Dewi Untuk Arjuna

Dewi Untuk Arjuna
Bab. 51


__ADS_3

Dewi terlihat merenung di meja kerjanya, ia tak habis pikir dengan kelakuan Satya yang sudah menduakan dirinya.


Dewi memejamkan matanya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sementara Della yang duduk di meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Dewi terus saja memperhatikan sikap managernya tersebut.


"Bu Dewi, sakit?" tanya Della memberanikan diri bertanya pada Dewi.


Perlahan Dewi mulai membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya, lalu ia melihat ke arah Della sambil menghela nafas panjang.


"Enggak Del, aku gak apa-apa," ujar Dewi sambil menipiskan bibirnya.


"Tapi sepertinya ibu sedang tidak baik-baik saja, ibu....seperti sedang memikirkan sesuatu?" selidik Della pada Dewi.


Dewi menatap Della agak lama, lalu ia kembali mengalihkan pandangan nya pada komputer yang ada di hadapannya.


Della merasa kalau Dewi sedang menyembunyikan sesuatu darinya, lalu dengan suara agak pelan Della berkata pada Dewi.


"Bu, kalau ibu ada yang ingin di ceritakan, ceritakan saja Bu...saya siap mendengarkan siapa tahu saya bisa bantu ibu...," ujar Della sambil tersenyum pada Dewi.


Dewi kembali menatap Della, lalu ia tersenyum sambil menghela nafas panjang lagi dan berkata pada Della.


"Del, kamu sudah punya pacar?" tanya Dewi.


"Emmmm....sudah Bu."


"Misalkan suatu hari kamu menemukan kalau pacarmu selingkuh, gimana perasaan mu?"


"Ah Bu Dewi ini aneh-aneh saja pertanyaan nya, lagian amit-amit deh Bu kalau saya punya pacar yang selingkuhi saya di belakang pasti deh udah saya tinggalin tuh cowok, kan masih banyak cowok yang lain," kata Della dengan tegas.


Dewi menganggukkan-anggukkan kepalanya sambil memicingkan matanya menatap Della.


"Sebentar-sebentar, kenapa.... tiba-tiba bu Dewi bertanya seperti itu?" tanya Della sambil mengerutkan keningnya menatap Dewi.


"Ah enggak, aku cuma sekedar bertanya aja kok," kata Dewi sambil tersenyum.


"Bu Dewi.....ibu gak usah khawatir, saya tahu kok kalau bu Dewi itu takut kalau pak Satya selingkuh kan....?"


"Degh," Dewi kaget mendengar penuturan Della barusan macam peramal saja ia berkata seolah-olah tahu apa yang sedang Dewi rasakan saat ini.


"Emmmm... kadang-kadang ada sih perasaan khawatir pada mas Satya."


"Emmmm....iya sih, khawatir sama pasangan kita itu memang wajar sih, tapi....kalau menurut saya pak Satya itu orangnya sayang banget loh sama Bu Dewi, jadi Bu Dewi gak usah khawatir deh karena Della yakin pak Satya gak akan menduakan Bu Dewi," ucap Della meyakinkan Dewi.

__ADS_1


"Begitu ya Del."


"Iya Bu....," ucap Della lagi sambil tersenyum menatap Dewi.


Dari arah pintu tiba-tiba muncul Satya sambil membawa buket bunga tulip.


"Sayang, aku bawakan bunga ini buat kamu," ucap Satya sambil berjalan menghampiri Dewi yang masih duduk di kursi kerjanya.


Della tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya menatap Dewi.


Sekilas Dewi pun melihat ke arah Della lalu buru-buru ia alihkan pandangan nya pada Satya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Bunganya buat aku mas?" tanya Dewi seolah sudah melupakan kejadian yang kemaren.


"Iya dong sayang ......bunga ini khusus aku pesankan baut istriku yang tercinta," kata Satya sambil menatap Dewi mesra.


Dewi tak mampu menghindari tatapan mesra dari Satya dan hatinya pun mulai meleleh dan melupakan kemarahannya yang kemaren itu.


