Dendam Sang Anak Mafia

Dendam Sang Anak Mafia
Kania pun tahu


__ADS_3

" Bu..."


Laura menyapa Bu Marissa yang sedang menyiram, Bu Marissa pun tersenyum ke arahnya,Laura pun menyampaikan sesuatu pada Bu Marissa,Laura mengajak Bu Marissa duduk terlebih dahulu di kursi taman panti,


"Sebenarnya Laura ingin bicara hal yang penting pada ibu,tapi Bu Marissa jangan terkejut ya"


Ucap Laura


Bu Marissa heran untuk kali pertama ini Laura mengajaknya bicara serius seperti ini,


"Ada apa ini nak,kau sangat serius sekali sepertinya,ada masalah apa sayang?"


Jawab Bu Marissa cemas pada Laura,


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu Bu"


Jawab Laura tersenyum padanya,


"Zack kemari lah"


Laura coba memanggil Zack,


Bu Marissa pun heran,Zack siapa yang Laura panggil untuk menemui dirinya,


"Ya ini Zack Bu"


Zack datang menghampiri Bu Marissa dan Laura,


Bu Marissa hanya tersenyum pada Zack


"Bukankah itu temanmu yang waktu itu mengantarmu kemari"


Tanya Bu Marissa,


Laura pun tersenyum pada Bu Marissa


"Ia ini Zack bu,apa Bu Marissa tidak mengenalnya?"


Tanya Laura


Bu Marissa semakin dibuat penasaran oleh Laura dan Zack,pada awalnya Bu Marissa tidak terlalu memperdulikan apa yang Laura bicarakan,karena dia menganggap mungkin Laura sedang mengerjai dirinya,


Namun saat Zack berucap


"Zack putra Agatha"


Seketika Bu Marissa yang hendak berdiri untuk pergi meninggalkan mereka langsung menghentikan langkahnya,bahkan nafasnya pun seakan ikut berhenti sejenak saat mendengar nama Zack putra Agatha,


Bu Marissa pun berbalik dengan kemampuan renta nya ke arah Zack,matanya mulai berkaca-kaca saat perlahan langkahnya dia giring mendekati Zack,


Dan benar saja saat Bu Marissa melihat tanda luka di lehernya,dia baru yakin bahwa dia adalah Zack,


Zack yang selalu bersamanya ketika kecil,


Zack yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang sebelum tragedi itu terjadi,

__ADS_1


"Zack"


Tangan keriput itu mulai meraba wajah Zack yang sudah sekian lama tidak dia lihat,


Air matanya mulai menetes tak kuasa dia bendung,


Zack dan Bu Marissa saling berpelukan dalam lingkup kerinduan yang teramat dalam,


Bahkan Zack pun tak menyadari jika air matanya pun mulai menetes,


"Zack,anakku,benarkah kau"


Bu Marissa seakan masih bermimpi jika saat ini dia sedang memeluk anak majikannya yang dulu dia besarkan,


Zack membalas pelukan Bu Marissa dan meyakinkan nya bahwa dia adalah Zack kecilnya,


"Ini aku bi,Zack,Zack yang selalu berlarian bersamamu,Zack yang nakal,Zack yang cengeng,percayalah"


Ucap Zack sedikit menceritakan masa lalu nya saat bersama Bu Marissa,


"Kemana saja kamu selama ini nak?bagaimana keadaanmu?apa kau baik-baik saja sayang"


dengan penuh pertanyaan Bu Marissa nampak menghawatirkan keadaan Zack selama ini,


Karena selama ini bu Marissa mengira kalau Zack sudah tiada,tapi ternyata masih hidup,


"Maafkan aku bi Marissa,aku baik-baik saja,selama ini aku berada di Jerman bersama pak Anton,,maafkan aku,Akupun mengira bi Marissa sudah tiada karena ikut menjadi korban perampokan waktu itu"


Jawab Zack,


Bu Marissa terkejut,kenapa Zack bisa bersama pak Anton tukang kebunnya dulu,namun dia sangat bersyukur karena anak asuh kesayangannya ternyata masih hidup dan baik-baik saja,


Zack pun mulai bertanya pada Bu marissa akan kejadian tempo itu,


Zack bertanya bagaimana bi marissa bisa selamat,sedangkan yang lain tidak,


Air mata bi Marissa pun mulai menetes membasahi pipinya,


"Andai kamu tahu nak,betapa berat penyesalan yang selama ini ibu rasakan,bibi begitu menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibumu nak,saat bibi memberanikan diri untuk keluar,bibi sudah mendapati tuan dan nyonya sudah tidak bernyawa"


Bi Marissa pun sudah tidak bisa menahan air matanya,


...


