
"Mama... hikz... "
Suara orang menangis membuat seseorang yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya segera bangkit mendekat.
"Hei.. bangun.. " Pria itu menepuk lembut pipi Tiara.
Tak lama mata yang semula memejam itu terbuka perlahan.
"Lo ga papa.. ?" tanya si pria penuh khawatir. Gadis ini tiba-tiba pingsan di pinggir jalan saat dia sedang memeriksa ban mobilnya yang kempes.
"Aku.. " Tiara memperhatikan sekitar yang tampak seperti rumah sakit. Lalu beralih pada pakaian yang dia kenakan.
Panik, sragam sekolahnya sudah bertukar dengan baju lain.
"Astaga. . " gadis itu langsung bangkit, meraba dadanya juga tubuhbyang lain.
"Hei, ga usah mikir aneh-aneh. Baju kamu basah. Jadi aku minta suster buat gantiin. Lagi kamu diet ketat ya ? sampai asam lambung mu naik. "
"Mau-maunya nyiksa diri buat diet, biar keliahatan perfect gitu.. penyakitan iya. " Pria itu menggeleng pelan .
"Aku di mana.. ?" tanya Tiara kemudian tanpa mengindahkan si pria asing yang sedang nerocos sendiri.
"Di klinik. lo pingsan di pinggir jalan " terang si pria. Melihat Tiara sedikit kesusahan untuk bangun. Dia pun berinisiatif membantu.
Setelah Tiara duduk dengan nyaman, pria itu segera mengambil bekas makanan.
"Nih, minum sirup ini dulu trus makan.. "
"Makasih ya kak.. " Tiara pun menerimanya, merasa pria itu tidak berbahaya. Toh mereka sedang di klinik, bukan tempat aneh-aneh.
"Emm.. BTW nama lo Tiara? kenapa lo nangis sampe pingsan.. baju lo juga basah "
"Iya kak.. " jawab Tiara di sela makannya.
"kok kakak tau nama aku.. ?"
"Gue liat di buku mapel.. Sorry, soalnya gue ga tau mau ngubungin siapa. Handphone lo juga mati, mana buntut lagi tu handphone. "
"Makasih ya kak. Udah nolongin aku.. nama kakak siapa.. ?" Tiara sama sekali tidak merasa tersinggung dengan ucapan frontal pria itu. Baginya itu hal biasa.
"Gue. .? Panggil aja Dafa.. " Pria itu turut mengulurkan beberapa obat.
"Nih, minum.. "
"Makasih ya kak Dafa.. " Tiara tersenyum senang, setidaknya Tuhan mengirimkan orang baik padanya hari ini. Bagaimana jika yang menemukannya justru preman. Dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya.
__ADS_1
"Emm... Oh ya, lo belum jawab pertanyaan gue tadi.. " Dafa kembali mengorek keterangan.
"Lo di bully.. ?" tebak Dafa saat melihat Tiara hanya diam.
"Bisa di katakan iya kak.. " jawab Tiara lemah.
"Gila, ada gitu di SMA xxxxxx bullying.. " Dafa menggeleng tak percaya.
"Mereka hanya tidak terima aja kak.. " terang Tiara.
"Maksut lo.. ?" Dafa mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
Tiara lalu menceritakan duduk perkara sebenarnya. Dan Dafa mengangguk tanda mengerti.
"Permisi.. " ketokan pintu di susul seorang perawat masuk menghentikan percakapan mereka.
"Ini bajunya.. " Suster menyerahkan plastik berisi seragam yang tadi di minta Dafa untuk meloundry kan.
"Ahh, iya sus. Terima kasih.. " Dafa mengambil plastik dan meletakkan di dekat bad.
"Sama-sama.. " Suster menoleh ke arah Tiara "Gimana keadannya mbk, udah mendingan.. ? atau ada keluhan sesuatu gitu.. ?" tanya suster ramah.
"Sudah mendingan sus, udah g sakit apa-apa lagi.. " jawab Tiara. Meskipun masih sedikit merasa pusing, dia tidak mau lebih lama di rawat . Takut lebih merepotkan Dafa.
"Apa saya udah boleh pulang sus.. ?"
"Tapi saya pengen pulang, saya udah sehat kok.. " Tiara nencoba turun dari ranjang.
"Heh, kalo suruh nanti tu ya nanti. Ngeyel banget sih lo jadi orang.. " Dafa mendekat untuk membantu Tiara kembali berbaring.
"Tapi aku pengen pulang kak, aku pusing bau obat di sini.. " kilah Tiara.
"Itu alasan kamu aja, sebenernya masih pusing kan.. ? ngeyel.. !" Dafa melotot tidak mau kalah.
Suster tampak tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Saya tinggal dulu ya, nanti kalo cairan infusnya udah habis. Masnya langsung ke depan aja. Nanti kita tolong bantu nyopot jarum nya. "
"Iya sus, terima kasih. " Hanya Dafa yang membalas , sedang Tiara manyun. Karna keinginannya pulang tidak di endahkan.
