
"Ngapain itu tadi si Arjuna nyamperin kamu sayang?" tanya Satya dengan sedikit cemburu.
"Mas Arjuna tadi kebetulan lewat depan kantor dan ia melihat aku sedang duduk-duduk di bangku sana lalu mas Arjuna menemani aku duduk-duduk di sana juga."
"Aku gak suka kamu dekat-dekat dengan Arjuna," kata Satya dengan nada suara kesal sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
"Iya mas....aku minta maaf, masalahnya tadi aku juga capek nunggu mas Satya gak datang-datang, emang mas Satya ke mana tadi?" tanya Dewi sambil menoleh pada Satya.
Satya sedikit kaget dengan pertanyaan Dewi barusan dan dengan beralasan ia menjawab pertanyaan Dewi.
"Mmmmm......aku....aku tadi mendadak ketemu dengan klien sayang pas mau keluar dari kantor dan dia bersikeras ngajak aku ngobrol-ngobrol dulu, ya......h akhirnya aku ngobrol juga sama dia sampai lupa waktu kalau harus jemput kamu," Satya menoleh pada Dewi sambil tersenyum memaksa supaya tidak terlihat bohongnya di mata Dewi.
"Oh gitu ya mas," kata Dewi sambil menganggukkan kepalanya.
"Non Dewi,bibi buatkan teh hangat ya biar gak eneg lagi," kata bibi yang melihat Dewi dari tadi mual-mual terus.
"Iya Bi,makasih ya," ucap Dewi sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Mas, aku masuk kamar dulu ya, kepalaku agak pusing ini," ucap Dewi menghampiri Satya yang sedang sibuk dengan lap topnya.
__ADS_1
"Tadi kamu gak apa-apa sayang, kok sekarang tiba-tiba pusing gitu?" tanya Satya sambil berdiri menatap Dewi.
"Iya,gak tahu ini mas tiba-tiba saja perutku mual dan kepalaku terasa pusing sekali."
"Ya udah kalau begitu aku antar kamu ke kamar sayang," ucap Satya sambil berjalan menuntun Dewi masuk ke dalam kamarnya.
"Mas Satya ini teh hangat buat non Dewi," bibi memberikan gelas yang berisi teh hangat itu pada Satya.
"Iya Bi,makasih," Satya membawa teh itu dan menghampiri Dewi yang sedang rebahan di atas kasur.
"Sayang, ini teh hangatnya kamu minum dulu ya biar badanmu sedikit enakan," Satya membantu Dewi duduk.
"Sudah mas," kata Dewi sambil menyerahkan gelas itu pada Satya.
"Kenapa gak di habiskan sayang?"
"Gak mas, perutku masih eneg."
"Ya udah, kamu istirahat saja aku akan tungguin kamu di sini ya," Satya naik ke atas kasur dan duduk di samping Dewi yang sedang berbaring sambil mengusap-usap rambut Dewi sampai akhirnya Dewi pun tertidur.
__ADS_1
Melihat Dewi sudah tertidur, Satya pun menguap dan sebelum ia tidur juga dengan perlahan ia mencium kening Dewi dan kemudian ia berbaring di samping Dewi yang sudah tertidur.
"Satya lagi ngapain ya malam-malam begini? pasti dia lagi tidur sambil memeluk Dewi," Rere berkata sendiri sambil mencibirkan bibirnya.
Rere menunduk menatap perutnya sambil mengusapnya berulang-ulang sambil berkata pada bayinya.
"Kasihan kamu sayang, papamu gak pernah menemani kamu dan mama di sini, tapi jangan kuatir mama akan berusaha supaya papa mu bisa tidur di sini menemani mama dan kamu sayang, lihat saja nanti."
Kemudian Rere meraih ponselnya dan mulai menelpon Satya.
Satya yang masih belum tertidur segera menoleh ke arah ponselnya yang berdering tanda panggilan masuk, sekilas ia melihat nama Rere yang muncul lalu dengan secepat kilat ia menyambar ponselnya dan merejek panggilan dari Rere.
Lalu Satya menoleh ke arah Dewi yang masih tertidur dan tidak mendengar ponsel Satya yang sedang berdering tadi, kemudian Satya mulai mengetik sebuah pesan pada Rere.
"Ngapain malam-malam begini kamu telpon aku?" send dan pesan itu langsung terkirim ke Rere.
"Aku cuma mau bilang selamat malam dan selamat tidur itu aja kok," kata Rere lewat balasan pesannya pada Satya.
"Oke, sekali lagi jangan telpon malam-malam begini," balas Satya lagi pada Rere lalu ia meletakkan ponselnya dan berbaring lagi di samping Dewi yang masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1