
Sesampainya di rumah sakit, Satya kemudian memapah Rere masuk ke dalam dan setelah itu Satya menunggu Rere di luar.
"Bagaimana dokter? sebenarnya saya sakit apa ya dok?" tanya Rere pada dokter yang sudah memeriksanya.
Dokter itu tersenyum sambil berkata pada Rere.
"Mbak gak sakit apa-apa, memang sudah biasa kalau di awal gejalanya memang seperti itu," ujar dokter itu.
"Maksudnya saya gak sakit apa-apa tapi kenapa saya sering pusing akhir-akhir ini dok?" Rere masih penasaran.
"Mbak, mbaknya itu lagi hamil sekarang makanya saya bilang tadi kalau di awal-awal kehamilan memang seperti itu gejalanya," dokter itu tersenyum lagi pada Rere.
"Apa!! saya hamil?! beneran itu dok?!" tanya Rere dengan mimik muka penuh kegembiraan.
"Benar, mbak hamil dan usia kehamilannya baru satu Minggu kalau di cek dari datang bulan yang terakhir."
"Bagus, Satya harus tahu ini dan....pastinya dia akan semakin lengket sama aku dengan adanya janin ini," Rere tersenyum puas sambil mengusap perutnya.
"Oh ya dokter, terimakasih," ujar Rere sambil turun dari ranjang pemeriksaan dan berjalan menuju ke pintu.
Rere keluar dari ruangan tempat ia di periksa tadi dan di luar kamar, ia melihat Satya sedang menunggunya di sana, lalu dengan tersenyum dan mata berbinar-binar Rere berjalan menghampiri Satya yang sedang duduk sambil mengutak-atik ponselnya.
"Satya," sapa Rere setelah mendekati Satya.
"Ya, bagaimana hasil pemeriksaannya tadi?" tanya Satya pada Rere.
Rere tersenyum sambil memegangi perutnya dan berkata pada Satya.
"Aku hamil, hamil anak kamu," ujar Rere menatap Satya.
"Apa!? hamil!!!? gak mungkin Re, ini gak mungkin terjadi," Satya berkata sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Beneran Satya, aku hamil kata dokter tadi usianya baru satu Minggu."
"Gak, itu gak mungkin Re."
"Kenapa gak mungkin Satya, kamu lupa kita pernah melewatinya malam itu berdua," ucap Rere sambil memegangi lengan Satya.
"Ahhh....!!!!! brengsek, bagaimana itu sampai terjadi," Satya mengumpat sambil mengepalkan kedua tangannya dengan emosi.
"Sudahlah Satya......semuanya sudah terlanjur terjadi dan kita juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini......," ucap Rere sambil mengelus pundak Satya yang sedang terduduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sementara itu di kantor Dewi sana, Dewi sedang ngobrol dengan Mira temannya.
"Oh ya Dew, apa kamu sudah ngasih tahu ke Satya soal hasil testpack mu itu?" tanya Mira pada Dewi.
"Belum," ucap Dewi sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
"Belum!!?" tanya Mira dengan raut muka keheranan.
"Kenapa belum, Satya kan suamimu dan dia harus tahu terlebih dahulu soal hasil testpack mu yang positif itu, aku yakin Satya pasti bahagia mendengar kamu sudah hamil," kata Mira sambil tersenyum pada Dewi.
"Akhir-akhir ini mas Satya sering pulang larut dan aku gak sempat cerita soal hasil testpack ku ini padanya, karena tiap datang mas Satya mesti langsung tidur," ucap Dewi.
"Kalau menurut aku nih Dew, kamu harus secepatnya kasih kabar ke Satya soal kehamilan mu itu."
"Iya, nanti aku akan cerita pada mas Satya dan sekalian mau cek kehamilan ke dokter."
"Bagus, itu lebih baik," kata Mira sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
"Kamu gak makan siang di sini Mir?"
"Emmmm.....kayaknya aku gak bisa deh kalau siang ini soalnya aku ada janji sama Kenzo mau makan bareng."
__ADS_1
"Cie....cie.....yang lagi bucin......ya udah deh selamat menikmati makan siang bareng Kenzo ya," kata Dewi sambil tersenyum.
"Apaan sih, ya udah kalau begitu aku balik dulu ya Dew," ujar Mira sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Oke, kamu hati-hati di jalan ya Mir," ucap Dewi sambil mengantar Mira keluar dari ruang kantornya.
Dewi kembali ke ruang kantornya dan dengan segera ia meraih ponselnya yang sudah berdering dari tadi.
"Mas Arjuna? ngapain mas Arjuna telpon aku?" Dewi bertanya-tanya sambil menggenggam ponselnya yang sudah ia pencet tombol terima.
"Wi, kamu sudah makan siang?" tanya Arjuna dari ponselnya.
"Belum," ucap Dewi.
"Mmmmm bagaimana kalau kita makan siang bareng ya, aku tunggu kamu di cafe star, bagaimana?"
"Mas Arjuna....aku gak mau," Dewi menolak ajakan Arjuna.
"Kenapa gak mau? Satya aja bisa makan siang bareng sama cewek lain kenapa kamu enggak?"
"Mas Arjuna......kalau aku menerima ajakan mu makan siang, itu sama halnya dengan mas Satya dong, aku makan siang dengan suami orang dan menyakiti hati istrinya iya kan!!?"
"Dewi...Dewi ..kamu memang terlalu baik buat Satya, dan aku gak mau kamu merasakan sakit yang kedua kalinya Wi," nada suara Satya melemah.
"Sudahlah mas Juna, aku bisa atasi masalah rumah tangga ku sendiri dan lagian kan masih belum terbukti kalau mas Satya memang selingkuh."
"Oke Wi, kalau kamu masih mencari bukti-bukti nya dan kalau kamu butuh bantuan dari aku, aku akan siap membantumu."
"Iya mas Juna, makasih karena sudah prihatin padaku."
"Ya," Arjuna menutup teleponnya dan kemudian ia menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sambil tatapannya menerawang ke mana-mana.
__ADS_1
"Sebenarnya hatiku juga sedikit curiga dengan sikap mas Satya akhir-akhir ini yang sering pulang larut, tapi ah...sudahlah mudah-mudahan pikiran ku dan mas Arjuna tidak benar soal mas Satya," Dewi mencoba menepis semua kecurigaannya pada Satya.