Couple Doctor

Couple Doctor
Takdir Yang Tak Sejalan


__ADS_3

...Jika aku tidak bisa menjamahmu dalam dekapan, jika aku tidak bisa menatapmu dalam dan jika aku tidak bisa bersamamu setiap waktu. Jangan khawatir, karena aku selalu menyebut namamu dalam setiap doa ku....


...----------------...


Dengan motor bermerek Ducati GP-16 dengan warna merah dan putih, Humaira mengenderainya dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat Ervin yang berada di jok belakang merasa ketakutan. Bahkan Ervin pun sampai berpegangan ... Bagian motor belakang.


“Jangan ngebut-ngebut dong! Takut ini aku nya tahu,” cicit Ervin di sepanjang jalan.


“Diam deh ah, jangan ganggu konsentrasi ku. Tenang saja, aku sudah ahli dalm begini dan bisa dijamin kamu akan selamat sampai tujuan. Dan ... Bisa bebas malam pertama nanti.” Humair terkekeh geli.


Ervin tidak menghiraukan ucapan humaira, pasalnya ia sudah berada di puncak tertinggi rasa takut yang melanda. Bisa-bisa jantungnya mencolos lebih dulu ketimbang menolong pasiennya nanti.


Bruummm ...


Humaira masih melajukan dengan kecepatan tinggi, hingga dalam waktu tempuh lima belas menit mereka pun sampai di rumh sakit.


“Tuh kan, apa aku bilang. Kta selamat sampai tujuan.” Humaira nyengir saja.


“Iya alhamdulillah kita selamat. Untungnya jantung aku tidak sampai copot duluan. Naik motor kok ugal-ugalan.” Ervin merasa kesal dengan tingkah Humaira.


Ervin melenggang pergi dari tempat parkir dan menuju ke ruangannya. Untung saja Ervin sudah ganti baju, sehingga tak ada yang tahu jika hari itu Ervin sudah melakukan ijab qabul.


Setelah memakai snelinya_sebagai tanda pengenal Ervin pun segera menuju ke IGD. Di mana pasien pertama kali diperiksa di sana.


“Akhirnya, Dokter Ervin sudah sampai juga.” Dokter Aurora mnyambut Ervin dengan napas lega.


“Iya. Mari kita lakukan pekerjaan kita!” titah Ervin.


Semua mengangguk, mereka standby menyambut korban kecelakaan selanjutnya yang masih bernyawa. Sedangkan yang dinyatakan sudah meninggal di tempat maka, akan segera di langsung menuju ke ruang mayat. Dan disana akan disambut oleh dokter forensik. Salah satunya adalah Humaira.


“Perawat Alfan, tolong bawa korban yang ada di sana menuju ke ruang rawat inap. Karena keadaannya tidak terlalu parah, balut saja lukanya yang ada bgaian kaki.” Alfan pun mengangguk.


Mereka tim medis bertindak dengan cekatan. Saat mobil ambulan datang lagi, tim siaga segera siaga menyambut beberapa korban yang berada di dalam sana.


“Suster Aini, biarkan saya yang memeriksa kondisinya. Kamu silahkan bantu yang lain dulu.” Aurora segera memeriksa kondisi korban yang baru tiba.


“Baik, Dok.” Suster Aini mengangguk.


Semua bekerja keras hingga mereka pun banjir peluh bersama. Tidak berhenti mondar-mandir bahkan, brlarian kesana kemari memberikan pertolongan petama pada semua koran. Ada yag terluka parah dan ada juga yang hanya terluka ringan.


Setelah bekerja keras dan menjaga kekompakan sert saling membantu saat ada yang membutuhkan akhirnya, semua masalah mampu diselesaikan satu persatu.

__ADS_1


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.” Ervin bernapas lega.


“Terimakasih, Anda sudah datang di tengah-tengah acara Anda, Dok.” Aurora menghampiri Ervin.


“Hahaha... Tidak perlu terlalu formal bicaranya. Toh tugas kita sudah selesai, kita bebas.” Ervin merasa tak enak hati.


“Ah, iya.” Aurora hanya tersenyum tipis.


“Eh, sebentar kalau begitu ya, Ra. Aku mau cari Humaira dulu! Soalnya ... Aku bareng di tadi kesininya.” Ervin melambaikan tangan pada Aurora yang hanya menatapnya saja.


‘Aurora? Iya, mereka sekarang kan, sudah menjadi saudara ipar.’


...----------------...


“Bukankah itu ... Humaira? Tapi, kenapa Dia seperti sedang bersedih begitu?” tanya Ervin dalam hati.


Ervin menghampiri Humaira yang sedang duduk termenung. Hanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Seolah kesedihan tengah menerpa seorang Humaira yang dikenal sebagai perempuan periang dan kuat.


“Emm ... Dokter Humaira, apa pekerjaan Anda sudah selesai?” tanya Ervin hati-hati.


