Dewi Untuk Arjuna

Dewi Untuk Arjuna
Bab. 33


__ADS_3

Malam ini Dewi tak bisa tidur meskipun ia sudah berusaha memejamkan matanya namun tetap saja ia tak bisa tidur dengan nyenyak.


Ia melihat ke arah Satya yang sudah tertidur di sampingnya dan tiba-tiba ponsel Satya berbunyi sebuah nada pesan masuk.


"Malam-malam begini siapa yang kirim pesan ke mas Satya ya?" Dewi bertanya-tanya sambil melihat ke arah Satya yang masih tertidur.


Dewi bingung ia ingin membuka pesan itu, namun ia takut Satya nanti bangun dan memergokinya yang telah membuka ponselnya.


"Lihat apa enggak ya?" Dewi berkata sambil menggigit bibirnya dan menatap ke arah ponsel Satya yang di letakkan di meja samping Satya yang sedang tertidur.


Kemudian dengan perlahan-lahan dan hati-hati Dewi bergerak hendak mengambil ponsel Satya tapi sebelum itu ia menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan ke kiri di atas wajah Satya, setelah merasa yakin kalau Satya sudah tertidur dengan pulasnya, Dewi langsung menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil ponsel Satya, sedikit takut juga Dewi mengambil ponsel itu dan tak berselang lama ponsel itu sudah berada di tangan Dewi.


Dengan perlahan-lahan sekali Dewi mulai membuka ponsel Satya yang dia sudah tahu password-nya sehingga dengan mudah ia bisa melihat pesan yang masuk dan pandangan Dewi tertuju pada sebuah nama yang barusan mengirim pesan ke ponsel Satya.


"Hai, selamat tidur," begitu bunyi pesan yang dikirim Rere tadi.


"Rere, siapa Rere itu? sepertinya mas Satya tidak pernah bercerita tentang dia," Dewi bertanya-tanya sambil memikirkan sesuatu mencoba mengingat-ingat.


Tiba-tiba Satya menggeliat dan hal itu membuat Dewi sangat panik karena ponsel Satya masih berada di tangannya.


Lalu dengan perlahan dan sangat hati-hati lagi Dewi mengembalikan ponsel Satya ke tempatnya semula.


Dewi menarik selimutnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Satya tapi ia belum memejamkan matanya, pikirannya menerawang ke mana-mana mengingat pesan dari Rere tadi.

__ADS_1


"Pagi mas," sapa Dewi pada Satya yang sudah rapi dan mendekati Dewi yang sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan.


"Pagi sayang, kenapa aku tidak di bangunkan tadi?" tanya Satya pada Dewi.


"Mas tadi masih sangat pulas tidurnya, jadi aku bangun duluan, sekalian menyiapkan sarapan," ucap Dewi sambil tersenyum pada Satya padahal sebenarnya dalam hatinya masih bertanya-tanya soal Rere itu.


"Iya sayang, gak apa-apa," ucap Satya sambil tersenyum pada Dewi.


"Oh ya mas, nanti aku di ajak Mira makan siang, boleh ya?" tanya Dewi pada Satya.


"Makan siang?" Satya balik tanya.


Dewi menganggukkan kepalanya sambil menipiskan bibirnya menatap Satya.


"Iya mas, aku makan siang sama Mira....," jelas Dewi lagi.


"Bukannya apa sayang, aku gak mau Arjuna deketin kamu lagi."


"Mas percaya sama aku, aku gak akan kembali sama mas Arjuna, aku hanya punya mas Satya," Dewi meraih tangan Satya dan menggenggamnya sambil tersenyum.


"Ya, aku percaya sayang," Satya membalas senyum Dewi.


"Aku yakin rencana ku ini akan berhasil dan aku akan membuat Satya berhutang Budi padaku," Rere ngomong sendiri sambil tersenyum mencibir.

__ADS_1


Seperti biasa Satya berangakt kerja sambil mengendarai mobilnya tapi kali ini jalanan agak sepi karena Satya berangakt agak terlambat tadi karena masih mengantar Dewi ke tempat kerjanya dulu.


Satya melaju di jalanan dengan santai tapi tiba-tiba ia di kejutkan oleh sekelompok orang yang menikungnya dari belakang dan menghalangi laju mobilnya.


"Siapa mereka? kenapa mereka menghadangku?" Satya bertanya-tanya sambil memperhatikan dua sepeda motor ninja dengan masing-masing ada dua orang di tiap motor itu.


Namun belum sempat Satya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu tiba-tiba salah satu dari mereka yang berbadan tinggi besar dan hitam dengan rambutnya yang gondrong menghampiri mobil Satya dan berteriak dengan kasar pada Satya.


"Buka!!!" teriaknya sambil menggedor-gedor kaca mobil Satya.


Satya masih tak bergeming, ia tetap tidak mau membuka pintu mobilnya.


Namun laki-laki itu semakin keras menggedor-gedor pintu mobil Satya dan akhirnya Satya terpaksa juga membuka pintu mobilnya dengan perlahan dan sedikit takut karena dia mengira ini adalah sebuah perampokan.


"Cepat keluar!!!" laki-laki itu menarik dengan kasar tubuh Satya keluar dari mobilnya dan belum sempat Satya melihat dengan jelas wajah orang-orang itu tiba-tiba sebuah bogem mendarat dengan keras ke wajahnya dan Satya merasakan kepalanya berputar-putar dan sakit dan belum sempat ia mendongakkan wajahnya tiba-tiba orang yang lain juga mengarahkan bogem ke wajah Satya.


Dengan sekuat tenaga meski sedikit terhuyung, Satya berusaha melawan orang-orang itu dengan sedikit kemampuan yang di milikinya.


Namun tenaga Satya kalah kuat dengan ke empat orang itu sampai akhirnya Satya jatuh tersungkur dan tergelepar di tanah.


"Kerja yang bagus," kata Rere yang melihat kejadian itu dari jauh dari dalam mobilnya.


"Aku harus cepat ke sana dan berpura-pura menjadi malaikat penolong buat Satya, ha ha ha.....," Rere tertawa dengan puas.

__ADS_1


__ADS_2