
"Satya tolongin aku, aku takut tadi ada orang yang mengikuti aku sampai ke apartemen sepertinya orangnya masih berkeliaran di sekitar apartemen, aku takut Satya....." bunyi pesan yang dikirim Rere ke ponsel Satya.
Satya merasa gusar setelah membaca pesan dari Rere, ia melihat ke arah Dewi yang sedang menyaksikan acara televisi.
Perlahan Satya mendekati Dewi dan duduk di sebelahnya, sambil merangkul pundak Dewi ia berkata padanya.
"Sayang, aku mau keluar sebentar ya, aku lupa kalau malam ini ada janji dengan klien," ujar Satya sambil tersenyum.
Dewi menatap Satya cukup lama lalu ia berkata padanya.
"Bertemu klien? malam- malam begini mas?" tanya Dewi heran.
"Mmmmm iya sayang, ini kan masih jam sembilan sayang belum malam-malam amat," Satya kembali tersenyum pada Dewi mencoba menghilangkan kecurigaan Dewi padanya.
Dewi menatap Satya lagi, ia seperti tidak percaya tapi ia tetap mengijinkan Satya keluar.
"Oke," kata Dewi mengizinkan Satya.
"Makasih sayang," Satya mencium kening Dewi lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Dewi.
"Satya.....aku takut sekali....," ucap Rere sambil memeluk Satya yang sudah tiba di apartemennya.
"Iya, iya kamu tenang dulu ya ada aku disini kamu yang tenang oke," kata Satya sambil menepuk pundak Rere.
"Siapa yang ngikutin kamu Re?" tanya Satya pada Rere setelah Rere tenang.
"Aku gak tahu Satya, tapi dia sepertinya mau berniat jahat sama aku......"
__ADS_1
"Coba kamu ingat kira-kira kamu punya musuh gak di sini?"
"Enggak aku gak punya musuh, aku baik-baik saja sama orang-orang di kantor."
Satya menipiskan bibirnya sambil memikirkan sesuatu.
"Satya kamu temani aku di sini ya?" pinta Rere.
"Ya aku temani kamu."
"Kamu bermalam di sini kan?"
"Gak bisa Re, aku harus pulang aku harus temani dewi di rumah."
"Dewi, Dewi, Dewi.....terus yang kamu pikirin Satya, di dalam perutku ini juga ada anakmu tapi kamu gak pernah perduli yang kamu pikirin Dewi terus......," Rere ngomel-ngomel pada Satya.
"Ya kan kamu tahu Dewi kan istriku ya aku harus jagain dia."
"Sudahlah Re, kamu mau aku temeni apa gak!" Satya menggertak Rere.
Rere diam sambil mengerucutkan bibirnya menatap Satya.
"Sekarang kamu tidur aja Re biar gak kepikiran yang macam-macam."
Rere menurut apa yang di katakan Satya, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Sementara Satya duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Rere tertidur.
__ADS_1
Satu jam berlalu sepertinya Rere sudah tertidur pulas, Satya masuk ke dalam kamar Rere dan memeriksa.
"Sepertinya Rere sudah tertidur," ucap Satya sambil menggerakkan tangan kanannya di atas wajah Rere ke atas ke bawah.
Kemudian Satya menyelimuti tubuh Rere dengan bed cover yang ada di atas kasur.
Perlahan Satya menutup pintu kamar Rere lalu ia melangkah keluar dan meninggalkan apartemen Rere.
"Hmmmm.... malam-malam begini keluar dari apartemen perempuan, lagi ngapain ya? kasihan tuh istrinya yang di rumah," ucap Arjuna yang kebetulan juga lewat di depan apartemen Rere.
Satya terdiam setengah kaget melihat Arjuna yang juga ada di tempat itu.
"Kamu, ngapain juga kamu kesini, atau jangan-jangan kamu yang buntuti Rere dari tadi makanya dia sampai ketakutan."
"Jaga mulutmu kalo ngomong, buat apa aku buntuti selingkuhan mu itu gak ada gunanya buat aku."
"Lantas ngapain kamu di sini?"
"Aku bertemu dengan klien di sini," ucap Arjuna.
"Klien? apa wanita lain?" ucap Satya sambil mencibir pada Arjuna.
"Brengsek kamu Satya! jangan samakan aku dengan kamu yang suka bohongin istrinya sendiri."
"Bukan urusan kamu Arjuna!" kata Satya sambil menunjuk dada Arjuna dengan jari telunjuknya.
Arjuna tersenyum sinis sambil menatap Satya, lalu ia berkata pada Satya.
__ADS_1
"Akan menjadi urusanku karena aku gak akan terima kalau kamu sampai menyakiti hati Dewi, camkan itu Satya," Arjuna berkata sambil menabrak tubuh Satya dan berlalu pergi meninggalkan Satya.
Satya diam sambil menatap tajam kepergian Arjuna dari hadapannya.