
"Kamu sendiri dari mana malam-malam begini hah! sampai istri mu kebingungan nyariin," kata Arjuna dengan nada kesal menatap Satya.
"Bukan urusan kamu!!"
Arjuna tersenyum sambil mendengus mendengar ucapan Satya barusan karena sebenarnya Arjuna tahu kemana Satya tadi pergi.
"Aku pergi dulu Wi," pamit Arjuna pada Dewi.
"Iya mas," jawab Dewi sambil tersenyum pada Arjuna.
Kemudian Arjuna pergi meninggalkan Satya dan Dewi yang masih berdiri di depan kamar mereka.
"Mas....kamu dari mana aja sih....aku dari tadi bingung nyariin kamu....," kata Dewi.
"Kita masuk dulu ya, nanti aku ceritakan di dalam," kata Satya sambil merangkul Dewi masuk ke dalam kamar.
"Ponselku mana sayang?" tanya Satya ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar.
"Itu mas masih di atas meja di tempatnya semula," tunjuk Dewi pada meja kecil samping tempat tidur.
Satya bergegas berjalan ke arah meja kecil itu lalu ia menyambar ponselnya dengan tangan kanannya.
"Sayang, kamu tadi membuka ponsel ku?" tanya Satya pada Dewi sambil mengangkat ponselnya yang ia pegang.
__ADS_1
Dewi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Satya yang sepertinya sangat takut sekali kalau dirinya tadi membuka ponselnya.
"Enggak kok aku tadi gak buka ponsel mu mas, memangnya kenapa?" tanya Dewi agak curiga.
Satya menangkap ada rasa kecurigaan dari pertanyaan Dewi barusan.
"Mmmmm....enggak sayang bukannya apa, aku takut tadi ada telpon dari klien," ujar Satya sambil tersenyum pada Dewi.
"Oh...aku kirain kenapa mas."
"Ya sudah kalau begitu kita tidur ya, aku ngantuk sekali," ucap Satya sambil merangkul Dewi dan mengajaknya tidur.
Pagi ini Satya buru-buru bangun dan bergegas keluar kamar sebelum Dewi terbangun dari tidurnya.
Satya bergegas menuju ke kamar Rere dan setiba di depan kamar Rere langsung saja Satya masuk dan ia melihat Rere masih tertidur, kemudian Satya mendekati Rere dan menyentuh kening Rere yang ternyata masih panas.
Tiba-tiba Rere menggeliat dan perlahan membuka matanya.
"Satya, kepalaku masih pusing," ucap Rere sambil memegangi tangan Satya.
"Iya, panas tubuhmu juga belum turun, sekarang coba minum obatnya lagi," ujar Satya.
Rere mengangguk dan mau minum obat, kemudian Satya mengambil gelas yang berisi air putih dan mengambil obat penurun panas.
__ADS_1
"Ini Re, ayo di minum obatnya," Satya menyodorkan gelas yang berisi air dan obat pada Rere.
Dengan perlahan Rere meminum obat penurun panas tersebut.
"Kamu mau makan apa Re?" tanya Satya.
"Aku gak mau makan apa-apa, lidahku terasa pahit sekali," kata Rere sambil meringis.
"Tapi kamu harus makan Re, biar kamu gak lemes dan cepat sembuh."
"Iya tapi perutku mual kalau makan nasi."
"Kalau begitu aku belikan roti ya," ucap Satya.
Rere mengangguk perlahan dan kemudian Satya pamit keluar untuk membeli roti.
Satya berjalan keluar dari kamar Rere dan kemudian ia mencari toko roti di sana.
"Nah itu dia toko rotinya, kemudian Satya masuk ke dalam toko roti tersebut dan langsung membeli roti tawar buat Rere .
Tiba-tiba ponsel Satya berdering sebuah panggilan dari Dewi.
"Iya sayang," Jawab Satya.
__ADS_1
"Mas .....kamu ke mana lagi sih....kok sudah gak ada lagi di dalam kamar sepagi ini...??" tanya Dewi.
"Mmmm....anu sayang, mmmm ......aku minta maaf ya karena tadi pagi tiba-tiba ada telepon mendadak dari pak Wijaya untuk bertemu pagi ini dan aku tadi gak sempat pamitan sama kamu karena kamu masih tertidur dan aku gak tega mau bangunin sayang," Satya berkilah.