
Suster Amanda mengijinkan Zack untuk kembali bertemu dengan pak Wiranto,tapi itupun jika keadaan pak Wiranto sedang memungkinkan,
Zack pun pamit dan keluar dari rumah itu,nampak Dwiki sudah menunggunya di depan,
Selepas Zack pergi,suster Amanda coba menghubungi pak William,namun tidak tersambung,dia ingin menanyakan tentang Zack padanya,
..
Sementara itu Laura sudah berhasil membawa kursi yang terdapat goresan tangan pak Roni,dia menyuruh petugas kebersihan memasukannya ke dalam mobil,dia pun segera menghubungi pak Adrian,
"Halo pak,bisakah saya bertemu dengan bapak?"
Ucap Laura di sebrang telpon,
"Datang lah,saya sedang berada di rumah,"
Pak Adrian pun memberi alamat baru mereka yaitu alamat rumah Zack dulu,
Laura belum menyadari dengan alamat rumah yang di kirim pak Adrian padanya,namun saat arah mobil nya melaju ke komplek perumahannya dulu,batinnya langsung bertanya-tanya,
Bukankah ini arah jalan ke rumah ku dan Zack sewaktu kecil,
Karena tidak percaya,Laura kembali membuka ponsel dan membaca alamat rumah yang di berikan pak Adrian,
"Tapi ini alamat yang benar"
Hingga Laura tiba di gerbang komplek tersebut,nampak pak Mamat menyambutnya dengan senyuman,
"Selamat siang mba,mau ke arah rumah siapa"
Tanya nya,
Laura hampir tidak percaya bisa bertemu dan melihat pak Mamat lagi,satpam yang dulu selau menemani nya bermain bersama Zack,
Laura teringat akan kenangan indah masa kecilnya di komplek perumahan ini,
Tanpa dia sadari,air matanya menetes kecil di sudut mata Laura,
"Maaf pak,saya mau ke rumah pak Adrian"
Pak Mamat menunjukan dengan jarinya rumah nomor 2 pada Laura,dia semakin terkejut kala melihat rumah nomor 2 adalah rumah Zack kecilnya,
"Ya Tuhan,apakah semua ini"
Tanya hati Laura,
Disaat dia memang sedang rindu akan kenangan masa kecilnya,kemudian tuhan menuntunku ke tmpat dimana masa kecil itu terjadi,
Pikir Laura,
Dengan langkah berat teringat akan semua kenangan kecilnya,Laura coba menekan bel gerbang rumah pak Adrian,
Disana Markus sudah bersiap membuka kan pintu gerbang untuknya,
Laura masih berada dalam ingatan masa kecilnya saat dia melangkahkan kaki nya ke dalam rumah Zack,
Hingga semua yang Markus ucapkan tidak dia dengar,
__ADS_1
"Halo Laura,kau mendengar ku"
Tanya Markus pada laura,
Namun Laura masih belum juga menjawab pertanyaannya,
Saat melihat halaman depan,dimana kursi yang menghadap taman masih berada disana dengan posisi yang sama,membuat semua ingatan nya satu persatu muncul dalam benak Laura,
Dia tak kuasa menahan air matanya,
Terlihat ibu Mauren dan ibunya Zack sedang tersenyum bahagia melihat Laura dan Zack bermain berdua di halaman depan itu,dan saat mereka mulai berantem,maka Zack yang harus di paksa mengalah,karena dia adalah laki-laki,menurut ibu Helena,
"Kau tidak apa-apa Laura"
Pertanyaan pak Adrian kini memecah kenangan di ingatannya,
"Mm maaf pak,saya..."
Laura coba menyeka air matanya yang menetes,
Pak Adrian pun heran apa yang membuat Laura menangis,karena setahunya dia bukan wanita yang cengeng,
"Masuklah dulu,ceritakan di dalam"
Pak Adrian pun mengajak Laura masuk kedalam rumahnya,
Karena pak Adrian tidak mengganti apapun barang yang ada di rumah lama Zack,ingatan Laura semakin terngiang akan rumah ini,
Laura pun bertanya sejak kapan pak Adrian tinggal di rumah ini,dan kenapa pak Adrian memilih rumah ini untuk di tinggali,
Tentu saja pertanyaan Laura membuat pak Adrian kembali bertanya padanya,
Tanya pak Adrian padanya,
Laura meminta maaf karena sudah lancang bertanya seperti itu padanya,hingga Laura berjalan menuju foto keluarga Zack yang terpampang rapi di dinding,
"Maafkan saya pak,bukan maksud saya menyinggung bapak"
"Andai bapak tahu,saat ini aku sedang merindukan mereka"
Ucap Laura mengusap foto keluarga Zack,tepat pada bagian foto Zack,
"Apa maksudmu Laura,apa kau mengenal mereka?"
