
Buk..
Buk..
Pukulan yang lumayan sangat kencang membuat kepala si pria sedikit berdarah dan membuatnya marah besar,
"Jangan sentuh aku,jika tidak kalian tidak akan selamat"
Ucap Helena membuat pria itu semakin tertantang dan melawan Helena dengan semua anak buahnya,
Helena terus berusaha melawan demi menjaga kehormatan nya,namun apalah daya,
Kekuatan satu wanita tidak bisa mengalahkan kekuatan lima pria yang terus menarik tangan dan tubuhnya,hingga kini tubuh Helena sudah terlempar di atas ranjang,
Suasana kamar sangat begitu memilukan,Marissa yang mendengar teriakan dan rintihan kesakitan majikannya hanya bisa Menahan air mata dan mulutnya agar keberadaan dirinya dan bayi Helena tidak sampai diketahui,
Kedua Tangan Helena di tahan oleh dua anak buah pria brengsek itu,sementara kakinya mereka tindih dengan tubuhnya,dan kini posisi Helena sudah terlentang,
Meskipun begitu Helena masih berusaha melawan mereka dengan meludahi si pria itu saat mereka hendak melucuti mereka,
"Cuh"
Tepat di wajah si pria itu air liur Helena mendarat,
Plak...plak..
Dua tamparan keras mendarat di pipi Helena hingga ujung bibirnya yang tipis berdarah,
Helena berharap maut akan segera menjemputnya daripada dia harus merelakan kehormatannya untuk pria yang kini sedang menahan dirinya,
Dan akhirnya usaha Helena untuk membuat pria itu marah padanya gagal,pria itu semakin menggila pada tubuh Helena,
Setelah dia menampar dua pipi Helena,tangan pria itu kini menampar dua belahan dada Helena berulang kali hingga Helena mulai terlihat lemas,karena tenaga Helena baru saja pulih pasca melahirkan bayinya,
Dan saat itu berlangsung anak buah yang lain mulai membuka dan meraba setiap lekuk tubuh Helena,
Mereka menikmati tubuh Helena secara bersamaan,
Yang lebih gilanya lagi,mereka tidak membiarkan Helena bernafas untuk sebentar saja,
Dari bawah mereka menikmati mahkotanya secara bergantian,dan dari atas mereka pun terus menyergap bibir mungil Helena yang sedikit berdarah,hingga nafas terakhirnya berhembus,
Saat mereka menyadari bahwa tidak ada tanda kehidupan dari wanita yang sedang mereka nikmati,mereka mulai menyudahi permainan nya dan memastikan bahwa Helena memang benar-benar telah tiada,
"Sepertinya wanita ini sudah tiada bos"
Ucap anak buah pria itu membuat Marissa semakin sedih dan secepatnya ingin berlari memeluk tubuh majikannya itu,
__ADS_1
"Biarkan lah dia tiada,bersihkan dulu badannya agar jejak kita tidak sampai diketahui"
Perintah pria itu dengan bengis,kemudian dia pun membawa brankas berlian milik Mr Agatha yang ada di lemari rahasianya,
…
Sudah di rasa aman dan tak terdengar suara dari perampok itu Marissa perlahan membuka pintu lemarinya dan mendapati majikannya terkapar tanpa busana di lantai kamarnya,
"Nyonya"
Marissa syok melihat majikannya tewas secara tragis ditangan perampok yang sangat kejam,namun dia teringat akan pesan Helena sebelum meninggal,bahwa dirinya harus pergi dan menyelamatkan anak-anaknya,
Dia langsung teringat akan Zack,dengan segera Marissa turun ke bawah untuk mencari keberadaan Zack,
"Maafkan aku nyonya,aku tidak bisa menyelamatkanmu,tapi aku berjanji,aku akan selalu menjaga titipan mu yang berharga ini"
Ucap Marissa meneteskan air mata berlalu meninggalkan jasad Helena,langkah nya terasa berat,namun hatinya mengatakan dirinya harus kuat demi anak-anak mereka yang telah dititipkan padanya,
Di bawah Marissa menemukan rekan-rekan kerjanya sudah tewas bersimbah darah,begitupun dengan Mr Agatha,dia tergeletak di sebuah kursi dengan luka yang sangat membuat Marissa takut untuk mendekatinya,
