Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 23


__ADS_3

Kesibukan kembali melanda hari-hari Tiara. Tapi setidaknya gadis itu merasa tetap bersemangat karna suasana hati yang sedang bahagia.


Tring..tring..


"Hallo dengan Mutia di sini. " jawabnya pada talian.


"Mutia, ada telpon di line 2 untuk kamu " ucap bu Ayu sebelum panggilan berakhir.


Tiara langsung menekan angka 2 guna menyambungkan telpon.


"Hallo selamat siang, dengan Mutia di sini .Ada yang bisa saya bantu. " sapanya ramah sambil terus mengetik di komputernya.


"Ekhm.. selamat siang Tiara. ."


Tiara mengerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan suara itu.


"Iya, dengan bapak siapa ya? "


"Baradyaka, saya tunggu kamu di tempat kemarin. jam 12 .. " sambungan langsung terputus begitu saja secara sepihak.


Tiara meletakkan kasar telpon di mejanya,


"Dasar bola bekel.. seenaknya aja ga punya sopan santun. " umpatnya dalam hati. Beberapa kali gadis itu menghela nafas panjang untuk merenggangkan saraf-saraf yang menegang.


Lalu gadis itu berdiri menuju ruangan ibu Ayu.


tok tok


Setelah mendapat sahutan dari dalam, Tiara langsung masuk.


"Permisi bu, maaf nanti siang pak Bara meminta saya menemuinya sepertinya untuk membahas kerja sama kemarin. Apa saya bisa datang bersama pak David seperti kemarin.?"


" Oh iya kamu siapkan saja dokumen yang ingin di bawa. Pak Bara meminta kamu datang hanya untuk tanda tangan. Jadi kamu bisa pergi sendiri.. " ujar Bu Ayu lugas.


"Baik bu, saya permisi.. " gadis itu kembali menghela nafas pelan keluar dari ruangan bu ayu.


"Mutia... " Dari arah kanan David datang dengan setengah berlari. " Kebetulan sekali, ini kontraknya sudah saya siapkan ." Lembaran bermap hitam itu tampak di ulurkan pada Tiara.


"Pak apa saya memang harus pergi sendiri..? " tanya gadis itu memelas.


"Ini kan cuma untuk toko Mutia, jadi tidak masalah. Jika kerja sama dalam lingkup besar pasti staff presdir sendiri yang akan turun tangan. " terang David.


"Baiklah pak, terima kasih.. "

__ADS_1


"Semangat Mutia..! " David mengacungkan 2 jempolnya, sedang Tiara hanya mengangguk lemah.


Tepat pukul 11.30 Tiara lebih dulu keluar menuju Lobi setelah sebelumnya dia sudah memesan taksi untuk mengantarnya ke tempat tujuan.


Sembari menunggu, gadis itu bersandar memainkan ponselnya. Tentu saja berbalas pesan dengan Alex.


Senyum terus mengembang di bibirnya sampai tak terasa taksi yang menghantarnya sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan.


"Terima kasih pak.. " ujar gadis itu sambil menyerahkan sejumlah uang.


"Sama-sama Non.. " Supir taksi tersenyum sopan melepas kepergian Tiara.


Cuaca sangat panas, di tambah sedikit rasa tegang membuat beberapa keringat mengucur di dahi Tiara.


"Permisi mbak, saya ada janji dengan pak Baradyaka.. " ujarnya pada pelayan.


"Oh, iya bu. Maru saya antarkan.. " pelayan memimpin jalan menuju ruangan di mana Bara berada.


Ruangan itu berbeda dengan ruangan sebelumnya karna si pelayan menghantarkannya di bagian dalam restoran. Tepatnya dekat jendela kaca yang menampakan pemandangan sisi gedung.


"Di sini mbak.. ?" Tanyanya ragu. ini seperti tempat santai. Meski terdapat beberapa pintu di depannya.


" Iya bu. silahkan duduk. Sebentar lagi Waitress akan menghantarkan minuman untuk ibu."


"Pak Bara sedang ada kerja, sebentar lagi beliau akan menemui ibu.. saya permisi dulu , mari.. " pamit pelayan itu yang hanya di angguki Tiara.


Ternyata menunggu bara tidak cukup waktu 10-15 menit. Dan Tiara hanya bisa mendengus kesal saat belum terlihat sedikit pun batang hidung lelaki itu, bahkan jus yang di hidangkan juga sudah tandas tak tersisa.


Gadis itu memandang lalu lalang di luar gedung lewat kaca bening yang terbuka, setidaknya itu bisa sedikit membuang kebosananya.


"Ekhem. Maaf saya terlambat.. " Seorang lelaki datang dari arah pintu yang di lalui Tiara tadi. Sedang Tiara hanya melirik kesal.


