Derita Wanita Malam

Derita Wanita Malam
72 - Direstui


__ADS_3

Di Kamar Ares, setelah mendapatkan telefon dari pengacara nya, laki-laki itu masuk ke kamar nya dan memikirkan apa yang tadi hampir ia lakukan pada Alice.


"Aku tak boleh melakukan itu."Batin Ares.


Setelah ia selesai mandi, ia pun keluar dari kamar dan menuju ke kamar ibu nya Karena sudah jam Alice akan pulang. Saat Ares sampai di kamar ibu nya, ia tak ada melihat Alice lagi.


"Ma, dimana Alice?." Tanya Area pada ibu nya yang sedang duduk menonton.


"Sudah mama suruh pulang, ini sudh jam 8, sudah jam nya di pulang kan?, Lagian ada yang jemput dia kata sekuriti kita."Balas Bu Ajeng.


"Siapa Ma?." tanya Ares.


"Siapa tadi Nora bilang pada mama, dia dokter kata nya, tapi mama lupa tadi siapa nama nya ."Ucap Bu Ajeng.


"Bryan."Nama itu reflek keluar dari mulut Ares.


"Nah, itu dia nama nya dokter bryan." kata Bu Ajeng.


Bu Ajeng melihat Ares yang beberapa saat terdiam saat mendengar kalau Alice sudah pulang dengan Bryan pun tersenyum.


"Kamu suka ya sama wanita itu?."Tanya Bu Ajeng.

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Ares menoleh ke arah ibu nya. "Mama tahu kok, kalau kamu suka pada Nora, Mama bisa melihat tatapan yang tak pernah kamu berikan pada Sora, terlihat jelas untuk Nora."Ucap Bu Ajeng.


"Iya Ma , Entah kenapa aku merasa nyaman saat dekat dengan dia."Ucap Ares.


"Ya kalau suka di ungkapkan, ke buru di ungkapkan oleh orang lain."Ucap Bu Ajeng.


"Mama setuju kalau aku menikahi Alice?, meski mama tahu masa lalu nya?." tanya Ares.


Bu Ajeng tersenyum. "Melihat ketulusan wanita itu, dan semangat bekerja nya walau hanya sebagai pengasuh orang tua, Mama bisa melihat kalau wanita malam bukan keinginan dia untuk bekerja disana, justru mama mendengar dari dia kalau ia sangat tidak ingin kembali kesana, kalau kamu bahagia dengan pilihan mu, mama juga bahagia Ares."ucap Bu Ajeng. Ares pun tersenyum.


"Tapi ingat, selesaikan dulu urusan mu dengan Sora, jika sudah selesai baru boleh menikahi Alice."Ucap Bu Ajeng.


Ares pun Lekas memeluk ibu nya, mendapatkan restu dari ibu nya membuat rasa lengkap bahagia dia hati laki-laki itu. Meski ia masih kepikiran pada Bryan yang datang menjemput Alice.


Ia lalu terpikirkan untuk menghubungi Alice. Ia pun menelepon ke Alice, Alice yang sedang berbaring di tempat tidur membayangkan cumbuan maut Ares pada nya tadi sore di buyarkan dengan deringan ponsel.


"Tuan Ares." Ucap Alice dalam hati nya.


"Iya Tuan."


"Kau sedang apa?." Tanya Ares.

__ADS_1


"baring."Jawab Alice.


"Tadi kau pulang tidak memberitahu ku?." Tanya Ares.


"Em, Tuan, Tadi saya buru-buru makanyabsampai lupa memberitahu tun."Balas Alice gugup.


"Kau kalau dengan laki-laki lain melupakan ku?."Tanya Ares., Alice mengerutkan kening nya.


"Tuan, anda menelepon ku hanya untuk tanya ini?." Ucap Alice mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kau kan bekerja pada, lain kali beritahu aku kalau kau mau pulang atau melakukan apa pun."Ucap ares ketus.


Pembukaan yang di awali ucapan lembut, mendadak dari agak tinggi. Alice pun jadi cemberut di buat nya.


"Kau dengar tidak?." Tanya Ares saat tak mendapatkan sautan dari Alice.


"Iya Tuan, saya mengerti."Balas Alice. sambungan telefon pun di tutup Ares setelah itu.


"*Astaga, laki-laki macam apa tuan Ares ini, tadi bahasa nya lembut mendadak menjadi kasar, Nyebelin sekali."Batin alice mengoceh sembari menatap ponsel nya.


Di tempat Ares.

__ADS_1


Ares menghela nafas saat menutup telefon nya. "entah kenapa aku merasa kesal saat mengingat dia jalan dengan laki-laki lain, apa lagi laki-laki yang sudah menyakiti nya."Ucap Ares*.


__ADS_2