
"Aduh....kenapa perutku tiba-tiba sakit ini," Dewi meringis sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit sekali.
Dewi kemudian duduk di lobby gedung tempat Satya bekerja, rencananya Dewi mau menemui Satya ke kantornya tapi belum sempat ia masuk ke dalam ruangan Satya, tiba-tiba perutnya sakit sekali.
Sambil menahan perutnya yang sakit Dewi mencoba menelpon Satya namun berkali-kali Dewi menelpon tetap saja tidak di angkat oleh Satya.
Kemudian dengan sedikit terhuyung menahan rasa sakitnya, Dewi berjalan mencari pertolongan dan untunglah ada security yang mengenali Dewi.
"Bu Dewi kenapa Bu?" tanya security tersebut sambil berjalan menghampiri Dewi.
"Perut saya tiba-tiba sakit pak,saya minta tolong antarkan ke mobil saya ya pak?" pinta Dewi.
"Saya panggilkan pak Satya ya Bu?" kata security itu.
"Gak usah pak, pak Satya mungkin tidak di tempat karena tadi saya telpon gak di angkat-angkat."
"Oh, kalau begitu mari Bu Dewi saya antarkan ke mobil," security itu menuntun Dewi yang masih meringis memegangi perutnya.
"Terimakasih ya pak," kata Dewi setelah sampai di mobilnya.
"Bu Dewi biar saya aja yang antar Bu Dewi ke rumah sakit ya, saya takut bu Dewi kenapa-kenapa nantinya," ujar satpam itu pada Dewi.
"Iya pak, terimakasih," lalu Dewi masuk ke dalam mobil dan satpam itu pun mulai mengemudikan mobil Dewi menuju ke rumah sakit.
Dan tak berapa lama kemudian Dewi pun tiba di rumah sakit yang ditujunya.
"Pak, saya tinggal aja di sini bapak kembali aja ke kantor," ucap Dewi pada satpam itu.
"Tapi Bu Dewi gak apa-apa kalau saya tinggal?" satpam itu mengkhawatirkan keadaan Dewi.
"Saya gak apa-apa pak, terimakasih sudah menolong saya," Dewi tersenyum pada satpam baik itu.
"Iya Bu, sama-sama nanti kalau saya ketemu pak Satya saya akan kabari beliau tentang Bu Dewi."
"Iya pak, makasih."
__ADS_1
Kemudian pak satpam itu keluar meninggalkan Dewi sendiri di ruang tunggu rumah sakit.
Dewi masih menunggu nomer antriannya sambil sedikit menahan sakit perutnya, tiba-tiba ia melihat Satya yang keluar dari ruang dokter kandungan bersama seorang perempuan, mata Dewi mendelik melihat itu dan seketika ia berdiri sakit perut yang di rasakan nya mulai tadi mendadak hilang, lalu ia hendak melangkah mengejar Satya dan perempuan itu tapi tiba-tiba ia terhuyung karena perutnya kembali menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat dan seketika itu juga ada sebuah tangan yang meraih tubuh Dewi yang terhuyung.
"Mas Arjuna," pekik Dewi sambil meringis lagi memegangi perutnya yang sakit.
"Jangan paksakan untuk mengejar Satya, pikirkan perutmu dan bayi mu itu," kata Arjuna pada Dewi sambil mendudukkan Dewi ke bangku antrian yang tadi.
"Darimana mas Arjuna tahu?"
"Aku tadi sempat melihat Satya dan perempuan itu."
Dewi menahan air matanya untuk tidak keluar dia merasa malu pada Arjuna dan dia tidak ingin terlihat rapuh di mata Arjuna.
"Aku temani kamu periksa ya?" ucap Arjuna.
Dewi mengangguk pasrah, dalam pikirannya bertanya-tanya siapa perempuan yang bersama Satya tadi dan ngapain Satya ke dokter kandungan dengan perempuan tadi.
Tiba-tiba kepala Dewi terasa berat dan tidak sengaja ia menyandarkan kepalanya di pundak Arjuna yang duduk di sampingnya, Dewi memejamkan matanya berusaha menahan semua emosinya melihat kejadian tadi.
"Ibu Dewi Mariana!" tiba-tiba asisten dokter kandungan itu memanggil nama Dewi.
Seketika Dewi terhenyak dan buru-buru ia mengangkat kepalanya dari pundak Arjuna kemudian ia menoleh pada Arjuna dan menatapnya, Arjuna pun menatap Dewi dan keduanya terdiam.
"Giliran kamu periksa Wi," kata Arjuna kemudian.
"Oh ya," ucap Dewi sambil berdiri dan hendak melangkah menuju ruang dokter kandungan yang memanggilnya tadi.
"Kamu.....kuat jalan sendiri?" tanya Arjuna.
"Ya, aku kuat," ujar Dewi.
"Oke, kalau begitu aku tungguin kamu di sini ya."
Dewi mengangguk sambil menatap Arjuna tanpa ekspresi, lalu ia berjalan lagi menuju ruang dokter kandungan tersebut.
__ADS_1
Arjuna menatap Dewi dengan penuh perasaan sambil bergumam.
"Kasihan kamu Dewi, di saat kamu butuh Satya dalam kondisi seperti ini, Satya malah sibuk ngurusin perempuan lain."
"Bagaimana kondisi bayi saya dok?" tanya Dewi pada dokter yang sedang memeriksa kandungannya.
"Bayinya baik Bu, ibu juga harus jaga kesehatan jangan sampai stress dan kecapekan."
"Iya dok," jawab Dewi.
Arjuna memperhatikan Dewi yang sudah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana Wi hasil check up nya?"
"Baik-baik saja mas," kata Dewi.
"Syukurlah, kamu mau aku antar pulang?"
"Gak usah mas, aku bisa pulang sendiri."
"Oke, kalau begitu kamu hati-hati di jalan dan jangan lupa jaga kesehatan mu," ucap Arjuna.
" Ya mas makasih sudah menemani aku."
"Yah sama-sama, kamu hati-hati di jalan ya," pesan Arjuna pada Dewi.
Dewi menganggukkan kepalanya sambil melangkah pergi meninggalkan Arjuna.
Dan tak berapa lama kemudian Arjuna bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju parkiran, ia melihat Dewi berjalan dengan lunglai menuju mobilnya dan dari dalam mobil Arjuna memperhatikan Dewi yang tidak segera menjalankan mobilnya.
"Mas Arjuna kenapa harus kamu yang ada menemaniku di saat aku butuh mas Satya," air mata Dewi menetes ia merasa sangat kecewa melihat Satya tadi bersama perempuan.
"Dewi, aku tahu pikiran mu saat ini kacau karena tadi kamu melihat Satya dengan perempuan, aku harus ikuti Dewi aku tidak mau terjadi apa-apa dengan dirinya," Arjuna kemudian mengikuti mobil Dewi dari belakang.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Dewi melihat ke kaca spion mobilnya dan ia melihat mobil Arjuna yang sedari tadi mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Mas Arjuna mengkhawatirkan aku, sampai-sampai ia mengikuti aku dari belakang sementara mas Satya....ia tidak perduli dengan aku," kembali menetes air mata Dewi.