
Dira hanya merasa bahwa dirinya sudah tak sanggup lagi memikul beban yang dia rasa makin hari makin berat untuk di laluinya..
Dira kembali kedalam kamarnya dan langsung menangis hatinya terasa perih setelah mengingat semuanya..
Dira merasa bahwa kehadirannya hanyalah sebagai pelampiasan atau hanya sebagai selingan bagi Ferdi karena sejauh ini Ferdi masih memperlakukan dia seperti ada dan tiada..
"Ya Allah apakah ini balasan atas apa yang telah aku lakukan karena aku telah melukai hati Fatir lelaki yang sangat mencintaiku. Sampai kapan aku akan kuat menjalani semua ini Ya Allah." ucap Dira di sela sela isak tangisnya..
Tiba tiba saja ponsel Dira berdering ternyata itu dari orang tua Dira di kampung..
Dira menghapus airmatanya dan berusaha setenang mungkin karena Dira tak ingin membuat orang tuanya sedih..
Dira menarik nafas kemudian membuangnya secara berlahan..
"Assalamualaikum Mbok.." ucap Dira sembari menahan airmatanya..
"Waalaikumsalam Ndok, Ndok kamu lagi apa bagaimana kabarmu?" tanya Ibu Habibah lirih..
Dira pun menarik nafas panjang kemudian tersenyum..
__ADS_1
"Kabar Dira baik Mbok, bahkan sangat baik." ucap Dira sembari tersenyum..
Ibu Habibah menarik nafas kemudian menyampaikan kabar yang membuat Dira semakin down..
"Dira sayang si Mbok punya kabar buruk untuk kamu." ucap Ibu Habibah sedikit ragu untuk mengatakannya..
Dira terkejut mendengar ucapan si Mbok..
"Mbok kabar apa Mbok, ayo cepat kasih tahu Dira Mbok." ucap Dira sedikit panik..
"Ndok.. Fatir Ndok.." ucap Ibu Habibah lirih..
"Fatir kenapa Mbok.." ucap Dira sembari sedikit berteriak karena kaget..
"Fatir meninggal Ndok, dia sakit setelah mengetahui bahwa kamu telah menikah. Jujur si Mbok gak mau kasih tahu ini tapi kamu harus tahu karena kamu adalah sahabatnya.." ucap Ibu Habibah sembari menitikan airmata..
Seketika airmata Dira jatuh membanjiri kedua pelupuk matanya Dira langsung syok setelah mendengar ucapan Ibu Habibah.
"Gak mungkin Mbok, gak mungkin.."ucap Dira sembari berteriak..
__ADS_1
Dira syok bahkan Dira sampai pingsan setelah mendengar ucapan sang Ibu yang mengatakan bahwa Fatir telah meninggal.
Dira yang sendirian di dalam kamarnya pun tak mendapatkan pertolongan karena kamar Dira kedap suara..
Dua jam Dira pingsan tanpa bantuan siapapun..
Dalam mimpinya Dira bertemu dengan Fatir yang telah memakai baju berwarna putih wajah Fatir telihat smagat pucat dan samar samar Dira berbicara dengan Fatir..
Fatir tersenyum dan mengatakan bahwa Dira pasti kan menemukan kebahagiaannya dan dalam mimpinya pun Fatir meminta maaf karena harus pergi meninggalkan Dira..
Setelah Dira membuka mata Dira kembali histris dan merasa sangat bersalah setelah meninggalnya Fatir.
Dira tak bisa pulang ke kampungnya untuk melihat Fatir untuk terahir kalinya karena Ferdi sendiri tak berada di rumah. Dira semakin merasa hancur setelah mendengar kepergiaan Fatir..
"Fatir maafkan aku, ini semua salahku. Lihatlah Fatir kehidupanku sekarang menjebakku. Maafkan aku juga karena tak bisa melihatmu untuk terahir kalinya, aku berharap kamu di tempatkan di syurga nya Allah dan sampai bertemu di kehidupan berikutnya." ucap Dira di tengah tengah isak tangisnya..
Dira masih diam saja didalam kamarnya dan tiba tiba saja pintu kamarnya di ketuk dan ternyata itu Ferdi yang baru saja pulang dari Surabaya..
"Sayang kamu kenapa kok nangis, terus kenapa kamu kok terlihat lemas apa kamu sakit?" tanya Ferdi sembari meraba kening dan badan Dira..
__ADS_1
Dira menggeleng Dira mengatakan kalau dirinya tak apa apa..
"Aku gak apa apa Mas aku baim baik saja." ucap Dira yang masih enggan bercerita tentang meninggalnya Fatir..