Derita Wanita Malam

Derita Wanita Malam
86 - Kesunyian Malam


__ADS_3

1 Minggu sudah berlalu. Alice masih terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri. Ares yang masih harus duduk di kursi roda pun menemani Alice di ruangan tempat wanita itu di rawat.


"Kita belum menyelesaikan rencana kita, kapan kau akan sadar, Aku merindukan mu."Ucap Ares pada Istri nya itu.


Ia memegang tangan wanita itu, menempelkan pada Pipi nya, betapa sedih perasaan nya melihat keadaan Alice yang menyedihkan, seminggu sudah Ares tak mendengar suara istri nya itu, ia merasa ada yang hilang dalam hidup nya saat ini.


Saat hari sudah malam dan rumah sakit sudah tampak sunyi dan hanya terdengar langkahan yang sesekali terdengar, Ares menatap Andini hingga kantuk pun menghampiri diri nya, ia pun tertidur duduk di samping ranjang istri nya itu.


seharus nya Ares masih harus banyak istirahat untuk memulihkan diri nya dan kaki nya yang juga masih belum ada kata pulih dari dokter, tapi keras kepala nya Ares ingin menjaga istri nya tak bisa di hentikan oleh siapa pun.


Di dalam kamar tempat Alice di rawat hanya ada Ares dan Cantika yang sudah tertidur lebih dulu di sofa.


Ares Terlarut dalam tidur nya, Namun beberapa saat kemudian Ares kembali tersadar saat ia merasa kan sesuatu menyentuh kepala nya. pelahan mengangkat kepala nya hingga kantuk merangsur hilang saat Tahu Alice telah sadar dan menyentuh nya.


Alice tersenyum melihat Ares tanpa mengatakan apa pun. belum memeiliki tenaga yang cukup untuk bicara. dengan nafas yang masih terengah-engah dengan bantuan Selang nafas Alice menatap Ares.


"Sayang... kamu sudah sadar sayang."Ucap Ares antusias bahagia. seketika Cantika terbangun dan lekas menghampiri kakak nya saat melihat Kakak nya telah sadar.

__ADS_1


"Kenapa?, Sesak ya?."Tanya Ares pada Alice yang tanpa sulit menjangkau nafas nya.


"Kakak."Cantika terharu melihat kakak nya sadar.


"Aku akan panggilan dokter."Ucap Ares dan bergegas akan pergi, namun tangan Alice menahan nya dan mengurungkan Ares untuk pergi.


"Aku saja kak."Ucap Cantika dan berlari keluar memanggil dokter.


"A....ku Mau Bilang....(Terengah) , A..ku men...cintai..mu... Ares. Ja..ga A..dik dan.. Ibuku... untukku..."Ucap Alice dengan pelan dengan susah payah. kedua bibir nya tampak bergetar mengatakan hal itu.


"Apa yang kau katakan Nora, Kau akan sembuh, bertahan lah untuk ku."Ucap Ares dan tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi laki-laki itu.


"Jangan seperti ini, dokter akan datang memeriksa mu."Ucap Ares. Namun Alice yang semakin lemah pun hanya diam menatap Ares, mencoba memberikan senyuman pada suami nya itu.


"Kemana dokter ini. "Kesal Ares.


Alice tiba-tiba memgenggam tangan Ares dengan begitu kuat, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya untuk terakhir kali nya, pelahan genggaman tangan yang begitu kuat pun perlahan terlepas.

__ADS_1


"Nora... sayang... Nora bangun Nora, jangan tidur lagi, aku merindukan mu, ayo bangun, ayo bangun sayang"Ucap Ares dengan suara yang bergetar ia masih menepis kalau Nora telah meninggalkan nya selama nya.


Cantika kembali dengan dokter masuk ke ruangan itu, Cantika berdiri terdiam di pintu melihat kakak nya yang sudah terbujur kaku tak bergerak. seketika ia terduduk di lantai menangis dalam diam nya.


Dokter memrriska keadaan Nora, detak jantung nya, Dokter membuang nafas berat melihat Ares.


"Gimana dokter, tadi dia sadar dan pingsan lagi."Ucap Ares.


"Kami turut berduka cita pak, yang sabar Bu Nora sudah meninggal dunia."Ucap dokter seketika mematahkan hati Ares ia menangis dan memeluk Alice ke dalam pelukan nya.


"Tidak, tidak mungkin."


"Nora."


"Bangun Nora."


"Jangan Tinggalkan aku."

__ADS_1


"Ayo Bangun."


Isak tangis dan panggilan nama Alice pun terdengar memecah kesunyian malam yang tadi sempat tercipta beberapa sesaat sebelum Alice sempat terbangun hingga ia kembali menutup mata nya untuk yang terakhir kali.


__ADS_2