"Sini, mana nomer keluarga lo. Biar gue hubungi." Dafa menarik kursi agar bisa duduk di dekat Bad.
"Udah ga usah manyun gitu, buruan.. "
"Ga usah kak, jangan ngabarin keluargaku.. " Akhirnya Tiara menjawab.
__ADS_1
"Kenapa.. ?" Dafa tidak mengerti, karna Tiara sedang di Klinik. Bagaimana bisa gadis itu tidak mau menghubungi keluarganya.
" Mama aku lagi kerja di luar pulau kak, kadian mama nanti khawatir.. " Terang Tiara, meminta pengertian Dafa.
"Bokap lo..? "
"Bapak udah ga ada, aku tinggal sama bibik. Bibik juga sibuk kerja pabrik. Aku ga mau bikin mereka khawatir kak, please.." Tiara menghiba, agar Dafa tidak menanyakan nomer keluarganya lagi.
"Lo ga lagi bohong kan.. ?" Dafa menyipitkam matanya. Sedang Tiara menghela nafas pelan, mengusir sesak di dada.
"Ok.. ok.. tp Lo pulang setelah cairan infus ini habis. Nanti Lo gue anterin.."
"Makasih yaa kak, kakak baik banget. Mau nolong aku. Padahal kita ga saling kenal.. " Tiara berucap tulus dari dalam hati di iringi binar seri di wajahnya.
"Lo ngingetin gue sama adik gue. ." Dafa membuang pandangan keluar. Bayangan adik yang baru beberapa bulan pergi untuk selamanya membuat hatinya sesak.
"Kakak punya adik.. ?" Tiara mulai ingin tahu.
Dafa kembali menatap Tiara dan mengangguk Pelan.
"Meski wajah kalian ga mirip, cara lo ngomong, cara lo mandang sesuatu ngingetin gue sama Dara "
"Wah, namanya Dara. Dara, Dafa.. DD.. " ujarnya Tiara Polos. Yang sukses membuat Dafa tersenyum geli sambil menyeka air mata yang merembes di pipi.
"Kak, kok nangis.. ? apa aku salah ngomong.? " Tiara merasa bersalah, takut terlebih ucapan hingga menyinggung Dafa .
"Enggak, kamu ga salah. Kami memang DDD. bukan double D. Tapi triple D. Dion, Dafa, Dara.. " terang Dafa kemudian yang langsung membuat Tiara ber 'oh '
"Sayangnya Dara udah ga ada, dia udah pergi sejak 5 bulan yang lalu. . " Dafa menunduk sedih.
"Maksut kakak pergi itu...? " Tiara membekap mulutnya saat melihat Dafa mengangguk.
"Iya, Dara udah meninggal 5 bulan yang lalu.. "
"Innalillahi wainailahi rojiun.. Aku turut berduka cita ya kak. Dara pasti bangga di sana punya keluarga kayak kakak yang begitu sayang sama dia.. " hibur Tiara sambil mengusap lembut bahu Dafa.
"Iya, makasih Ra... makanya tadi gue nolong lo, karna gue inget adik gue.. " Dafa mengusap air matanya dengan hujung kaos yang dia pakai. Dia tidak mau berlarut dalam kesedihan. Karna tidak mau adiknya di alam sana merasa sedih .
"Iya kak, sama-sama. Kehilangan itu emang sakit kak. Apa lagi kehilangan untuk selamanya. Kita hanya akan punya kenangannya, tanpa bisa melihat mereka lagi. Aku tau rasanya, aku aja sampe sekarang ga nyangka. Ternyata aku udah ga punya bapak.. " Tiara terkenang bapaknya yang hampir setahun pergi untuk selamanya .
"Tapi kita harus iklas kan, biar mereka tenang. Karna semua yang hidup pasti akan mati. Kita juga ga tau kapan giliran kita mati.. " tambahnya.
"Lo bener Ra .. Tapi ga semua bisa nerima dengan lapang dada.." Dafa menerawang dengan pandangan lurus. Entah kenapa dia bisa mudah sekali berbagi pada Tiara. Merasa nyaman, meski baru saling kenal.
"Mamaku ga bisa nerima , kalau anak bungsunya udah ga ada Ra, Mama nangis tiap harinya. Bahkan nangisnya udah ga ada air matanya. Mama begitu terpukul atas kepergian Dara.." kisah Dafa, mengawali ceritanya.
__ADS_1
Tiara diam mendengar cerita Dafa, meski baru saling kenal. Dia bisa memaklumi mungkin Dafa merasa perlu berbagi dengan apa yang dia rasakan dan pendam selama ini. Baginya tidak jadi hal, karna Dafa juga sudah berbaik hati mau menolongnya. Anggap lah dia sedikit membalas kebaikan Dafa dengan meringankan kegundahan hati lelaki itu.