"Ehm, Bu Dewi saya keluar dulu ya," kata Della tiba-tiba yang tidak mau menjadi pengganggu kemesraan mereka berdua.


"Iya Del," ucap Dewi sambil tersenyum pada Della.


"Pak Satya, saya keluar dulu ya," pamit Dewi pada Satya.


Kemudian Della pun keluar ruangan meninggalkan kedua bos nya di ruangan itu.


"Sayang, aku mau ngajak kamu makan siang bareng."


"Boleh."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang ya."


"Iya," ucap Dewi sambil bangkit dari kursinya.


Satya kemudian merangkul pundak Dewi, lalu mereka berjalan bersama menuju keluar gedung perkantoran.


Setiba di area parkir mobil, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian Satya mulai mengemudikan mobilnya menuju ke restoran untuk makan siang bersama Dewi.


Dan tak berapa lama akhirnya mereka pun tiba di restoran yang di tuju, lalu keduanya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran.


Setiba di meja yang kosong dengan segera Satya menggeser kursi ke belakang dan mempersilahkan Dewi untuk duduk.

__ADS_1


"Makasih mas," ucap Dewi.


Satya menyunggingkan senyumnya pada Dewi sambil berkata padanya.


"Oh ya sayang, kamu mau makan apa?"


"Emmmm sepertinya aku pengen makan makanan yang berkuah aja deh mas."


"Ya, kamu pilih aja sayang di sini banyak kok makanan yang berkuah," kata Satya sambil menunjuk pada buku menu yang ada di atas meja.


Kemudian Dewi mulai membaca menu-menu makanan yang ada di daftar buku restoran tersebut.


"Bagaimana sayang? kamu jadi makan apa?"


"Aku makan soto ayam kampung saja mas."


"Oke, kalau begitu aku juga sama."


Kemudian Satya mengangkat tangan kanannya ke atas memanggil pelayan restoran.


Dan tak lama pelayan restoran itu pun menghampiri meja Satya dan Dewi.


"Mbak, kita pesan soto ayam kampungnya dua porsi sama minumnya es campur dua porsi juga," ucap Satya pada pelayan resto tersebut.


"Baik pak,silahkan di tunggu," kata pelayan resto itu dengan ramah.


Satya dan Dewi tersenyum pada pelayan resto tersebut.


"Sayang, kamu sudah tidak marah lagi sama aku?" tanya Satya sambil meraih tangan Dewi dan menggenggamnya.


"Sebenarnya aku masih marah sih mas, karena kamu gak jelasin pada aku yang sebenarnya itu bagaimana? dan kenapa tiba-tiba perempuan yang bernama Rere itu datang ke kantor aku dan mengatakan kalau dia sekarang sedang mengandung anak kamu mas," Dewi berkata dengan penuh amarah.


"Iya, iya sayang aku paham sekali bagaimana perasaan mu ketika mendengar perkataan Rere itu, tapi.... sayang aku mohon kamu gak usah dengerin apa kata Rere karena semua itu tidak benar dan ia hanya ingin menjatuhkan reputasi ku sayang," Satya mulai berbohong pada Dewi.


"Apa bener itu mas?" tanya Dewi masih tidak percaya.


"Sayang....kamu percaya sama aku ya, aku tidak akan pernah menduakan istri ku yang paling aku cintai dan aku sayangi seumur hidupku ini," Satya merengkuh pundak Dewi dan mencium keningnya dengan mesra.


"Oke, untuk kali ini aku percaya pada mas Satya, tapi awas kalau nanti mas Satya terbukti berbohong, aku tidak segan-segan akan meninggalkan mas Satya," ujar Dewi dengan ketus.


"Sayang ...kok ngomongnya gitu sih, aku akan selalu menyayangi kamu sayang sampai mati nanti, ayo dong mana senyumnya istriku yang cantik ini....," ujar Satya tersenyum menatap Dewi.

__ADS_1


Akhirnya Dewi pun tersenyum dan melupakan kecurigaan nya terhadap Satya.


__ADS_2