Derita Wanita Malam

Derita Wanita Malam
59 - Tidak Akan Bisa


__ADS_3

Malam saat Alice sampai di rumah, Tampak Dokter Bryan duduk di ruang keluar bersama Ibu dan Cantika.


"Dokter Bryan."Ucap Alice dengan datar.


"Nora."Sapa Bryan.


"Dokter, boleh kita bicara sebentar di luar?."Tanya Alice. Bryan melihat Bu ayu dan Cantika, sebelum ia kembali melihat Alice dan mengangguk.


Bryan pun berjalan bersama Alice keluar dan duduk di teras rumah.


"Dokter Bryan, maaf kalau saya tidak sopan, jujur saja saya senang menjadi teman anda, tapi setelah hari ini saya melihat kalau anda masih berharap lebih dari saya dokter Bryan, kalau benar jujur saya tidak bisa, mungkin tidak akan pernah."Ucap Alice.


"Kenapa?, Aku tak perduli apa pekerjaan mu sebelum ini Nora, Saya sudah jatuh cinta pada mu."Ucap Dokter Bryan.


Alice terkekeh walau tampak ada kesedihan dalam tawa kecil nya itu.


"Dokter, tidak kah kau lihat, kita bahkan belum memulai nya, tapi sudah tidak di ada dinding pembatas untuk memisahkan kita, saya tidak bisa Dokter, saya tidak bisa."Ucap Alice dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Tapi Nora...."


"Dokter, mengerti lah kalau kita itu tidak akan pernah bisa bahagia kalau kita bersama, tolong lupakan saya, saya tidak pantas untuk Anda, di luar sana banyak yang lebih pantas untuk Anda, kita masih bisa berteman, tapi jangan ada perasaan seperti ini, saya tidak nyaman."Ucap Alice.

__ADS_1


Dokter Bryan membuang nafas berat dengan perlahan. Ia mengangguk mengerti kalau Alice tak lagi memberinya kesempatan.


"Aku Pergi dulu Nora, kapan-kapan aku akan datang lagi, tanpa perasaan seperti ini lagi."Ucap Dokter Bryan.


Kekecewaan dan kesedihan menyelimuti hati laki-laki itu, Ia melihat Alice sejenak sebelum ia berlalu pergi. Alice pun hanya bisa menatap laki-laki itu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.


"Ini perasaan sementara, hati ku masih mencari, aku pasti bisa melupakan nya."Batin Alice.


•••


Keesokan harinya.


Alice sedang membersihkan kamar Bu Ajeng sembari bersenandung. Bu Ajeng yang duduk di kursi roda tersenyum mendengar Alice yang bersenandung. ingin rasa nya ia bertanya pada Alice apa yang membuat nya bahagia hingga ia bersenandung.


Saat ia baru saja selesai memasang sprei di tempat tidur Bu Ajeng, tiba-tiba ia di kejutkan dengan Ares yang sudah berada di belakang nya. hampir saja ia menabrak laki-laki itu saat ia membalikan badan nya..


"Astaga Tuan Ares, anda mengagetkan saya."Ucap Alice.


"Begini saja terkejut, lagian apa yang membuatmu senang sampai bersenandung seperti itu?." Tanya Ares.


Alice pun tersenyum malu dan mengaruk kepala nya yang tidak gatal. "Tuan, hati saya sedang senang, makanya saya bersenandung."Ucap Alice.

__ADS_1


"Benarkah??" Tanya Ares dan Alice mengangguk pelan.


"aku ingin mengajak Ibu ku keluar untuk mencari udara yang segar, apa kau tahu dimana tempat yang tepat?." Tanya Ares.


Alice pun sejenak berfikir dan teringat pada danau yang baru saja ia katakan.


"Iya Tuan, saya tahu, kita ke danau saja, temapt yang sering saya datangi, disana tempat nya Indah dan...." Belum selesai ia menjelaskan, Ares berbalik untuk pergi, Alice pun cemberut.


"Cepat bersiap, aku tunggu di luar."Ucap Ares sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar itu.


Alice yang cemberut mendengar pun seketika tersenyum lebar. dan lekas menghampiri Bu Ajeng.


"Bu, ayo kita ganti pakaian, ibu pasti sangat senang kalau sampai di sana."Ucap Alice. Bu Ajeng ingin tersenyum dan menjawab ia, namun masih ia tahan.


Sementara Ares yang berdiri di luar mendengar dan tersenyum, ia sengaja bertanya seperti itu, karena ia mendengar kalau Alice merindukan danau yang biasa ia datangi, meski ia tak tahu dimana tempat nya, namun paling tidak ia bisa membuat wanita itu senang.


"Res, kau mau kemana?."Tanya Sora.


"Aku mau keluar sebentar ajak Mama jalan."Ucap Ares.


Sora pun terdiam, karena Ares tak mengajak nya. "Aku pergi dulu."Ucap Ares dan Sora tersenyum mengangguk.

__ADS_1


Alice yang sudah di dalam mobil bersama Bu Ajeng pun tersenyum melihat Sora yang di acuhkan Ares.


__ADS_2