
Dalam hati Rangga merasa dag dig dug setelah melihat Dira yang tiba tiba datang kerumahnya..
"Ngga apa kamu sudah lama mengenal gadis itu?" tanya Pak Subekti yang tiba tiba menatap kearah Rangga..
Rangga pun kaget mendengar pertanyaan dari sang Ayah..
"Ayah ngagetin aja si. Sudah pernah bertemu tapi baru beberapa kali saja. Apa ada yang aneh kok Ayah tiba tiba tanya begitu?" tanya Rangga sembari tersenyum..
Pak Subekti pun tersenyum karena merasa lucu dengan jawaban Rangga..
"Iya sudah kalau gitu, Ayah doain ya dia akan bisa menjadi jodoh yang baik buat kamu ya." ucap Pak Subekti sembari pergi meninggalkan Rangga yang masih mematung diam setelah mendengar ucapan sang Ayah...
Pak Subekti kembali ke ruang tamu dimana ada Dira dan sang istri Istanti.
"Ayah mau yang ini saja ya Bund." ucap Pak Subekti yang tiba tiba mengagetkan kedua wanita cantik itu yang sedang berbincang..
Dira pun menatap kearah Pak Subekti dan kemudian berdiri untuk mengambil jas yang ada di tangan lelaki paru baya itu..
"Baik Pak kalau gitu biar saya simpan dan apakah ada yang mau dirubah lagi?" tanya Dira sembari tersenyum...
Pak Subekti pun tersenyum.
"Enggak ada ini sudah cukup bagus kok saya suka dengan model dan warnanya pasti cocok sama gaun pilihan Bunda." ucap Pak Subekti sembari tersenyum..
__ADS_1
Tak lama kemudian Rangga pun keluar dengan membawa jas yang telah dia pilih..
"Saya juga mau yang ini saja ya, biar senada dengan gaun Bundaku." ucap Rangga sembari tersenyum...
Rangga merasakan kebahagiaan yang tiada tara setelah bertemu dengan Dira di rumahnya.
Rangga pun mencuri pandang kearah Dira dan hal itu di ketahui oleh sang Bunda..
"Oh iya Mbak Dira, kalau boleh saya tahu apakah Mbak Dira masih sendiri ataukah sudah bersuami? Maaf bukannya saya mau ikut campaur tapi hanya ingin tahu saja itupun kalau di perbolehkan." tanya Ibu Istanti sembari tersenyum...
Dira pun menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan.. Rangga yang melihat bahwa Dira sepertinya tak nyaman pun merasa tak enak hati..
"Bunda gak seharusnya Bunda tanya hal pribadi sepreti itu?ucap Rangga setengah berbisik..
"Sekarang saya sendiri Bu, suami saya meninggal 8 bulan yang lalu." ucap Dira sembari menunduk..
Bagai di sambar petir di siang bolong setelah mendengar kabar tentang kematian suami Dira, antara senang dan sedih yang menyelimuti hati Rangga..
"Maafkan Ibu ya Mbak Dira, bukan maksud saya mengorek luka lama yang telah kamu alami." ucap Ibu Istanti sembari menggenggam tangan Dira..
Dira pun mencoba tersenyum.
"Tidak apa apa Bu, lagi pula itu sudah menjadi takdir Dira dan sekarang Dira juga sudah ikhlas." ucap Dira sembari tersenyum..
__ADS_1
Setelah semua urusan selesai Dira berpamitan untuk pulang dan kembali ke boutiq..
"Ibu ini sudah siang sebaiknya saya kembali ke boutiq dulu ya karena ada hal yang harus aku kerjakan." ucap Dira sembari tersenyum....
Ibu Istanti pun mengangguk..
"Baiklah kalau gitu Mbak, Mbak kesini naik apa?" tanya Ibu Istanti sembari tersenyum..
"Saya naik taxsi online Bu, dan saya akan segera memesannya sekarang?" ucap Dira sembari mengambil ponsel miliknya..
Rangga pun langsung menghentikan Dira..
"Biar saya antar saja ya, karena kebetulan aku juga mau kekantor. Tapi ingat saya gak mau mendengar penolakan, tunggu sebenar saya siap siap dulu." ucap Rangga yang langsung pergi ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian.
Ibu Istanti dan Pak Subekti hanya bisa menggeleng dan sekaligus bahagia karena ini kali pertamanya Rangga mau mengantarkan seorang wanita, mungkin karena Dira spesial di kehidupan Rangga..
Belum sempat Dira menolak atau menerima Rangga sudah pergi begitu cepat..
Dira pun menatap kearah Ibu Istanti..
"Sudah Mbak Dira gak apa apa biar sekalian pergi sama Rangga saja." ucap Ibu Istanti sembari tersenyum.
Dira pun tak punya kuasa untuk menolak dan pada akhirnya Dira mengikuti Rangga masuk kedalam mobil Rangga dan kemudian keduanya pergi..
__ADS_1