Couple Doctor

Couple Doctor
Baju Biru


__ADS_3

...Kita hanya bisa memerankannya tanpa bisa mengubah sebagaimana peran kita. Suka ataupun tidak akan tetap kita jalani tanpa ada kata ...saya menyerah....


...----------------...


Tepat pada pukul 23.00 WIB di kota Medan, sudah jelas memperlihatkan suasana kota Medan yang sepi. Keheningan menyapa dalam setiap perjalanan kota tersebut tetapi, demi memenuhi pekerjaan salah seorang penghuni kota itu harus rela keluar malam dan menerjang sepi serta dinginnya angin malam yang menusuk hingga ke tulang.


“Masha Allah, kenapa malam ini begitu dingin ya,” ujar Ervin saat masih di perjalanan.


Meskipun sudah mengenakan jaket tebal tetapi, bagi Ervin rasa dinginnya masih saja terasa. Akan tetapi, Ervin justru mempercepat laju motornya dan menepis segala rasa yang ada bahkan, tulang-tulang Ervin serasa patah semua karena angin yang berhembus kencang menembus tubuhnya.


Ervin seketika menuju ke ruangannya setelah sampai di rumah sakit. Tidak lupa Ervin memakai snelinya lalu, ia mencari keberadaan tim operasinya.


“Suster Rani, apa sudah siap dengan peralatannya?” tanya Ervin.


“Sudah siap semuanya, Dok. Tinggal pasiennya saja yang belum di bawa ke ruangan.” Suster Rani memberikan keterangannya.


Ervin mengangguk, lalu ia pergi ke ruang operasi sekedar mengecek ulang peralatan yang tadinya sudah disiapkan. Ervin hanya tidak mau jika ada yang tertinggal ataupun salah satu peralatan medis tidak bisa berfungsi dengan baik. Pasalnya Ervin pernah terluka karena pasir bedah.


“Ok, semuanya sudah siap. Sekarang, perawat Alfan dan juga suster Rani bisa membawa pasien ke ruang operasi,” titah Ervin setelah di rasa semuanya siap.


“Siap! Dok.” Suster Rani dan Perawat Alfan mengangguk.


Tidak mau bertele dan membuang waktu dengan percuma, suster Rani dan Alfan segera melakukan tugas mereka sebelum pasien dibawa ke ruang operasi.


Sedangkan Ervin, ia saat ini berada di ruang ganti hendak mengganti pakaiannya.


“Dokter Ervin, ternyata... Anda selalu siaga ya,” ucap Aurora.


“Bukankah itu peran kita saat ini, Dokter Aurora. Siap siaga meskipun dalam keadaan apapun. Asalkan... kita tidak lemah saja pasti bisa siaga.”


Ervin melenggang pergi setelah mencuci tangannya. Karena Ervin tidak mau lagi jika harus terlalu dekat ataupun terjebak dalam cinta yang tidak seharusnya dengan Aurora. Cinta Ervin pun sudah dimiliki hanya satu perempuan yakni, istrinya sendiri.


Setelah semuanya siap, para tim medis juga sudah mengenakan baju biru khas mereka saat bertempur di depan meja operasi dan kini saatnya mereka beraksi dalam peran masing-masing.


Ervin meminta suster Rani untuk memberikan obat bius pada pasien. Setelah itu, Dokter Ibrahim bertugas sebagai dokter anestasi dan dokter Aurora sebagai asisten dokter.


Meskipun akan kerap bertemu dengan Aurora, Ervin tidak akan memberikan respon secara berlebihan. Ervin sadar akan siapa dirinya saat ini, menjaga jarak dan hati jauh lebih penting baginya agar tidak menimbulkan sebuah fitnah yang lain bahkan, terjadinya salah paham yang membuat Laura akan cemburu.


“Sambil menunggu obat biusnya bereaksi alangkah baiknya jika kita berdoa terlebih dahulu pada keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!”


Semua menunduk, berkomat-kamit membacakan doa sesuai agama masing-masing. Ada yang menengadahkan tangan dan ada juga yang hanya memegang dadanya sambil memejamkan mata.


“Kita bisa mulai sekarang.” Semua mengangguk.


Dimulai dari dokter Ibrahim, pengecekan pada detak jantung, tekanan darah dan beberapa lagi. Setelah semua dinyatakan normal, operasi siap dimulai.

__ADS_1


Ervin mulai melakukan tugasnya sebagai dokter bedah. Memberikan sayatan di dada agar jantung bisa terlihat dengan jelas. Ada sebuah layar dimana Ervin bisa melihat dengan jelas permasalahan yang ada pada jantung tersebut.


“Sedot.”


Darah yang menggumpal dan menyumbat saluran darah ke sisi lainnya segera disedot lalu, jantung yang masih mengalami luka segera ditutup dengan sesi terakhir... jahitan.


Dengan tatapan tajam, kedua tangan yang memegang benang dan jarum Ervin mulai melakukan jahitan yang dibantu oleh asisten dokter... Aurora.


“Kerja bagus untuk malam ini. Terimakasih atas kerjasama kalian semua.”


“Siap! Dok.”


Semua mengangguk kala Ervin menatap mereka dengan tatapan bangga. Setalah berdiri lamanya empat jam akhirnya Ervin dan tim medis lainnya bisa beristirahat kembali.


