Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 1


__ADS_3

Mutiara Andini : Gadis berumur 17 tahun. Duduk di bangku kelas 2 SMA. Berasal dari keluarga sederhana dengan otak yang pas-pasan. Sehingga dia tidak begitu menonjol di antara rekan sekelasnya.


Baradyaka Tri Maulana : Lelaki berumur 18 tahun itu anak dari seorang dokter terkenal di daerah Riau. Hidup berkecukupan membuatnya punya banyak teman. Banyak komunitas yang di ikuti pemuda dengan nilai plus di mata gadis-gadis di sekolahnya itu.


Kisah Di mulai.


Teng.. Teng.. Teng..


Bunyi bel sekolah membuat suasana yang semula hening menjadi riuh rendah dengan sorak ramai murit yang gembira karna waktu mereka belajar telah berakhir.


Tak terkecuali kelas Tiara. Sorak temannya juga tampak memenuhi ruang kelas 2 SMA Negeri itu.


"Baiklah anak-anak, kita akhiri pelajaran kita hari ini. Jangan lupa tugas kalian dan sampai jumpa minggu depan.. " Ujar Bu Novi. Guru mata pelajaran Bahasa Inggris.


"Baik bu.. !!" Jawab mereka serentak.


Setelah bu Novi keluar kelas mereka saling berebut ikut keluar. Tak terkecuali Tiara.


Gadis itu ada janji kerja Parttime sepulang sekolah.


"Tiara.. ! tunggu. . " Nino, lelaki yang teman dekatnya tampak mengejar gadis yang berlari ke arah parkir.


"Tiara... !" Nino menghadang motor Tiara yang baru mulai melaju.


"Apa sih No..? Gue buru-buru.. " sentak gadis itu sambil kembali menggas motornya.


"Tunggu dulu, kamu mau kemana sih buru-buru." Tangan Nino menahan bagian depan motor agar Tiara tidak mudah lepas.


"Gue mau kerja..! "


"Kerja dimana.. ?" Kembali Nino menghalangi laju Tiara.


"Kerja apa aja, asal dapet duit.! " Tiara langsung menambah laju motornya hingga akhirnya Nino menepi karna takut tertabrak.


Melihat Nino menepi membuat Tiara menoleh sambil melambai tangan.


"Daa.. No.... !"


Brak.


Kurang hati-hati. Tiara menabrak mobil di depannya yang tiba-tiba muncul dari arah kanan menuju pintu gerbang sekolah.


Gadis itu terpental ke samping.


"Aaahhh... aduhh... " Lengan lecet karna aspal dan juga rok sekolahnya robek.


"Astaga... Tiara... !!!" Nino lari sekencang-kencangnya menghampiri Tiara yang tampak meringis menahan sakit. Di ikuti murit lain yang berlari karna kekepoan mereka atas apa yang terjadi .


"Tiara.. ! Kamu ga papa? " Nino berjongkok membantu Tiara untuk berdiri.


Teman lain membantu mengangkat motor untuk di bawa berdiri menepi.


Bersamaan itu seorang pria keluar dari dalam mobil dengan kaca mata hitam bertengger di atas hidungnya. Di ikuti teman-temannya yang lain.


"Gue, ga apa-apa. Cuma lecet.. " Tiara menepuk rok nya yang kotor terkena serpihan kaca sepion motor miliknya .

__ADS_1


"Rok mu sobek Ra.. " Cekatan Nino membuka jaketnya dan memasangkan di pinggang ramping Tiara yang tampak langsung salah tingkah.


"Biar gue yang pasang. " Di rebutnya jaket itu dan di tali untuk menutupi bagian paha yang sedikit terekspos.


"Sudah belum mesra-mesraannya.. ?" Gema suara orang lain membuat Tiara mendongak. Menatap lelaki yang tampak mendekati body mobil belakang sebelah kanan yang rusak karna tabrakan itu. Lelaki itu membuka kacamatanya.


"Lumayan nih Bar, Penyok sana sini.. " ujar temannya yang ikut turun tadi.


Tiara meringis, pucat pasi. Apa lagi terdengar suara murid lain yang riuh karna insiden itu.


"Ada apa ini..? " Seorang guru tampak mendekat. Melihat apa yang terjadi.


"Tabrakan pak.. " Jawab sebagian murit. Dengan saling pandang untuk membenarkan ucapan teman yang lain.


Akhirnya Tiara, Nino juga lelaki yang di tabrak mobilnya di minta ke kantor kepala sekolah untuk dimintai keterangan.


"Jadi bagaiman kronologisnya? " Tanya kepala sekolah pada keduanya.


"Saya ga sengaja Pak, Saya kurang fokus jadi ga sadar ada mobil di depan saya.. " Ujar Tiara dengan terus menunduk. Hatinya berkecamuk, takut jika si empunya mobil meminta ganti rugi.


"Bara.. ?" Kepala sekolah bergantian menoleh ke arah lelaki bernama Bara itu.


Bara tanpak memperhatikan Tiara, betis gadis itu lecet di ikuti siku lengan. Bahkan roknya sobek di tutup dengan jaket teman berkaca matanya tadi.


"Sesuai dengan keterangannya dia tadi pak.. "


"Bapak harap ini bisa di selesaikan baik-baik, tidak melibatkan pihak luar apa lagi polisi.. " ujar kepala Sekolah itu. Tentu saja dia tidak mau nama sekolah akan tercoreng karna masalah ini.