Di lain tempat Mada pergi keluar menuju minimarket untuk membeli kebutuhan nya,dan saat dirinya hendak memarkirkan mobilnya,tiba-tiba saja seorang pria dewasa tak sengaja menabraknya,sehingga dompet Mada terjatuh,


"Maafkan saya"


Ucap pria tersebut,


"Tidak apa-apa mungkin saya yang kurang hati-hati"


Jawab Mada sambil meraih dompetnya yang jatuh,namun pria itu lebih dahulu berhasil membawa dompet Mada yang jatuh,dan mengembalikannya pada Mada,


Betapa terkejutnya pria itu saat melihat Mada,

__ADS_1


"Kau..."


Mada pun sama terkejutnya dengan pria tersebut,yang ternyata itu adalah pak Adrian,


"Mas Adrian..."


Ucap Mada seolah tidak percaya dirinya bisa bertemu dengan pak Adrian di tempat ini,dengan reflek Mada pun langsung menanyakan kabar Markus,


"Mas Adrian,dimana Markus"


Tanya Mada dengan tatapan tajamnya yang serius,


Pak Adrian berniat untuk menyembunyikan kebenaran tentang Markus pada Mada,karena dia tidak ingin Markus kembali padanya,


"Markus siapa maksudmu,"


Jawab pak Adrian sedikit ketus pada Mada,


"Mas jangan membohongi saya,saya tahu Markus ku masih hidup,dimana dia sekarang pertemukan aku dengan anakku mas"


Ucap Mada dengan matanya yang mulai berlinang,


Sebagai pria yang baik,pak Adrian memang tidak tega  melihat Mada memohon seperti ini,apalagi sampai memisahkannya dari anak kandungnya sendiri,


Tapi mengingat akan kejahatan adiknya,pak Adrian kembali pada niat awalnya untuk tidak memberitahu tentang Markus pada Mada,


"Kau mungkin sudah lupa,bukankah adikmu yang kejam itu sudah membunuh istriku dan anakmu waktu itu"


Pak Adrian seolah mengingatkan Mada akan kejadian yang menimpa Mira istrinya pak Adrian dan Markus saat bayi,dimana mobil mereka terbakar saat kecelakaan karena ulah anak buah Mr Antonio,


Mada pun benar-benar mengingat sekali kejadian waktu itu,dimana kecelakaan itu memang membuat Mada sangat benci pada adik tercintanya itu,sebab,karena adik nya lah anak dan suaminya meninggal,serta Mira istri pak Adrian juga ikut menjadi korban kejahatan Mr Antonio adik Mada,


"Tapi aku yakin,anakku masih hidup kan mas"


Dengan air mata yang berlinang,Mada bersikeras meyakinkan dirinya pada pak Adrian bahwa anaknya memang masih hidup,dia pun menjelaskan bahwa dirinya datang ke Jakarta untuk berjumpa dengan anaknya Markus,


Mendengar itu pak Adrian seolah ingin segera pergi meninggalkan Mada,karena dia takut tidak sanggup melihat kesedihan Mada akan keyakinannya pada anaknya yang masih hidup,


Mada pun berjanji pada pak Adrian bahwa dirinya akan membuktikan dan mencari sendiri anaknya sampai ketemu,karena dia sangat yakin,


Pak Adrian pun berdiri mencoba menyembunyikan rasa iba dihatinya pada Mada,dia pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Mada yang bersikeras memaksa pak Adrian untuk mempertemukannya dengan Markus,


Tanpa sepatah katapun pak Adrian akhirnya pergi meninggalkan Mada,dan semua itu membuat Mada sangat sedih dan tak henti menangis,


Mada coba menyeka air matanya yang tak henti mengalir,namun semua sia-sia kerinduan akan anaknya membuat dia tidak bisa menahan air matanya,


"Anakku tunggu ibu nak,ibu yakin kamu pasti masih hidup"


Dia berusaha meyakinkan kembali batinnya meskipun pak Adrian terus coba mematahkan keyakinannya,


...


Di panti,Kania yang baru pulang dari tugas kuliahnya dari luar kota melihat kedatangan Zack dan Laura,Kania melihat Zack sedang berbicara dengan Bu Marissa,


"Kenapa Jonas bisa ada disini,sedang apa dia bersama ibuku?sepertinya mereka sedang bicara serius,apa jangan-jangan Jonas mau melamar ku ya?"

__ADS_1


Tanya hati Kania penasaran dengan terlalu percaya diri karena rasa kagumnya pada Zack,


Sejak awal Kania memang jatuh hati pada pandangan pertama pada Zack,dia merasakan ada ikatan yang berbeda dengannya,tapi entah ikatan apa itu,


__ADS_2