Sebelum pulang, Ervin mencuci tangannya_menjaga kebersihan yang ada pasca melakukan operasi. Lalu, tidak lupa Ervin juga melepas baju birunya dan mengganti dengan baju yang ia kenakan tadi.


“Aku lihat, wajah kau bugar sekali,” ungkap Alfan.


“Kalau bugar kenapa memangnya? Kau tahu kan, malam ini malam apa?”


Alfan terdiam, seolah ia tengah memikirkan ucapan Ervin.


“Hari kamis malam. Kenapa memangnya?”


“Ngomong sama yang belum baligh itu susah ya! Apalagi modelan nya begini.” Ervin menutup mulutnya menahan tawa.


Akan tetapi, kemanapun Ervin pergi Alfan selalu mengekorinya. Dan kali ini Ervin meluangkan waktu sejenak untuk mengunjungi Leon.


Seperti biasa, kedua orang tua Leon selalu standby menjaga di luar ruang ICU. Saat melihat Ervin tiba sambutan hangat telah diberikan pada Ervin.


Mengobrol sebentar cukup untuk sekedar mengobati rindu. Setelahnya Ervin kembali mengganti pakaiannya dengan baju biru saat hendak masuk ke ruang ICU.


“Assalamu'alaikum, selamat malam brother. Kapan sih kau akan bangun dan berceloteh panjang sepedti dulu? Apa kau tak bosan hanya berbaring saja di situ? Apa kasur itu masih membuatmu begitu nyaman? Come on Tara, aku dan semuanya menunggumu bangun.”


Tut... Tut... Tut...


Tidak ada pergerakan apapun untuk menjawab pertanyaan Ervin. Dan yang ada hanya bunyi monitor yang menandakan detak jantung Leon masih berfungi meskipun berdetak pelan.


Setelah memeriksa kondisi Leon, Ervin pun keluar. Dan di balik ruang ICU Ervin mendapati sosok bidadari cantik yang membuatnya jatuh hati sampai terperosok ke dasar hatinya yang terdalam.


“Kok... ada disini?” tanya Ervin. dengan mata membulat.


Seorang perempuan dengan penampilan terbarunya, mengenakan baju gamis berwarna biru dengan rambut yang masih tergerai. Namun, Ervin tidak pernah menuntut Laura untuk mengenakan hijab seketika menikah dengannya.


“Sengaja. Tadinya kan, tidak bisa tidur. Terus ya... nyusulin Abang deh kesini.” Laura tersenyum manis.

__ADS_1


“Cantik.” Ervin tanpa malu-malu memberikan pujian pada Laura di depan banyak orang.


Blush! Seketika kedua pipi Laura memerah layaknya memakai blush on. Akan tetapi, kali ini blush on nya normal, bukan dibuat-buat.


“Ya sudah, kalau begitu Dek Laura istirahat saja di ruangan Abang. Ini masih jam empat pagi.”


“Tapi, Dek Laura kesini sama siapa? Sendirian?”


“Tidak kok, Bang. Di antar sopir, soalnya papa sama mama tidak mengijinkan tadinya. Tapi... dengan alasan rindu berat jadi mereka mengijinkan dengan di antar sopir.”


“Sopir?” tanya Ervin menatap tajam Laura.


Laura mengangguk.


“Bang Jamal yang antar tadi, Bang. Jangan khawatir begitu,” jawab Laura santai.


Ervin tersenyum lega, khawatir yang membuatnya cemburu telah lenyap kala melihat bang Jamal dari ujung lorong rumah sakit.


Ervin mengusap puncak kepala Laura dengan lembut. Segala pujian yang berasal dari hati dan terucap melalui lisan yang lemes mampu membuat Laura berbunga-bunga.


...----------------...


“Bang, sebentar lagi kan adzan subuh. Bagaimana kalau kita... sholat bareng yuk! Soalnya ketagihan sholat berjamaah begitu, seperti di novel-novel islami yang romantis.” Laura tersenyum manis seraya membayangkan kehidupan layaknya di novel.


“Dek, biarpun dalam cerita pasti akan ada pahit dan manisnya kan? Masa iya selalu romantis.”


“Seperti halnya dengan kita. Kita hanya bisa memerankannya tanpa bisa mengubah sebagaimana peran kita. Suka ataupun tidak akan tetap kita jalani tanpa ada kata ...saya menyerah.”


“Pasti di novel islami yang tadi Dek Laura sebutkan awalnya mengalami kepahitan yang mengharuskan mereka untuk berjuang terlebih dahulu agar mereka bisa memiliki sisi romantis setelah bersatu.”


Allahu Akbar... Allahu Akbar...


Suara adzan telah berkumandang, Ervin dan Laura segera mengambil air wudhu dan menjalanlan sholat subuh bersama di mushola rumah sakit.


Dan ternyata saat Ervin menjadi imam ada sekitar lima orang membentuk shaf di belakangnya menjadi makmum.


‘Andai saja aku islam. Mungkin... aku bisa bersama kalian seperti ini.’ Aurora bermonolog dalam hati.


Tidak sengaja Aurora melintas di depan mushola dan mendaoati pemandangan yang menurutnya mampu memberikan kedamaian di dalam hatinya. Namun, sayang sekali Aurora hanya bisa memandang dari jarak kejauhan.


Bersambung....


🌹🌹🌹


Salam kenal dari penggemar Ervin Evano. Selamat mengenal sosok Ervin ya!

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga di novel saya yang lainnya.


__ADS_2