Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 6


__ADS_3

Kantin sekolah saat jam istirahat sangat ramai seperti biasa. Bara dan kawan-kawannya sedang asik makan sembari mengobrol dan bercanda.


Di ujung sisi kanan, tampak ke datangan Tiara bersama temannya juga teman lelaki yang selalu mengikutinya. Semakin mendekat, tatapan Tiara dan Bara saling bersibrobrok.


Tapi Tiara yang lebih dulu membuang pandangannya, gadis itu menarik Nino lebih mendekat, bercanda saling melempar tawa.


Gibran yang juga tengah duduk persis di sebelah Bara mengikuti arah pandang Bara. Dia tampak mengernyit heran. Tidak merasa yakin Bara sedang menatap Tiara. Lalu siapa yang sedang di tatap Bara.


"Heh, orang miskin tuu ga pantes makan di kantin woeeee.... " Sesaat suasana kantin langsung sunyi, mereka menoleh ke arah Tiara dan temannya duduk.


Jesika dan teman-temannya bersidekap, bersifat angkuh hanya untuk membully orang di bawah mereka.


"Minggir lo, gue mau makan.. !" teriak Jesika saat tidak diendahkan kehadirannya oleh Tiara dan temannya.


Nino menunduk takut, sedang Tiara cuek dan mulai menyantap bakso miliknya.


"Woeee... lo budek ya.. minggir gue bilang.. !" Jesika menggebrak meja yang langsung membuat Nino dan temannya Via berjingkat.


Tiara mengangkat wajahnya, melihat sekeliling kantin yang memang sudah penuh dan sesak. Jesika hanya ingin merebut tempatnya.


"Tunggu aja ngapa sampe kita selesai makan, lo ga akan mati kan nunggu 5 menit.. " jawab Tiara santai.


Jawaban Tiara seketika membuat Jesika berang, dia melenpar botol saus tepat di mangkuk Tiara. Hingga kuah bakso tumpah bahkan mengenai wajah Tiara.


Harapan Tiara bisa makan bakso enak sempena rasa perutnya yang melilit justru hilang. Periode yang memang datang pagi tadi di tambah ulah Jesika membuat emosinya memuncak.


Gadis itu bangkit, menyiramkan bakso milik Nino ke arah Jesika.


"Brengsekk... !!! kurang ajar lo.. !!" teriak Jesika murka. Kuah yang panas mengenai lengannya. Nasib baik Tiara tidak menyiramkan ke wajahnya yangg penuh polesan make-up.


Teman-temannya langsung meringsek ingin menghajar Tiara.


"Apa lo.. berani lo nyentuh gue.. ?!" Tiara melotot seolah menantang nyali mereka berlima.


"Dasar ga sopan lo ya sama kakak kelas, ga kapok lo kemarin.. !" Hanya Jesika yang kembali membalas .


"Kalo lo mau adik kelas sopan sama lo, tunjukin yang baik contoh ke sopanan itu. Ga hanya bisanya membully dan menindas orang yang lemah. Lo kira itu keren, itu Pe-nge-cut.. " Tiara memberi jempol ke bawah tepat di depan Jesika.


"Brengsek lo..sundal... !!" Jesika menabrak Tiara dan menjambak rambutnya. Tiara tak tinggal diam, emosinya benar-benar meledak saat ini.


Melihat mereka saling jambak, teman yang lain justru menyoraki.


"Tiara... Tiara... !!"

__ADS_1


"Jesika... Jesika... !!"


Nino yang culun ketakutan merangkul Via. Ibu kantin lari berusaha melerai keributan. Pak satpam pun lari melerai setelah mendengar laporan Bara.


"Berhenti-berhenti.. !!!" Satpam tampak meniup terompet.


Wajah Jesika sungguh berantakan, luka cakaran tepat berada di pipi kanannya dan rambut yang mencuat ke sana sini. Sedang Tiara tak kalah menyedihkan. Kancing baju gadis itu sampai terlepas 2 biji karna di tarik Jesika. Luka cakar juga membekas di dagunya


"Kalian berdua... ikut saya ke ruang BK.. " Ujar satpam dengan penuh ketegasan.


"Huui....... " sorak ramai itu tampak kecewa karan kehadiran pak satpam.


"Bubar.. bubar... "


.


Setelah sama-sama keluar dari ruang BK. Jesika memberi tatapan membunuh pada Tiara. Tapi gadis itu bahkan tidak takut sedikit pun.


Saat Tiara akan ke toilet, dia berpapasan dengan Bara yang juga baru keluar dari toilet pria.


"Lo ga mau ngucapin makasih gitu sama gue karna dah nolongin lo..? " ujar Bara saat mereka hanya berjarak 2 langkah .


Tiara berhenti sebentar, tapi dia ragu apa Bara sedang bicara padanya. Hingga gadis itu tak menghiraukan dan kembali berjalan.


"Kalo gue ga manggil pak satpam, lo mungkin bisa lebih parah dari ini.." Bara menoleh menatap Tiara yang juga tengah berbalik menatapnya.


