
Saat Alice sedang menyuapi Bu Ajeng makan, Sora tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Sora duduk di samping Bu Ajeng, sementara Alice hanya duduk diam saja. "Ma, Mama sedang makan ya?, Mau Sora yang suapin?."Tanya Sora dengan lembut pada Bu Ajeng.
Tapi Bu Ajeng tak merespon, pandangan nya kosong, Sora pun menatap kasian Bu Ajeng.
"Alice, bisa kah kau tinggalkan aku dengan Ibu mertua berdua saja, aku akan menyuapi nya." tanya Sora.
"Maaf Nona, saya tidak bisa." jawab Alice.
"Kau berani melawan ku?, apa kau lupa aku adalah Istri dari majikan mu?." Tanya Sora.
"Bukan seperti itu Nona, tapi Tuan Ares sudah meminta saya untuk tidak meninggalkan Bu Ajeng sendiri, saya tidak bisa membantah itu."Ucap Alice.
Sora yang mendengar pun tampak kesal. "Seberapa dekat kau dengan suamiku?." Tanya Sora dengan lembut tapi dengan tatapan tajam menatap Alice.
"Saya hanya seorang perawan Buat Bu Ajeng, hanya sebatas itu Nona."Balas Alice.
"Bagus, ingat selalu dengan batasan antara kau dan suami ku Alice, atau kau akan terima akibat nya."Ucap Sora berbisik di telinga Alice agar tak di.dengar oleh Bu Ajeng.
Alice yang mendengar pun hanya diam saja. "Ingin rasa nya aku menjambak rambut mu yang menempel di pipi ku saat kau berbisik, untung saja kau istri Tuan Ares."Batin Alice.
__ADS_1
Sora lalu menatap Bu Ajeng."Ma, aku akan keluar sebentar, Mama istirahat ya."Ucap Sora dan mencium kening Bu Ajeng.
Alice yang melihat Sora hanya bersikap baik depan Bu Ajeng, tapi seperti Iblis kalau di depan nya. "Cantik belum tentu hati nya baik, pepatah itu ada pada diri mu Nona Sora, menjijikan sekali."Batin Alice menatap Sora.
Sora lalu berjalan keluar, sebelum ia berjalan keluar, Ia menatap Alice dengan sorotan mematikan, tapi Alice hanya biasa-biasa saja, ia tak perduli dengan tatapan itu, Ia sudah biasa menghadapi wanita seperti Sora yang mengamuk saat suami datang ke bar untuk di layani oleh diri nya.
"Bu Ajeng, jangan percaya dengan kata manis menantu Bu Ajeng itu, Ibu lihat tadi, dia berbisik di telinga ku dan mengancam ku, padahal aku tidak melakukan apa pun dengan Tuan Ares." Ucap Alice mengeluarkan uneg-uneg nya karena ia tahu Bu Ajeng tak akan menanggapi nya.
"Maaf ya Bu, saya banyak bicara, saya bosan karena di dalam kamar terus." Ucap Alice cengegesan.
•••
Ares yang sedang di sibukan dengan kerjaan kantor nya tiba-tiba mendapat telefon dari nomor tak di kenal. sejenak ia melihat sebelum ia mengangkat panggilan telefon itu.
"Iya."
"Selamat Siang menjelang sore Tuan Ares."Ucap Suara seseorang membuat Ares bertanya-tanya siapa orang yang menghubungi nya.
"Siapa ini?." Tanya Ares.
"Oh saya belum mengenali diri ku rupa nya, kenal kan saya Mark." saat nama itu di sebut Ares agak terkejut, namun ia membuang nafas untuk mencoba biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa anda diam?, Anda pasti sudah pernah mendengar nama itu ya?." Tanya Mark.
"Ada apa?."
"Saya tidak ingin membuang-buang waktu mu, saya hanya ingin anda mengembalikan wanita ku, apa perlu ku sebut nama nya?." Tutur Mark.
"Menurut mu aku akan memberikan pada mu?." Ucap Ares tersenyum kecil.
"Tentu saja, kecuali anda mau kalau Istri mu tahu, kalau wanita yang menjaga Ibunda tercinta mu seorang wanita malam."Ucap Mark.
"Kau mengancam ku?."
"Tidak, Tidak, mana mungkin saya berani mengancam anda, hanya mengingatkan mu saja."Balas Mark tersenyum licik.
"Jangan bermimpi aku akan memberikan apa yang kau mau."Ucap Ares dan membuat Senyuman sinis Mark pun berubah menjadi wajah kesal.
Ares lalu mematikan sambungan telefon dari Mark. "Sial, tunggu dan lihat saja, aku akan mendapatkan apa yang aku ingin kan."Ucap Mark dengan kesal.
Sementara Ares menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi, saat ini bukan saat nya ia memikirkan Sora, ia tak peduli kalau pun Sora harus tahu dan akan meninggalkan nya, karena memang tak ada cinta untuk wanita itu.
"Berani nya dia mencari tahu tentang diri ku."Batin Ares.
__ADS_1