
Pagi ini Dewi duduk di meja makan menunggu Satya keluar dari kamarnya.
"Pagi sayang," sapa Satya pada Dewi sambil hendak mencium kening nya namun buru-buru Dewi memalingkan mukanya dari Satya.
Satya menatap Dewi dengan menipiskan bibirnya sambil berkata.
"Kenapa sayang? kenapa kamu gak mau aku cium?" tanya Satya.
"Sarapannya sudah aku siapkan mas, aku mau berangkat dulu," ucap Dewi dengan ketus sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Satya menghela nafas sambil berdecih menatap Dewi yang berlalu pergi meninggalkan dirinya sendiri di meja makan.
Dewi melangkah keluar menuju ke mobilnya kemudian dia masuk ke dalam mobil dan sejurus kemudian ia sudah pergi melaju dengan mengendarai mobilnya.
Satya tidak jadi melanjutkan sarapannya dan ia pun bergegas berangkat kerja juga.
"Loh mas Satya kok gak jadi sarapan? terus non Dewi kemana?" tanya bibi yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Emmmm....non Dewi buru-buru bi, jadi harus berangkat pagi dan tadi juga sudah sarapan," ucap Satya pada bibi.
"Terus mas Satya juga buru-buru jadi gak sempat sarapan?" ujar bibi pada Satya.
"Iya Bi, aku juga harus datang pagi-pagi ke kantor karena ada meeting pagi ini, maaf ya bi kalau sarapannya gak jadi."
__ADS_1
"Hmmmm ya sudah mas Satya kalau begitu bibi rapikan lagi saja ini makanannya," ujar bibi sambil membereskan meja makan.
Satya tersenyum melihat bibi yang sedikit cemberut karena makanan yang ia masak pagi ini tidak tersentuh sama sekali oleh dia dan Dewi.
"Bi, aku berangkat ya."
"Iya mas Satya."
Kemudian Satya berjalan menuju keluar rumah dan tak lama kemudian ia sudah pergi meninggalkan rumah nya menuju ke kantornya.
Tiba-tiba ponsel Satya berdering dan terlihat nama Rere yang sedang menelponnya.
Satya segera mengangkat telepon dari Rere sambil tetap menyetir.
"Re, ngapain kamu kemaren datang ke kantornya Dewi dan mengatakan tentang anak yang sedang kamu kandung sekarang ini," dengan geram Satya menegur Rere.
"Emang kenapa sih kalau aku katakan hal yang sebenarnya tentang hubungan kita...."
"Kamu harusnya gak usah bilang ke Dewi tentang hubungan kita, kamu jadi merusak rumah tanggaku kalau begitu caranya."
"Alah.....sekarang ataupun nanti kan sama aja sih, suatu saat Dewi pasti akan tahu juga kalau kita itu ada hubungan."
"Kamu terlalu gegabah mengambil sikap dan kamu juga bisa menghancurkan reputasiku sebagai pimpinan perusahaan kalau begini caranya," ucap Satya sambil berdecih.
__ADS_1
"Iya iya aku minta maaf tapi ini sudah terlanjur terjadi yah...mau gimana lagi dong.... Satya kan aku juga butuh kamu di saat-saat seperti ini."
"Ya sudah lain kali kalau mau melakukan apa-apa itu bilang aku dulu, jangan asal-asalan begitu."
"Oke, see you honey," ucap Rere sambil memberi suara kecupan dari ponselnya dan mengakhiri percakapannya dengan Satya.
Satya mendengus dengan kesal, ia merasakan beban yang sangat berat yang sedang menggelayuti dirinya saat ini karena bagaimanapun ia tetap harus bertanggung jawab atas anak yang sedang di kandung Rere karena kalau tidak pasti Rere akan berbuat yang lebih ekstrim lagi terhadap Dewi.
Tiba-tiba Satya teringat pada Dewi lalu ia menelpon istrinya itu.
"Sayang, kamu sudah sampai kantor?" tanya Satya setelah mendengar panggilan telepon darinya sudah diangkat.
"Sudah," jawab Dewi dengan ketus.
Satya mencibirkan bibirnya ia merasa Dewi masih sangat marah pada dirinya, lalu ia berkata lagi pada Dewi.
"Ya sudah kalau kamu sudah tiba di kantor, jangan lupa nanti sarapan ya?" ujar Satya mengingat kan Dewi.
"Sudah ya mas, aku sibuk pagi ini," kata Dewi sambil menutup ponselnya.
Satya menggenggam ponselnya sambil menghela nafas dalam-dalam.
Ia kemudian memarkir mobilnya di parkiran kantor, lalu ia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam gedung perkantoran nya, setelah tiba di ruangannya, Satya langsung bergegas masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambil sesekali menghela nafas panjang.
__ADS_1