terhadap pasangan pasutri yang masih berada dalam puncak kebahagiaan itu. Laura sampai dibuat berkaca-kaca saat mendengar pengakuan Ervin yang diucapkan dengan lantang dan tegas.
‘Kau... gemilang cinta yang akan terus menyinari hari-hariku yang kelam, Abang.’
Mendengar akan hal itu wartawan tersebut kembali meliput sebuah berita yang akan dijadikan trending topik dalam dunia intertaiman.
Dan setelah puas meliput berita tentang pernikahan Ervin dengan Laura kini kamera mereka semua mereka tujukan pada pasangan pasutri yang baru saja melamvsungkan pernikahan sesuai dengan agama mereka.
Dari ujung pintu Aurora dan Abimanyu memasuki gedung dengan berjalan gontai. Banyak tepuk tangan riuh menyambut kedatangan keduanya, begitu juga dengan senyuman sang mempelai yang diperlihatkan pada tamu yang ada... senyum bahagia.
‘Dunia ini begitu miris Ervin. Andai saja kamu yang ada disini, di sampingku... betapa bahagianya aku.’
__ADS_1
Bersambung...
🌹🌹🌹