
Malam itu Alice benar menginap di rumah Ares, setelah memastikan Bu Ajeng sudah Beristirahat, Alice pun duduk di dalam kamar sembari menunggu Ares yang belum kembali dari kantor semalam ini.
Mata wanita itu melihat kamar yang begitu besar, di berikan Tuan Ares untuk ia menginap malam ini disini.
"Ini kamar siapa, Luas sekali."Batin Alice.
"Tapi Tuan Ares kemana ya, tuan Ares meminta ku untuk menginap, tapi dia bahkan belum kembali sudah semalam ini."Batin Alice sembari mata nya melirik ke jam dinding yang tergantung.
Alice pun membaringkan tubuh nya di tempat tidur, namun Tiba-tiba lampu di kamar mati, Alice yang takut kegelapan pun lekas merabah ponsel nya untuk meneranginya diri nya dari kegelapan.
Baru saja ia menyalakan senter pada ponsel nya, tiba-tiba lampu di kamar menyala, namun dengan lampu warna warni yang menghiasi kamar itu membuat Alice sangat terkejut,terlebih Ares tiba-tiba saja sudah ada di kamar itu, berdiri tersenyum menatap Alice.
"Tuan Ares."Ucap Alice dan mendekati laki-laki itu.
"Untuk mu."Ares memberikan sebuah buket bunga mawar untuk Alice, Alice pun menerima nya, ia merasa seperti mimpi Ares memberikan nya sebuket bunga yang terlihat Indah.
Ares lalu memutar lagu tanpa mengatakan apa pun lagi, Mata wanita itu hanya menatap tanpa mengalihkan kaki nya ke tempat lain.
Ares menatap nya dengan penuh arti, menatap nya dengan kelembutan dan kehangatan, membuat Alice tak bis mengatakan apa pun.
__ADS_1
Ares lalu memegangi tangan Alice dan mengambil buket itu dan menaruh nya di atas tempat tidur. Ares lalu menuntun tangan Alice melingkar di leher Ares, sementara tangan laki-laki itu memegangi pinggang Alice, Jelas Alice tahu Ares mengajak nya berdansa.
Kedua nya pun berdansa sembari kedua mata nya saling berpandangan.
"Tuan Ares, kenapa kau begitu romantis hari ini?, Anda mengajak ku berdansa, aku bahkan hanya memakai baju kaos biasa.." Tanya Alice dengan lembut.
"Karena ini hari yang spesial."Balas Ares.
"Aku tak mengerti." balas Alice.
Ares lalu menghentikan dansanya, megambil sesuatu dari balik saku celana nya. ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan membuka nya didepan Alice, Sebuah Cincin.
"Aku ingin menikahi mu."Ucap Ares.
Alice yang mendengar pun terkejut, raut wajah nya yang tadi tersenyum seketika berubah jadi murung. "Maaf tuan saya tidak bisa!." ucap Alice dan ia melangkah pergi dari hadapan ares, berdiri di dekat jendela kamar. menatap ke luar kamar dengan kedua mata yang sedih.
"Kenapa?, kau tidak menyukai ku?." Tanya Ares.
"Saya tidak layak untuk anda Tuan, di luar sana banyak wanita yang baik menginginkan laki-laki seperti anda."ucap Alice.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dengar kau menyukai ku atau tidak?." Tanya Ares.
"Kalau saya menyukai tuan, saya rasa saya tidak pantas menjawab itu."Ucap Alice.
Ares lalu memeluk Alice dari belakang membuat Alice lagi-lagi terkejut, sembari menyekat air mata yang lolos mengalir di tepi mata nya.
"Aku mencintai mu Nora, Kau sudah membuat ku jatuh hati, dan mengikatkan hati ku dengan nama mu."Ucap Ares.
"Tapi Tuan."Alice membalikan tubuh nya menatap Ares.
"Aku hanya ingin kau menjawab penyataan ku ini."Ucap Ares.
"Iya Tuan, Jujur saja saya sudah jatuh hati pada Tuan Ares."Ucap Alice tertunduk.
Ares yang mendengar tersenyum, ia lalu mengeluarkan cincin itu, menarik tangan Alice untuk ia pakaikan cincin.
"Maka aku akan menikahi mu setelah perceraiku selesai dengan Sora."Ucap Ares sembari memegangi dagu Alice dan mengangkat wajah nya.
Alice pun tersenyum ragu, Ares lalu mencium Alice kedua saling berciuman di depan jendela, dari Luar, Bryan yang datang bermaksud menjemput Alice melihat pemandangan itu di atas. ia pun meras sedih dan patah hati, ia lalu berjalan pergi dari tempat itu.
__ADS_1