"Tapi bagaimana pun juga mobil nak Bara penyok bagian belakang, sedang motor nak Tiara juga lumayan parah. Baiknya bagaimana menurut kalian masing-masing..? " kepala sekolah terus memperhatikan keduanya.


Untuk pertama kali Tiara bisa melihat dengan jelas dan dekat sosok Bara. Lelaki macho yang jadi idaman gadis satu sekolah. Lelaki yang memang terlihat keren. Tapi jujur dia tidak begitu menikmati ketampanan Bara. Karna rasa kepala yang berputar-putar saat lelaki itu meminta ganti rugi.


"Duit dari mana.. " desahnya pelan .


"Bagaimana nak Tiara.. ?" kembali kepala sekolah menanyai Tiara.


"Sa..saya ga ada duit pak buat ganti rugi..Tolong kak, maaf kan kesalahm saya.. " mohonnya pilu. Hidupnya bahkan terlalu keras untuk bisa sekolah dan makan. Bagaimana dia bisa mengganti rugi kerusakan mobil itu.


"Assalamualaikum... " Seorang wanita ayu berhijab tampak masuk setelah mengetuk pintu.


"Waalaikum salam.. " jawab ke tiganya dari dalam.


"Bunda.. " Bara mendekat,menyambut lalu mencium punggung tangan ibunya yang tampak khawatir.


"Kamu ga papa sayang..? " Wanita paruh baya itu menelisik tiap bagian tubuh anaknya.Terlihat sekali dia amat khawatir.


Setelah mereka sama-sama masuk ke ruang kepala sekolah, mereka berdua memang di minta menghubungi wali masing-masing .


"Aku ga papa bunda.. " senyum lebar menghias wajah Bara yang begitu meyakinkan yang dia memang tudak kenapa-kenapa.


Tiara diam, mengamati interaksi ibu dan anaknya. Seharusnya ini bisa jadi berita besar dan bisa mendapatkan uang. Karna dia menjadi saksi betapa Bara sangat lembut bertutur pada ibunya.


"Syukurlah nak.. " Wanita itu bernafas lega .


"Ibunya Bara.. ?" Sapa kepala sekolah mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Ah iya pak, saya Izza ibunya.. " Balas wanita itu sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tiara tetap memperhatikan yang artinya. Ibunya Bara menjaga batas dengan orang yang selain mukhrimnya.


"Ahh iya ibu.. " Kepala sekolah menarik kembali tangannya sambil tertawa. Lalu mempersilahkan Izza untuk duduk.


Setelahnya kepala sekolah menjelaskan duduk perkara yang terjadi. Izza mengangguk paham dan menoleh ke arah Tiara setelah di beri penjelasan oleh kepala sekolah.


"Nama kamu siapa Nak.. ?" tanya Izza lembut pada gadis yang tanpak sederhana tanpa polesan atau style apapyn di tubuhnya itu.


"Nama saya Mutiara Buk. Maaf, saya bener-bener ga sengaja menabrak mobil kak Bara.. " tuturnya dengan wajah merah menahan tangis. Sungguh ketakutan amat mencekam saat ini bagi tiara. Perkara motor rusak saja pasti berbuntut panjang nantinya. Di tambah ganti rugi untuk mobil yang pasti nilsinya tidak sedikit.


"Di mana wali kamu nak.. ?" Izza menelisik tampilan Tiara dengan rok robek juga bagian badan yang lecet.


"Maaf bu, pak. Orang tua saya sedang sibuk jadi tidak bisa hadir. "


"Salah satunya masa ga bisa hadir sih.. " Sergah Bara.


"Bara.. " Tegur Izza sambil menggepeng pelan ke arah anaknya.


"Mama saya ga di rumah, mama kerja di sebrang pulau. Kalau bapak udah ga ada.. " jelas Tiara


"Jadi kamu tinggal dengan siapa Nak.. ?" Tanya Izza lagi.


"Saya tinggal dengan bibik saya bu.. "


Izza mengangguk tanda memahami.


"Nak Mutiara, masalah ini kita akhiri saja sampai di sini ya. Tidak ada ganti rugi untuk kerusakan mobil Bara. "


"Tapi Bunda. . " Bara tampak tak terima.


"Bara. Mobil itu akan di klaim asuransi. Jadi tidak perlu kamu menyulitkan orang lain nak. Lagian dia ga sengaja. Motornya juga rusak parah kan. Lebih baik uangnya buat benerin motornya.. Apa lagi kamu juga apa-apa. Itu udah cukup buat bunda. "


"Nak Mutiara, nanti kamu bersihin luka kamu ya di UKS.. " sambungnya lagi.


"Terima kasih bu.. " Tiara tampak bernafas lega. Senyum mengukir di bibirnya. Dia mendekat salim pada ibu Bara.


"Sekali lagi, terima kasih banyak bu.. "


"Iya sama-sama nak.. " Izza mengusap lembut kepala Tiara.


Sedetik itu peraasaan Tiara menghangat.


Lalu dia segera menggeleng pelan dan bangkit menyalimi kepala sekolah.


Lalu terakhir pada Bara.


Bara menatap tak suka pada apa yang di pakukan ibunya. Tapi dia tidak berani menentangnya secara langsung.


"Maaf yaa kak.."


Detik Itu juga mungkin semesta manakdirkan mereka untuk saling terikat dan menaut pada nantinya.


Hati Bara yang di tumbuhi rasa tidak suka atas keputusan ibunya.

__ADS_1


Sedang Tiara yang merasa kagum pada ibu nya Bara.


__ADS_2