
Pada keesokan paginya Dira sudah bangun sehabis subuh lalu seperti biasa Dira menyiapkan makanan buat semuanya, sarapan pagi buat Ayah dan Bunda dan juga Dira tak lupa untuk membuat bekal untuk dirinya sendiri.
Ketika Dira sedang sibuk di dapur, tiba tiba Ayah Atmaja datang menemuinya. Rupanya semalam Ayah Atmaja pun bermimpi bertemu dengan sang putra sama seperti Dira..
"Selamat pagi Nak.."ucap Ayah Atmaja sembari menarik kursi yang berada di ruang makan..
Dira yang sedang sibuk pun menoleh kearah sumber suara dan ternyata di sana ada Ayah Atmaja yang sedang menatap dirinya..
"Selamat pagi Ayah, Ayah mau di buatkan kopi?"tanya Dira sembari tersenyum..
Ayah Atmaja pun mengangguk dan kemudian tersenyum..
Tak lama kemudian Dira mendekat sembari membawakan secangkir kopi panas kesukaan Ayah Atmaja..
"Ini kopinya Ayah. Ayah maafkan Dira atas apa yang Dira lakukan kemarin. Dira benar benar tak berniat untuk menyakiti hati Ayah."ucap Dira sembari menggenggam tangan lelaki paruh baya itu..
__ADS_1
Ayah Atmaja pun tersenyum menatap kearah sang putri..
"Ayah yang seharusnya meminta maaf Nak, gak seharusnya sikap Ayah seperti kemarin. Ayah hanya masih merasa sakit hati terhadap mereka apa Ayah salah?"tanya Ayah Atmaja sembari menatap Dira..
Dira pun tersenyum..
"Ayah gak salah, Dira sangat paham dengan sikap Ayah. Dira pun sama seperti Ayah masih sangat kehilangan Mas Ferdi. Tapi Dira juga paham Ayah Mas Ferdi sudah pergi dan dia juga gak akan kembali walaupun kita marah ataupun ikhlas. Maafkan Dira Ayah Dira gak pernah berniat untuk melawan Ayah tapi Dira berfikir bahwa mungkin dengan kita memaafkan mereka hidup kita akan jauh lebih baik dan tenang."ucap Dira sembari menitikan airmata..
Ayah Atmaja merasa tertampar dengan cara berfikir Dira, mungkin Dira juga sama sangat kehilangan Ferdi namun hidup itu harus terus berjalan dan tak mungkin jika kita akan meratapi masa lalu terus menerus..
Ayah Atmaja menjadi sedih setelah mendengar ucapan menantunya.
Dira merasa lega setelah mendengar ucapan Ayah Atmaja, setelah itu Dira pun melanjutkan pekerjaannya dan segera bersiap untuk keboutiq karena hari ini Dira harus mengantar gaun hasil rancangannya ke rumah Ibu Istanti...
Dengan penuh semangat Dira mengawali harinya senyuman manis yang selalu menghiasi wajah Dira hal itu membuat sepasang mata menganguminya dari kejauhan..
__ADS_1
Dira kedatangan seorang lelaki tampan dan sepertinya juga mapan. Lelaki itu bernama Dimas, Dimas adalah laki laki yang selama ini menganggumi Dira.
"Permisi apakah saya bisa pesan baju buat Bunda saya?" ucap Dimas sembari tersenyum..
Dira tak pernah punya pikiran buruk Dira pun tersenyum dan setelah itu mempersilahkan tamunya untuk duduk..
"tentu saja mari silahkan duduk,dan anda bisa lihat lihat dulu gaun rancangan butik kami siapa tahu ada yang cocok." ucap Dira dengan lembut dan juga sopan..
Dimas melihat sebuah gaun yang terpanjang rapi di dekat meja Dira..
"Saya mau gaun yang itu berapapun harganya." ucap Dimas yang menunjuk gaun milik Ibu Istanti..
Dira menoleh kearah gaunnya..
"Mas Mas gaun ini sudah ada yang punya bisa mencari gaun yang lainnya?"ucap Dira dengan lembut..
__ADS_1
"Aku akan bayar berapapun harganya asal gaun itu untuk saya." ucap Dimas masih ngotot..
Dira pun kembali menjelaskan bahkan ada perdebatan sedikit diantara keduanya..