Dia pun segera berlari keluar untuk mencari Zack dengan kecemasan dan ketakutan yang membuat tubuhnya sedikit gemetar mengingat kematian majikan dan rekan-rekannya yang sangat tragis,
"Zack...Zack"
Panggil Marissa mencari keberadaan Zack,
Marissa mencari Zack di setiap sudut halaman,namun tidak ditemukan nya sama sekali,dia pun memutuskan untuk pergi dulu menyelamatkan dirinya dan bayi Kania sebelum perampok itu kembali atau sesuatu terjadi padanya nanti,
Dengan mengandalkan tekad yang kuat Marissa pun membawa bayi Helena pergi ke kampung halamannya untuk dia besarkan,meskipun dia selalu teringat akan Zack dan keberadaannya,
*****
"Hai ka Jonas,ini untukmu"
Kania mengagetkan Zack dengan sebotol minuman dingin yang dibawakan untuknya,
Kania bertanya mengapa dirinya terlihat seperti orang yang sedang kebingungan,namun Zack menepis semua pertanyaannya dengan senyum manis dirinya yang membuat Kania semakin menyukai zack,
Kania membalas senyum Zack dengan tulus,dan untuk kali pertama Zack melihat jelas wajah Kania dengan senyumnya itu,
"Mama"
Ucap Zack saat melihat Kania tersenyum,
"Apaan sih ka,masa aku dipanggil mama,memangnya aku sudah tua apa"
Jawab Kania tidak suka dengan ucapan Zack yang menurutnya sebagai candaan untuknya,
__ADS_1
Zack langsung tersadar saat Kania menegurnya,memang tidak sepantasnya dia bercanda berlebihan seperti itu,
Tapi ucapan "mama" saat melihat tatapan dan senyum Kania memang dirasa Zack sangat mirip dengan mendiang ibunya,Helena,
Akhirnya Zack meminta maaf karena telah menyinggung perasaan Kania dengan beralasan dirinya hanya sedang teringat akan mama nya saat melihat Kania tersenyum,
Tentu saja alasan itu membuat Kania pun jadi ikut berempati,
Kania bertanya apakah Zack sedang rindu dengan orangtuanya,
"Mungkin ka Jonas sedang rindu dengan ibunya ya,"
Kania bertanya dengan kembali melempar senyum pada Zack,
"Ka Jonas masih beruntung loh daripada aku,mungkin ka Jonas jika rindu dengan orangtuanya bisa telpon atau Video call,sedangkan aku," Kania menghela nafas panjang,
"Aku hanya bisa menemui mereka di tempat peristirahatan terakhir mereka"
Kania tertunduk sedih saat menceritakan tentang dirinya,
Zack pun bergumam dalam hati,
"Andaikan kamu tahu yang sebenarnya Kania,mungkin kamu akan merasa lebih bersyukur daripada aku,aku hanya seorang anak asuh dari Mr Antonio dan bibi Mada"
Ucap hati Zack teringat akan kenangan tentang mendiang ibunya yang telah tiada,
Kania pun menyadari bahwa Zack merasa ikut sedih dengan nasib yang dia ceritakan tentang dirinya,dia pun tersenyum kembali agar Zack tidak sedih,
Kania mengalihkan pembicaraannya pada hal lain,Kania bertanya pada Zack tentang skripsinya yang sebentar lagi akan dilaksanakan,
Zack menjawab setiap pertanyaan Kania dengan benar dan sama sekali tidak mencurigakan bahwa dirinya hanya berpura-pura menjadi mahasiswa,
Dan sesekali Zack selalu mencuri kesempatan untuk melihat wajah Kania dengan seksama,
Perilaku Zack disadari oleh Kania,dia merasa bahwa Zack menyukainya,hingga perasaan Kania semakin berdebar tidak karuan saat dia menyadari Zack sedang memandang wajahnya,
Suasana pun pecah kala dering bahaya dari ponsel Zack berbunyi,dengan segera Zack meraih ponselnya dan pergi meninggalkan Kania sendirian,
"Maaf Kania, aku harus pergi,terima kasih ya makanannya"
Ucap Zack berterimakasih dan berlalu tanpa menunggu jawaban dari Kania,
Kania pun dibuat bingung dengan perilaku Zack yang seakan terburu-buru dan nampak cemas melihat tingkahnya,
"Ada apa dengan ka Jonas ya"
Tanya hati Kania,
__ADS_1
Bersambung