
Dewi keluar dari rumahnya dengan amarah yang bergemuruh di dadanya, ia berjalan menuju ke mobilnya dan tak lama kemudian ia sudah mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya.
Beberapa menit kemudian Dewi sudah tiba di kantornya.
"Pagi Bu," sapa Della pada Dewi ketika masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi Del," jawab Dewi sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
Della memperhatikan raut muka Dewi yang sepertinya sedang menyimpan sesuatu yang terpendam.
"Della, tolong tinggalkan aku sendiri dulu ya," ucap Dewi pada Della sekertarisnya itu.
"Baik Bu," ucap Della sambil keluar dari ruangannya.
"Bu Dewi kenapa ya? apa dia habis bertengkar dengan pak Satya?" Della bertanya-tanya sendiri.
"Aduh, kalau jalan hati-hati dong....!" teriak sebuah suara yang mengejutkan Della.
"Mmmmm maaf mbak mau ke mana?" tanya Della pada perempuan itu.
"Aku mau ke kantornya Bu Dewi," jawab perempuan itu dengan ketus.
"Mbak sudah ada janji dengan Bu Dewi?" tanya Della lagi pada perempuan itu.
"Enggak."
"Kalau begitu,mbak gak bisa ketemu Bu Dewi kalau belum buat janji dulu," ucap Della pada perempuan itu.
"Aduh ribet amat sih kamu!" ujar perempuan itu yang lalu bergegas menuju ke kantor Dewi.
"Aduh....siapa sih perempuan itu?sepertinya. dia bukan teman bu Dewi," Della ngomong sendiri sambil menatap perempuan itu.
"Kriek...," terdengar pintu seperti di buka oleh seseorang.
Dewi menatap perempuan yang sedang berdiri di depan pintu yang menatap tajam padanya, perempuan yang berperawakan tinggi semampai dengan rambut lurusnya yang panjang sebahu dengan kulit sawo matang mengenakan stelan blazer berwarna taro.
__ADS_1
"Maaf, mbak siapa ya? perasaan hari ini saya tidak ada janji dengan klien?" tanya Dewi pada perempuan itu.
Perempuan itu tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Dewi duduk.
Kemudian perempuan itu berdiri di hadapan Dewi dan menatap Dewi dengan tatapan sinis.
"Kenalkan,namaku Rere," kata perempuan itu pada dewi.
"Degh," jantung Dewi serasa berhenti berdetak .
Tapi sebisa mungkin Dewi menjaga sikap meski di dadanya sudah bergemuruh kemarahan karena sikap Satya yang telah menduakan dirinya dengan perempuan yang bernama Rere yang sekarang sudah ada di hadapannya.
"Ya, ada perlu apa ya?" tanya Dewi pada Rere.
"Aku cuma mau ngasih tahu ke kamu, kalau aku sekarang sedang hamil, dan anak yang ada di dalam perutku ini adalah anak Satya," ucap Rere sambil tersenyum mencibir pada Dewi.
"Degh," jantung Dewi seperti copot dari tempatnya tapi dia tetap berusaha tenang meski hatinya ingin berontak dan tangannya ingin sekali menggampar perempuan yang ada di depannya itu.
"Oh ya," ucap Dewi sambil menatap Rere dan mencibirkan bibirnya.
"Kenapa kamu santai aja menanggapi ceritaku ini," ucap Rere dengan heran.
"Hmmmm....aku mau Satya menjadi milikku seutuhnya seperti dulu sebelum dia menikah dengan kamu!" Rere menuding wajah Dewi dengan jari telunjuknya.
"Silahkan, kalau kamu bisa," kata Dewi sambil berdiri dari tempatnya duduk.
"Brengsek! kamu menantang aku!" ucap Rere dengan geram.
"Enggak, aku gak menantang, oh ya kalau sudah selesai silahkan keluar dari ruang kantor ku karena aku juga mau bekerja," kata Dewi pada Rere sambil menipiskan bibirnya.
"Gak usah kamu suruh pun, aku akan keluar dari sini," umpat Rere dengan bersungut-sungut melangkah keluar dari ruang kantor Dewi.
Selepas kepergian Rere, kembali Dewi melangkah menuju meja kerjanya sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya dan menatap kosong ke arah pintu kantornya.
"Tuhan.....semoga aku kuat menghadapi ini semua," ucap Dewi sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bu Dewi, maaf tadi orang itu langsung aja ke ruangan Bu Dewi, saya tadi sudah berusaha mencegahnya tapi perempuan itu ngeloyor aja masuk ke ruangan Bu Dewi," kata Della sambil tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Dewi.
Dewi membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya dan ia menatap Della yang masih berdiri di pintu.
"Gak apa-apa Della, dia sudah pergi," ujar Dewi.
"Bu Dewi sakit? saya buatkan minuman hangat ya?" ucap Della yang melihat Dewi seperti lesu sekali.
"Enggak-enggak Del, makasih aku gak apa-apa kok."
"Iya Bu," kata Della sambil terus memperhatikan Dewi yang sedang memikirkan sesuatu.
"Della, aku keluar dulu ya," ujar Dewi sambil melangkah keluar dari ruang kantornya.
"Iya Bu, Bu Dewi kenapa ya, kok seperti orang bingung gitu kasihan bu Dewi pasti nih gara-gara perempuan yang tadi main masuk aja ke ruangan Bu Dewi."
Dewi melangkah keluar dari gedung perkantoran nya dan sejurus kemudian melaju dengan mobilnya menuju ke sebuah cafe yang biasa ia datangi, dewi mengambil tempat duduk di pojokan sambil memperhatikan penyanyi cafe yang sedang melantunkan sebuah lagu.
"Hai," tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.
Dewi menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya itu dengan tatapan datar, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada penyanyi cafe tersebut.
"Lagunya enak banget di dengarkan ya," ucap laki-laki itu yang kemudian menarik kursi di depan Dewi dan duduk di situ.
"Kamu kenapa Wi?" tanya nya sambil menyelidik menatap wajah Dewi.
"Aku gak apa-apa," ucap Dewi berusaha menyembunyikan kegalauannya.
"Jangan bohong Wi, aku sudah lama mengenalmu dan sikapmu yang seperti ini menunjukkan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja, iya kan?" tanya laki-laki itu lagi sambil menatap tajam ke mata Dewi.
"Mas Arjuna .....tolong jangan ganggu aku, aku sekarang lagi pengen sendiri oke," ucap Dewi pada Arjuna.
Arjuna menatap Dewi sambil manggut-manggut dan mengerucutkan bibirnya.
"Oke, aku tetap stay di sini dan aku tidak akan mengganggumu," ujar Arjuna.
__ADS_1
"Enggak-enggak, lebih baik mas Arjuna cari tempat duduk lain aja ya," Dewi melebarkan matanya menatap Arjuna.
"Okke........," jawab Arjuna sambil beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan mencari tempat duduk yang kosong.