"Sok Iyes, siapa yang perduli atas pertolongannya. Aku juga ga pernah minta. .hah.... " Tiara mengumpat kepergian Bara dan kembali menuju toilet.


########


Seminggu berlalu, Tiara menjalani hari-harinya penuh semangat. Pagi sekolah, setelahnya menuju rumah mama Ani. Saat hari ke dua Tiara bekerja, mama Ani mengamuk setelah tidak menemukan Tiara saat dia bangun tidur.


Dion juga Dafa mencoba menenangkan dan memberi pengertian yang Tiara atau yang di sangka Dara oleh mama Ani sedang sekolah.


Mendengar cerita itu dari bi Darmi. Tiara pelan-pelan memberi pengertian pada mama Ani. Dan ternyata mama Ani memahaminya. Wanita itu hanya nenunggu Tiara pulang sekolah setiap harinya.


Mama Ani hanya butuh teman, dia begitu kesepian setelah ke pergian Dara. Dion anaknya sibuk mengurus bisnis. Sedang Dafa sibuk kuliah. Meski Dafa lebih punya waktu longgar, tapi mama Ani tidak suka jika di dekat Dafa.


Dia selalu memaki Dafa, karna terus di anggap lalai tidak mau menjaga adiknya.


Mama ani juga tetap menganggap Tiara adalah Dara. Tiara tidak mempermasalahkan, pelan-pelam dia akan berbicara dengan mama Ani. Saat ini fokusnya hanya lebih mendekatkan mama Ani dan juga melunasi hutangnya.


Dion yang semula ragu pada kemampuan Tiara juga berbangga hati atas apa yang Tiara lakukan.

__ADS_1


"Saya senang kamu bisa bertahan sejauh ini.. " ujar Dion tepat sebulan setelah Tiara bekerja menjaga mama Ani. Dafa bahkan menepuk lembut bahu Tiara dengan senyum puas.


"Terima kasih kak.. semoga kedepannya kondisi mama Ani semakin stabil.."


Dion dan Dafa tampak mengaminkan.


Dion menyerahkan amplop putih pada Tiara "Ambilah, ini gaji kamu bulan ini.. "


"Terima kasih-terima kasih kak Dion, kak Dafa.. " Tiara mengambil amplop itu dengan penuh rasa haru.


Dion hanya mengangguk sedang Dafa justru jahil. " Wahh... bisa traktir eskrim nih. udah gajian.." kelakarnya di iringi tawa ke tiganya.


"Pasti kak, pasti. Nanti aku traktir.. " ucap Tiara meyakinkan.


"Tiara, apa kamu ga mau tinggal di sini saja. Di sini ada banyak kamar kosong. Kamar Dara juga kosong.. " Dion menawarkan pada Tiara yang justru di balas gelengan gadis itu.


"Enggak kak, terima kasih. Mama mengizinkan aku bekerja sepulang sekolah asalkan aku bisa pulang setiap harinya. Tidak menginap.. "


"Ohh.. begiti rupanya, ya sudah ini sudah malam, antarkan Tiara pulang Dafa.. "


"Iya bang, ayo Ra.. kita makan es krim hahaha... " Dafa tampak bersemangat menjahili Tiara.


"Iya-iya.. " Tiara bangun mengangkat tas sekolahnya. " saya pulang dulu kak, Assalamualaikum.." pamitnya pada Dion.


"Waalaikum salam.." jawab Dion sambil menatap kepergian Tiara dan Dafa.


##


"Ra, aku tadi cuma bercanda. Jangan di kira serius.. " ujar Dafa yang tidak enak hati saat Tiara mengajak berhenti di toko .


"Ga papa kak, itung-itung aku lagi berbagi. Kapan lagi coba. Ayo turun... " Tiara lebih dulu membuka pintu dan turun. Dan Dafa pun akhirnya mengikuti.


Berdua beriringan mereka masuk toko saling bercanda. Memilih es krim berdua. Dan Tiara benar-benar membayarnya meski Dafa menolak. Keduanya sempat bersitegang di depan kasir.


"Cobain geh.. ini enak. Kacangnya berasa.. " Dafa menyodorkan es krim miliknya pada Tiara.


Meski ragu Tiara pun malu-malu mencicipi es krim itu.


"Iya enak.. kakak mau nyoba punya ku juga.. " tawar Tiara.


"Enggak, ini cukup. buat kamu aja.. " Dafa mengusap lembut kepala Tiara dengan penuh rasa sayang.


Awalnya Tiara tidak nyaman, tapi Dafa benar-benar menyayanginya layaknya adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Aku selalu merasa menyesal karna ga bisa jagain Dara dengan sungguh-sungguh Ra. jadi biarin aku jagain kamu kayak adik aku sendiri. buat sedikit mengobati rasa bersalah aku sama Dara.. "


Itu yang selalu Tiara dengar dari Dafa. Kakak yang menyesal karna terlambat menjemput adiknya. Hingga adiknya di temukan meninggal karna tertabrak mobil saat akan menyebrang jalan. Hari itu Dafa menyesali keterlambatannya, bahkan rass sesal tetao menyeruak dalam hatinya sampai sekarang.


__ADS_2