
"Pergi kemana sih mas Satya, ini sudah jam dua belas belum juga datang," gumam Dewi sambil berjalan mondar mandir sambil sesekali menatap ke luar jendela.
"Non Dewi kenapa belum tidur?" tanya bibi yang melihat Dewi sedang mondar mandir.
"Iya Bi, aku nungguin mas Satya sampai jam segini belum pulang," ucap Dewi sambil menyingkap tirai jendela dan melihat ke luar.
"Loh tadi kan mas Satya ada non?" tanya bibi lagi dengan wajah seperti bingung.
"Iya Bi, tadi kita pulang bareng tapi mas Satya keluar lagi katanya mau nemuin klien."
"Oh nemuin klien," ucap bibi sambil manggut-manggut tanda mengerti.
"Iya," jawab Dewi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Saya buatkan teh hangat ya non?"
"Boleh bi," kata Dewi sambil tersenyum pada bibi yang selalu perhatian pada dirinya.
Tak lama kemudian bibi muncul sambil membawa nampan kecil berisi secangkir teh hangat yang ia hidangkan di atas meja tempat Dewi sedang duduk.
"Makasih bi," ucap Dewi.
"Iya non, non Dewi mau bibi temani?"
"Mmmmm....gak usah bi, bibi istirahat saja dulu."
"Oh, iya non bibi masuk dulu ya."
"Iya Bi."
Tepat pukul setengah satu, mobil Satya sudah memasuki halaman rumah dan dewi langsung membuka pintu depan menyambut kedatangan Satya.
"Mas, kok pulang sampai malam begini?"
"Iya sayang, maaf kamu nungguin ya," kata Satya sambil merangkul Dewi dan membelai rambutnya.
"Aku khawatir mas, takut kamu kenapa-kenapa," ujar Dewi sambil menatap Satya.
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu udah peduli sama aku."
"Iyalah mas....kan kamu suamiku," Dewi bergelayut manja pada Satya.
"Yuk, tidur kasihan baby nya nanti kalau tidurnya malam-malam," ucap Satya sambil tersenyum pada Dewi.
Dewi menganggukkan kepalanya dan keduanya pun berjalan menuju ke kamar.
Tengah malam Dewi terbangun hendak ke kamar mandi tapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada ponsel Satya yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidur.
Dengan perlahan Dewi meraih ponsel itu dan mulai membuka nya dengan hati-hati dan mata Dewi tertuju pada satu pesan yang masuk tadi jam dua malam dan yang mengirim pesan tersebut adalah Rere.
"Rere," ucap Dewi sambil membuka pesan yang di kirim oleh Rere tadi.
"Satya makasih ya, tadi sudah temani aku di apartemen tapi.....sayangnya kamu gak bisa bermalam di sini temani aku dan baby kita, tapi tak apalah suatu saat nanti kita pasti akan bersama ya kan?" begitu bunyi kalimat pesan dari Rere untuk Satya dengan di akhiri emoticon kecupan dari Rere.
Dewi mengerutkan alisnya sambil menatap ponsel itu lalu pandangannya beralih pada Satya yang masih tertidur dengan pulasnya.
"Baby kita? apa maksudnya Rere berkata baby kita?" Dewi bergumam sambil memikirkan sesuatu.
"Jangan-jangan......," Dewi tidak meneruskan kata-katanya ketika melihat Satya menggeliat sambil membuka matanya dan menatap Dewi yang sedang berdiri terpaku di samping meja.
"Sayang, kamu ngapain berdiri di situ?" tanya Satya sambil bangun dari tidurnya.
"Eh, enggak mas aku tadi dari kamar mandi," ucap Dewi yang kemudian berjalan menuju tempat tidur dan lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Oh, aku kirain ngapain," ucap Satya sambil tersenyum pada Dewi.
Tapi Dewi merasa senyuman Satya itu tidak lagi indah seperti biasanya, ia merasa senyuman itu sudah hambar dan hanya terkesan pura-pura saja.
"Ayo sayang tidur lagi, ini masih tengah malam loh," ucap Satya sambil mengelus rambut Dewi.
"Ya," ucap Dewi yang lalu membalikkan badannya membelakangi Satya.
Esok paginya ketika mereka sarapan bareng
"Mas, aku mau tanya?" kata Dewi sambil memperhatikan Satya yang sedang menikmati sarapan paginya.
__ADS_1
"Ya, tanya apa sayang," kata Satya sambil tetap menikmati sarapannya.
"Rere itu siapa mas? dan apa yang di maksud dengan baby kita?" Dewi menatap Satya dengan pandangan sinis.
Seketika Satya menghentikan mengunyah makanannya dan menatap Dewi tajam-tajam dengan ekspresi muka yang keheranan tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa diam saja mas! Rere itu selingkuhan kamu kan dan baby yang di maksud itu adalah anak kamu juga kan!?" Dewi mulai naik pitam dengan nada suara geram ia menatap Satya dengan mendelik.
"Sayang, sayang tenang dulu biar aku jelaskan ya," ucap Satya sambil memegangi tangan Dewi.
"Gak ada yang perlu di jelaskan lagi mas, semuanya sudah jelas, semalam kamu tidak bertemu dengan klien, tapi kamu ke apartemen Rere untuk menemani dia dan babynya kan!? kamu tega mas, tega sekali," Dewi mulai menitikkan air mata sambil menepiskan tangan Satya yang masih memegang tangan nya.
Satya menghela nafasnya dalam-dalam sambil menatap Dewi yang marah sambil menangis.
"Sayang.....," belum sempat Satya melanjutkan kalimatnya tiba-tiba Dewi sudah memotong nya.
"Sudah mas, aku gak mau dengar apa pun yang keluar dari mulutmu saat ini, kamu jahat kamu udah tega pada ku mas," Dewi berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Satya yang sedang berdiri termangu menatap kepergian Dewi.
"Akhhh....sial, kenapa harus seperti ini jadinya ," Satya menghempaskan tubuhnya dia atas sofa sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa.
Tiba-tiba ponsel Satya berdering, lalu ia mengangkatnya dan mendengarkan Rere yang sedang berbicara di ponselnya.
"Satya, jangan lupa ya pagi ini jemput aku, baby kita udah gak sabar mau ketemu sama papanya lho," terdengar nada suara Rere sangat bahagia sekali.
"Aku gak bisa Re."
"Kenapa gak bisa?"
"Dewi sudah tahu tentang hubungan ini," ucap Satya sambil memegangi kepalanya.
"Hmmmm bagus dong, biar dia bisa membagi waktunya juga untuk aku," ucap Rere tanpa dosa.
"Ngomong apa kamu Re!?" bentak Satya tidak suka.
"Loh kan aku juga berhak dong atas kamu, ingat Satya bayi yang ada di dalam perutku ini adalah anak kamu juga dan dia juga berhak mendapatkan kasih sayang dari kamu!!"
"Akhhh....sudahlah aku pusing," kata Satya sambil mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Hmmm baguslah kalau istri si Satya itu sudah mencium hubungan ku dengan Satya," ujar Rere sambil tersenyum puas.