Derita Wanita Malam

Derita Wanita Malam
34 - Anak Yang Baik


__ADS_3

Malam itu saat Alice di dalam kamar. tiba-tiba suara ketukan pintu kamar nya terdengar.


"kak Nora."Panggil Cantika.


"Masuk aja Cantika, pintu nya gak di kunci." Saut Alice.


Cantika pun masuk dan melihat Kakak nya sedang mengecat kuku di tangan nya.


"Kakak lagi ngecat Kuku, mau aku bantu gak?." Tanya Cantika.


"Iya boleh."BAlas Alice tersenyum.


Cantika pun mengecat kuku Alice dengan hati-hati. ia tahu kalau kakak nya sangat suka ada warna di jari kuku nya.


"Kamu datang kesini bukan karena mau bantuin kakak aja kan?, pasti ada yang mau kamu omongin kan?." Tebak Alice.


Cantikan tersenyum melihat Alice sejenak, lalu menyelesaikan cat Kuku yang sudah mau selesai.


"Udah."Ucap Cantika.


"Kamu mau ngomong apa?." Tanya Alice.


"Kak, kakak kerja di mana sekarang?."Tanya Cantika. Alice tersenyum menatap Cantika, ia sangat tahu kalau Cantika selalu mengkhawatirkan nya. apa lagi kalau soal pekerjaan.


"Kan kakak udah bilang, kakak ngerawat orang tua Cantika, kakak udah gak kerja di club' malam."Balas Alice.

__ADS_1


"Jadi itu benar kak?." Tanya Cantika lagi dan Alice mengangguk.


Cantika pun tersenyum senang. "Aku senang banget kak, Kaka gak kerja lagi disana, aku tu setiap malam selalu khawatiri kakak, apa lagi mengingat pekerjaaan kakak yang seperti itu."Ucap Cantika.


"Iya, kakak juga gak menyangka akan bebas secepat ini."Balas Alice.


"Setiap pagi aku antar kakak ya ketempat kerja."ucap Cantika.


"Iya boleh, tapi kalau gak repotin kamu."Balas Alice.


"Engak kok kak, aku malah senang bisa antar kakak ke tempat kerja kakak."Ucap Cantika dan Alice menatap adik nya sembari tersenyum.


•••


Alice yang sudah terbiasa bangun pagi pun tidak lagi terlambat, pas jam menunjukan pukul 7, Alice sudah sampai di rumah sakit dan menuju ke ruangan Bu Ajeng di rawat.


"Huh untung gak telat."Batin Alice saat sudah di depan pintu.


Saat Alice masuk, ia melihat Ares tertidur di sofa, ia juga melihat Bu Ajeng masih terlelap di dalam tidur nya.


Alice lalu berjalan mendekati pria itu, melihat laki-laki itu beberapa saat, lalu mengunakan jemari tangan untuk menyekat poni Ares, Ares terbangun dan mengangkat tangan Alice dengan reflek, membuat Alice terkejut.


Ares membuka mata dan melihat Alice yang menyentuh nya.


"Tuan."Alice ingin menarik tangan nya namun di tahan oleh Ares.

__ADS_1


"Ares duduk dan menatap Alice. "Siapa yang memberi mu izin menyentuh ku?." Tanya Ares.


"Tuan, saya tadi hanya menyekat rambut anda."Balas Alice.


Ares menatap Alice dengan senyuman tipis di bibir nya, hingga Alice hanya menundukkan wajah nya tak berani melihat Ares.


Tiba-tiba Bu Ajeng terbangun dan membuat Ares lekas melepaskan tangan Alice karena tak ingin Ibu nya memikirkan yang aneh-aneh, meski pandangan Bu Ajeng kosong, tapi tetap saja Ares menganggap ibu nya bisa merasakan.


"Selamat pagi Bu."Sapa Alice dengan ramah, namun Bu ajeng sama dengan ekspresi kosong nya menatap ke depan.


Ares lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.


"Bu, Tuan Ares tampak sangat menyayangi ibu ya, seharian disini untuk menjaga Ibu, Semoga ibu cepat sembuh ya Bu."Ucap Alice saat ia hanya berdua dengan Bu Ajeng.


Tiba-tiba dokter masuk bersama suster untuk memeriksakan keadaan Bu Ajeng, Alice pun berdiri menjauh namun mata nya terus melihat Bu Ajeng.


Saat Ares keluar dari kamar mandi ia melihat Dokter sedang memeriksakan keadaan Ibu nya.


"Bagaimana dok?"Tanya Ares.


"Keadaan nya sudah stabil, kalau Bu Ajeng mau di pulang kan juga sudah boleh, tapi tetap harus di jaga dan harus banyak beristirahat."Ucap Dokter.


Ares yang mendengar Bu Ajeng sudah bisa pulang pun merasa senang.


"Makasih Dok."Balas Ares dan Dokter mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2