Tanya pak Adrian serius,Markus pun melihat Laura nampak sedih,
Dia tak kuasa melihatnya,dia berdiri di balik tembok melihat Laura,
"Aku sangat mengenal nya pak,mereka adalah keluarga yang sangat baik dan harmonis,Mereka begitu penyayang,termasuk kepadaku,dia adalah bu Helena sahabat ibuku,dan itu pak Agatha,beliau juga sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri,dan dia adalah anak pertama mereka,sahabat kecilku,sahabat terbaikku," air mata Laura mulai menetes kembali,
"Ibuku dan Bu Helena bersahabat baik,karena kami tetangga satu komplek,merekapun dulunya satu sekolah,jadi mereka sangat dekat,"
Laura tersenyum Dan menunjuk rumah ke 4 samping rumah Zack,
"Itulah rumahku dulu pak"
Lanjut Laura,
__ADS_1
Pak Adrian terkejut mendengar pernyataan Laura yang ternyata mengenal keluarga Mr Agatha,bahkan dirinya juga pernah tinggal di komplek ini,
Pak Adrian merasa tersentuh dengan semua cerita Laura tentang keluarga Mr Agatha,
Dia pun bertanya tentang Laura,Mengapa dirinya kini tidak tinggal disini,
Laura enggan menceritakan tentang masa lalu kelurga nya yang kelam,masa lalu ibu dan ayahnya yang berpisah karena orang ketiga,dan kematian ibunya yang tewas di tangan laki-laki hidung belang,
Laura menutupi semuanya karena benci mengingat itu semua,
Dia pun hanya menjawab,
"Semua sudah menjadi masa lalu pak,"
Dia berusaha tersenyum,
"Tapi apakah kamu tahu tentang perampokan dan pembunuhan yang menewaskan mereka"
Tanya pak Adrian,
Saat itu umur Laura masih teramat kecil untuk mengetahui semua yang terjadi pada keluarga Zack,hingga ibunya pun membawanya pindah ke hotel untuk sementara waktu sampai kasus nya sedikit meredup agar Laura tidak banyak bertanya tentang Zack pada ibunya,
Dan saat ia kembali ke rumahnya,semua sudah berubah,tidak ada tanda tanda kehidupan di rumah Zack,
Dan itu semua membuat Laura kecil sangat sedih dan kehilangan Zack,
Dan setelah semua yang pak Adrian dengar dari cerita Laura,Pak Adrian pun semakin merasa yakin bahwa dirinya harus mengusut kembali kasus perampokan yang menewaskan Mr Agatha dan Mrs Helena,
...
Laura hampir lupa dengan maksud kedatangannya ke rumah pak Adrian untuk membahas tentang pak Roni,
Dia pun menyuruh pembantu rumah pak Adrian untuk membawakan kursi yang ada di mobil Laura,
"Begini pak,ada yang harus saya bicarakan kepada bapak,dan saya bingung harus bicara kepada siapa selain kepada bapak,karena saya yakin bapak akan bisa membantu saya,"
Ucap Laura serius pada pak Adrian,
Pak Adrian pun mendengarkan Laura,
Laura pun menceritakan tentang pak Roni ayah Andi salah satu anak asuhnya di panti asuhan Bu Marissa,
Dia menceritakan semua rahasia yang pak Roni beritahu kepadanya tentang keselamatannya yang sekarang sedang terancam,termasuk Andi dan istrinya yang kini sedang koma,
Laura pun juga menceritakan bahwa pak Roni sempat dia tahan untuk di interogasi,dan dia juga menuliskan sebuah permintaan tolong dan kebebasan pak Wiranto,
Pak Adrian yang kala itu sedang meneguk segelas kopi langsung tersedak mendengar nama pak Wiranto,
"Kau tidak apa-apa pak?"
Tanya Laura cemas,
"Ya,saya tidak apa-apa?pak Wiranto,siapa yang kau maksud pak Wiranto,"
"Itulah yang saya pikirkan pak,disini tertulis bahwa pak William yang mengancam keselamatan keluarga pak Roni,tapi saya tidak tahu harus membebaskan pak Wiranto,entah siapa itu pak Wiranto yang pak Roni maksud?"
Jawab Laura mulai berpikir
__ADS_1
Bersambung
❤️❤️❤️