
Hari ini adalah hari pertunangan Dewi dan Satya, dan Arjuna sudah mendengar kabar tentang hari pertunangan mereka.
Di ruang kerjanya, Arjuna terpekur sendiri sambil memainkan mouse komputer yang ada di hadapannya.
"Permisi pak," ucap sekertaris Arjuna sambil masuk ke dalam ruang kantornya.
Arjuna tak mendengarnya dan dia masih tetap merenung sambil memikirkan sesuatu.
"Pak, pak Arjuna....," panggil sekertaris Arjuna lagi sambil lebih mendekat ke arah Arjuna.
"Oh ya, ada apa?" tanya Arjuna dengan kaget.
"Ini pak, tadi ada orang suruhannya pak Satya memberikan undangan ini buat pak Arjuna," kata sekertaris itu sambil menyerahkan sebuah undangan pada Arjuna.
Arjuna menerima undangan itu dan ia menatap undangan itu dengan cukup lama.
"Emmmm pak, saya keluar dulu ya," pamit sekertaris Arjuna itu.
Arjuna menganggukkan kepalanya, lalu sekertaris itu keluar meninggalkan ruangan Arjuna.
Arjuna kembali memandangi undangan berwarna putih yang ada di tangannya, kemudian dengan perlahan ia membuka undangan itu dan mulai membacanya.
__ADS_1
Pertunangan antara Satya Atmadja dengan Dewi Putri Wijaya yang akan di laksanakan pada hari Minggu bertempat di hotel Java lotus , demikian isi undangan itu dan seketika darah Arjuna naik, dengan menggeget giginya Arjuna menutup undangan itu dan melemparkannya ke lantai lalu ia berdiri dari kursinya dan berkata sendiri dengan geram.
"Benar-benar keterlaluan Satya, sudah tahu Dewi itu masih milikku masih juga nekat bertunangan, apa sih maunya Satya itu, aku gak boleh biarkan ini aku harus cegah ini!!" teriak Arjuna sambil meninju meja yang ada di depannya dengan tangan kanannya secara berulang-ulang.
Dengan hati bergemuruh Arjuna keluar dari ruang kantornya dan berjalan menuju ke area parkiran mobil.
"Pak, pak Arjuna mau kemana? hari ini bapak kan mau ketemuan sama pak Leon pak?"
"Kamu bilang aja aku masih keluar feb," kata Arjuna dengan terburu-buru dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan Febri yang terbengong-bengong melihat sikap Arjuna.
"Pak Arjuna kenapa ya?" gumam Dewi sambil menatap kepergian Arjuna.
Arjuna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang dan tak berapa lama kemudian Arjuna sudah tiba di kantor Satya.
Dan.....
"Bugh," satu pukulan telak telah di layangan oleh Arjuna ke muka Satya yang tak menyadari akan kedatangannya.
Satya memegangi pipinya dengan tangannya dan menatap Arjuna dengan tatapan tajam.
"Kamu apa-apaan sih Jun, datang-datang main pukul aja!" teriak Satya.
__ADS_1
"Kamu memang benar-benar brengsek Satya, kamu masih saja nekat mau bertunangan dengan Dewi hah!!" Arjuna membentak Satya dengan geram.
"Kalau iya kenapa, undangannya kan sudah aku kirimkan ke kamu tadi," Satya melihat Arjuna dengan tersenyum mencibir.
Arjuna semakin kesal dengan ucapan Satya, lalu ia pun kembali bersiap menyerang Satya tapi Satya pun tak mau kalah, ia juga balik menyerang Arjuna dan terjadilah baku hantam antara keduanya.
Dewi yang mendengar ada keributan di dalam kantor Satya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kantor Satya dan dengan segera masuk kedalam, dan ia sangat terkejut sekali melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Satya dan Arjuna sedang baku hantam sampai muka mereka babak belur semua.
"Hentikan......!!! sudah-sudah jangan berantem, berhenti.......!!!" teriak Dewi dengan kencang dan berdiri di Tengah-tengah Satya dan Arjuna yang sedang berantem.
"Kalian apaan sih pakai berantem segala!! malu kalau di lihat orang," kata Dewi pada Satya dan Arjuna.
Arjuna dan Satya saling menatap dengan tatapan penuh amarah.
"Sudah mas, mas Arjuna keluar dari sini," ucap Dewi sambil mendorong tubuh Arjuna keluar dari ruang kantor Satya.
"Dewi, ingat aku gak akan pernah rela kamu jadi miliknya Satya!!! camkan itu!!" ucap Arjuna sambil menatap Dewi tajam-tajam.
Dewi diam saja tidak menjawab perkataan Arjuna, ia hanya menghela nafas dalam-dalam melihat kepergian Arjuna dari tempat itu.
__ADS_1
Lalu Dewi balik lagi masuk ke dalam kantor Satya dan menghampiri Satya yang sedang terduduk lemas di sofa sambil memegangi pipinya yang berdarah karena baku hantam dengan Arjuna tadi.
"Aku akan bersihkan luka-luka mu Satya," kata Dewi sambil meraih kotak p3k yang ada di lemari , lalu dengan perlahan ia mulai membersihkan pipi Satya yang terluka.