
"Itu pak Satya sama siapa ya?"
"Bukan istrinya kayaknya."
"Eh iya perempuan itu bukan istri pak Satya, terus siapa dia sepertinya dia tidak pernah ke sini."
"Iya aku juga gak pernah liat dia masuk ke sini , masalahnya aku hapal sih orang-orang yang keluar masuk kantor ini."
"Iya betul aku juga gak pernah lihat perempuan itu, kayaknya dia dekat banget sama pak Satya."
Begitulah bunyi obrolan karyawan-karyawan ketika melihat Satya dan Rere.
"Ayo Re, cepet masuk ke mobil!!" seru Satya pada Rere.
"Iya iya, sabar dikit kenapa sih kepalaku kan masih pusing," kata Rere sambil masuk ke dalam mobil Satya.
Di dalam mobil Rere bersikap manja sekali pada Satya dengan merebahkan kepalanya di pundak Satya yang sedang menyetir mobil.
"Rere, apa-apaan sih kamu ini, aku kan sedang nyetir ini jangan kayak gini lah Re," kata Satya pada Rere.
"Kepalaku pusing banget Satya.....masak aku gak boleh pinjam pundak mu sebentar saja sih."
"Kamu kan bisa bersandar di kursi Re."
Akhirnya Rere pun bersandar di kursi tempatnya duduk dan sesekali ia melirik kearah Satya yang sedang menyetir mobil.
"Kamu masih seperti yang dulu Satya," kata Rere dalam hatinya sambil tersenyum sendiri.
"Di mana apartemen mu Re?" tanya Satya setelah beberapa menit berjalan.
"Kamu ikuti jalan ini aja nanti di depan sana ada persimpangan kamu belok kiri di situ nanti kelihatan ada apartemen Puri kencana."
__ADS_1
Satya mengikuti petunjuk yang diarahkan Rere dan tak berapa lama kemudian mereka tiba di apartemen yang di maksud Rere tadi.
"Sudah sampai Re," kata Satya pada Rere yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Anterin masuk dong Satya, aku takut jatuh nanti kalau jalan sendiri kan kepalaku masih pusing ini," kata Rere sambil memegangi tangan Satya.
"Kamu ini Re....aku harus cepat balik ke kantor ini," kata Satya dengan kesal.
"Ya sudah kalau begitu aku gak mau keluar dari mobil ini," Rere mengancam Satya.
"Oke, oke aku antar kamu masuk kedalam apartemen mu."
Lalu Satya pun menuruti permintaan Rere dan ia masuk ke dalam apartemen Rere sambil memapahnya.
"Sekarang kamu sudah aku antar dan sekarang aku mau pulang," Satya berkata dengan geram sambil menatap Rere.
"Makasih Satya .......aku bahagia sekali hari ini ," ucap Rere sambil tersenyum pada Satya.
"Satya ... Satya.....aku akan pastikan kamu akan jatuh ke dalam pelukan ku lagi," ucap Rere sambil tertawa puas.
Satya keluar dari apartemen Rere dan langsung berjalan menuju ke mobilnya.
Dari jauh tampaknya Arjuna melihat Satya memasuki apartemen itu bersama Rere sewaktu ia juga melintas di jalan depan apartemen Rere.
"Itu kan perempuan yang bersama Satya sewaktu di cafe itu, ada hubungan apa sebenarnya Satya dengan perempuan itu?" Arjuna bertanya-tanya sendiri.
Arjuna kemudian mengemudikan mobilnya melaju meninggalkan area itu.
Dan ketika lampu lalu lintas berwarna merah Arjuna menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Satya.
"Apa perempuan itu selingkuhan Satya?" Arjuna kembali bertanya-tanya.
__ADS_1
Satya sempat melihat ke arah spion mobilnya dan ia terkejut ketika melihat mobil Arjuna berada di belakangnya.
"Mobil Arjuna? jangan-jangan Arjuna melihat aku dan Rere tadi," Satya mulai gusar.
Lampu lalu lintas mulai menyala hijau, Satya segera melaju jauh meninggalkan Arjuna yang berada di belakangnya.
Sementara Arjuna juga melaju meninggalkan lampu merah itu.
"Apa aku harus cerita pada Dewi ya, tentang Satya dan perempuan tadi itu?" Arjuna berkata sendiri sambil menyetir mobilnya.
Satya yang sudah tiba di kantornya langsung saja menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
Sesaat kemudian Satya meraih gelas yang berisi air putih yang sudah tersedia di atas meja kerjanya itu.
Satya meneguk air putih tersebut dengan perlahan sampai tinggal separo, kemudian ia menyandarkan kepalanya di kursinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Satya melihat ke arah ponselnya dan ternyata yang meneleponnya adalah Dewi.
Kemudian Satya mengangkat telepon dari istrinya itu sambil berkata.
"Ya sayang, ada apa?" tanya Satya pada Dewi.
"Mmmmm.....aku pengen pulang kerja nanti kita makan malam di cafe ya?" tanya Dewi pada Satya.
"Boleh sayang, kamu tentukan saja di cafe mana kita nanti makan malam ya."
"Iya, makasih mas....."
Tepat pukul tujuh malam ini Dewi sudah bersiap-siap untuk makan malam di cafe bersama Satya.
"Sudah siap sayang?" tanya Satya sambil memperhatikan Dewi yang mengenakan gaun warna pastel.
__ADS_1
"Sudah mas," jawab Dewi dengan menyunggingkan senyumnya pada Satya.