"Pasti lama menunggunya ya, maaf saya tadi ada keperluan mendadak.. " ucap Bara sekali lagi, karna merasa tidak enak hati. Dia yang membuat janji, dia juga yang mengingkari.


"Tidak masalah pak Bara, meskipun anda juga tau wanita tidak bisa di buat menunggu terlalu lama.. " Sindir Tiara dengan senyum keterpaksaan.


Bara mengulum senyumnya lalu menatap arlojinya.


"Benar sekali, saya sudah membuat seorang Ibu Mutiara menunggu hingga 25 menit lebih 3 detik. "


Tiara hanya menghela nafas dalam. "Jadi apa bisa kita langsung saja pak. .?"


"Ah, tentu.. dan mana kontraknya..? " tanya Bara dengan mode serius. Tiara membuka map yang dia bawa dan menyerahkannya pada Bara. Lelaki itu terlihat membaca dengan seksama apa yang tertulis di kontrak Dan Tiara hanya memperhatikan.

__ADS_1


"Dia bisa serius juga orangnya.. " batin gadis itu saat melihat Bara mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba lelaki itu justru mendongak menatap Tiara, Tiara yang terkejut segera membuang pandangannya ke segala arah.


"Ibu Mutia, ini maksutnya apa..? " tanyanya menahan senyum, karna sempat memergoki Tiara memperhatikannya.


"oh ini. saya jelaskan pak. Jika bapak kedepannya akan tetap menyambung kontrak kerjasama maka harga yang di tawarkan akan lebih rendah di banding harga sekarang. Jadi tentu saja sedikit banyak, bapak akan menerima keuntungan lebih. " terang Tiara sambil menunjukan rincian yang di buat David di lembar lain.


Bara mengangguk mengerti " Jadi di sini saya harus tanda tangan. .?"


"Iya pak, lalu di lembar ini.. " tunjuk Tiara pada lembar belakangnya.


Bara segera membubuhkan tanda tangannya di tempat yang di tunjukan Tiara. Tiara dengan cekatan membuka map itu, satu lembar dia simpan sedang lembar lainnya untuk bagian Bara. Setelah selesai kembali map itu ia sodorkan pada Bara.


"Baik, Terima kasih pak atas waktunya. " gadis itu berdiri, meraih tasnya bersiap untuk pergi.


"Saya permisi dulu pak, semoga kerja sama ini bisa saling bermanfaat ya pak. " angguknya memberi hormat


"Kenapa terburu-buru. ? duduk dulu, anda pasti belum makan siang kan.?"


"Maaf pak, saya tidak bisa karna saya ada urusan lain.. " Tolak Tiara halus.


"Urusan apa bu Mutia, ini juga sudah jam sholat. Anda bisa menggunakan ruangan itu jika urusan yang di maksut adalah sholat.. " Bara menunjukan salah satu pintu di depan tempat duduk mereka.


"Saya sholat di masjid saja pak.. " kembali Tiara menolak.


"Di sini juga ada mukena bu Mutia, sebentar.. " lelaki itu justru berdiri dan masuk ke ruangan satunya, membuat Tiara bingung.


"Ini milik ibu saya, ini bersih tenang saja karna saya selalu meminta staff mencucinya setelah ibu saya menggunakan. " terang Bara sambil menenteng sebuah kotak kain yang ternyata di dalamnya terdapat satu set mukena juga sajadah.


Tiara mengerutkan keningnya, bagaimana lelaki itu meminta sraff mencuci.


"Maaf pak, maksut saya. Memangnya restoran ini.. " Tiara belum menyelesaikan ucapannya saat Bara mengangguk dan tersenyum.


"Iya, restoran ini milik saya. Mari saya antar.. saya juga belum sholat.. "


Bara membuka pintu yang tadi dia tunjuk, Tiara juga di buat terkejut karna ruangan itu ternyata sangat lebar. Ada juga beberapa mukena menggantung di sisi dinding yang maknanya ini memang ruang untuk sholat.


Tiara mengikuti Bara mencopot sepatu lalu menuju pada sisi ruangan yang terbagi dua.


"Ibu Mutia bisa wudhu di sini, saya di sebelah sana. " Dan Tiara kembali hanya mengangguk, gadis itu membuka blazzer miliknya setelah melihat Bara pergi. Lalu buru-buru mangambil wudhu dan memakai mukenanya.


Setelah selesai Tiara menuju hamparan karpet tebal. Di depan sana tampak Bara membenarkan lengan bajunya yang semula di gulung.


Posisi mereka memang terpisah beberapa meter, tapi Tiara memilih menjadi makmum di belakang Bara.

__ADS_1


__ADS_2