Tidak ada jawaban. Hanya Humaira dengan kebisuannya saja yang ada. Dan tidak lama kemudian beberapa rombongan telah datang menghampiri Humaira dan Ervin.


“Laura,” panggil Ervin lirih.


Laura hanya memberikan senyuman tipis pada Ervin. Dan setelahnya, pandangan Laura ditujukan pada Humaira yang masih nampak bersikap aneh.


“Nanti kita bicara lagi ya! Sekarang, aku mau menemani kak Humaira dulu.” Laura menatap Ervin dengan tatapan memohon.


Ervin yang tidak mengerti titik permasalahan ia hanya mengangguk saja. Membiarkan Laura berjalan melewatinya dan menghampiri Humaira.


“Kak, yang sabar ya! Aku tahu ini menyedihkan buat kakak. Tapi ... Ini sudah takdirnya kak Leon pergi lebih dulu daripada kita.” Laura memberikan pelukan pada Humaira.


Hening ...


Tes ...


“Humaira sayang, ikhlaskan kepergian Leon. Percayalah, Allah lebih sayang Leon.” Bu Veronica ikut memberikan pelukan.


“Hiks ... Hiks... Kenapa harus Leon Ma yang menjadi korban meninggal kecelakaan beruntun itu? Kenapa?”


Tangis Humaira pun pecah, sorot mtanya yang menyiratkan kesedihan membuat hati bunda Rania terasa tersayat. Ingin ikut memberikan pelukan tapi, rasanya tidak mungkin dilakukannya. Karena takdir telah berkata lain, meskipun pada kenyataannya bunda Rania lah yang sudah melahirkan Humaira.

__ADS_1


‘Maafkan bunda Nak, karena bunda tidak bisa memberikan kekuatan dengan memelukmu.’


Bunda Rania hanya menatap pilu saja tanpa berbuat apa-apa.


Ervin sudah tahu titik permasalahannya ia pun perlahan mendekat.


“Pak Irham...” Ervin menggantungkan kalimatnya.


Harap maklum ya gaes, jika Ervin masih panggil bapak mertuanya dengan panggilan Pak Irham. Soalnya baru tadi pagi melakukan ijab qabul dan belum terbiasa.


Pak Irham yang mengerti pun menjawab dan menjelaskan.


“Leon, lelaki itu salah satu korban dalam kecelakaan beruntun yang dinyatakan meninggal dunia. Dan lelaki itu adalah kekasih dari Humaira, putri saya.”


Deg.


Ada rasa nyeri di dalam hati yang seolah ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Humaira. Hanya sekedar empati, karena Ervin sudah menujukan hatinya hanya pada Laura. Perempuan yang saat ini sudah menyandang status sebgaai istrinya.


“Saya ... Turut beduka cita atas meninggalnya kekasih kamu. Mungkin ini sangat berat saat petama kali kita tahu bahwa orang yang kita cintai telah tiada untuk selama-lamanya.”


“Namun, inilah takdir yang harus kita terima. Meskipun takdir tidak sejalan dengan yang kita harapkan dan kita rencanakan. Tapi, percayalah! Takdir selanjutnya akan lebih indah.”


“Tahu apa kamu tentang takdir yang indah? Apa kamu juga tahu bagaimana rasanya sakit ditinggalkan orang yang kita cintai untuk selamanya?”


Humaira bukannya mencerna ucapa Ervin justru ia seolah marah pada Ervin yang memberikan empati terhadapnya.


“Mungkin kamu tidak tahu, bagaimana rasanya ditinggalkan kedua orang tua yang meninggal lebih dulu. Bagaimana rasanya menepis kerinduan yang dalam tapi, tak bisa melakukan apapun. Hanya satu yang bisa aku lakukan setiap mengingat dan merindukan mereka.”


“Jika aku tidak bisa menjamahmu dalam dekapan, jika aku tidak bisa menatapmu dalam dan jika aku tidak bisa bersamamu setiap waktu. Jangan khawatir, karena aku selalu menyebut namamu dalam setiap doa ku.”


“Karena doa adalah obat paling mujarab saat kita merindukan seseorang yang lebih dulu meninggalkan kita. Dan tidak masalah jika kamu tidak menghargai rasa empati ku ini.”


Hening ...


Humaira menatap Ervin dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasa yang menggumpal di hati seolah memiliki sebuah arti sendiri dari peyebabnya.


‘Ya Allah... Mungkin aku lupa dengan keberadaan-Mu. Dan kini Engkau hadirkan Ervin sebagai seseorang yang memiliki hati bak malaikat. Dia mengingatkanku jika takdir hidup manusia tak akan pernah sejalan dengan yang diharapkan manusia itu sendiri.'


Setelah menelaah setiap kata yang diucapkan Ervin, Humaira pun berusaha melapaangkan dada menerima takdir yang tidak sejalan dengan angannya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2