
Tiara menatap nanar lelaki yang sudah sejak 3 hari lalu di ikuti dari balik mobil rental. Matanya memerah melihat lelaki itu tersenyum sembari menggandeng tangan seorang wanita yang tak lain adalah kekasih Dion kakaknya untuj memasuki sebuah rumah.
Sejak 3 hari Tiara terus menguatkan hati agar berani menemui Alex. Hari ini dia memutuskan memperjelas semuanya. Langkahnya ringan menuju hunian minimalis yang terlihat baru itu. Hatinya terus meyakinkan bahwa yang dia lihat adalah salah.
tok tok tok
Dengan bergetar dia mengetuk pintu rumah itu. Cukup lana menunggu hingga dia akan kembali mengetuk untuk ke 3 kalinya.
ceklek.
"Iya..." senyum sumringah seorang wanita langsung sirna saat tahu siapa tamunya.
Tiara ingin tak percaya tapi nyatanya sosok Imelda memang yang membuka pintu untuknya.
"Tiara " ucap Imelda nyaris tak bersuara.
"Kak Imel, kaka di sini? " tanya Tiara, pertanyaan itu tidak ada dalam skenarionya tadi. Tapi entah kenapa justru itu yang keluar lebih dulu dari bibirnya.
"Siapa sayang.. ?" lelaki berkaos putih dan celana pendek ikut muncul dari balik pintu. Imelda tak sempat menarik masuk tubuh Alex.
"Tiara.." Alex tak kalah terkejut akan kehadiran gadis itu di depan rumahnya.
Tiara menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum, tapi air mata luruh begitu saja.
"Aku mencari mu kemana-mana, kamu di sini rupanya? " sesak di dada Tiara rasanya ingin meledak, ingin rasanya menampar atau menjabak kedua orang yang begitu dia kenal itu saat itu juga.
__ADS_1
"Masuk Ra.. " Imelda lebih dulu sadar situasi. Tidak mau ada keributan yang di lihat tetangga.
Alex mundur, membuka jalan untuk Tiara masuk. Sedang Imelda segera menggandeng wanita itu untuk duduk lalu kembali menutup pintu.
Lama hening, mereka hanya saling menatap dan menunduk.
"Aku buatin minum dulu ya.. " Imelda berdiri dan menuju dapur, maksut hati memberi ruang untuk kedua pasangan kekasih itu untuk saling berbicara.
Namun Alex hanya diam membatu dengan menundukan kepala. Rasa rindu yang membuncah tiba-tiba menguar begitu saja saat Tiara melihat sikap pengecut Alex.
"Apa kamu hidup dengan baik 3 bulan ini? " tanya Tiara sembari menyeka air matanya.
"Aku lihat begitu, hidup mu sangat baik." kembali Tiara menjawab sendiri pertanyaanya.
Alex perlahan mengangkat wajahnya, jujur hatinya masih mengukir indah nama gadis polos yang telah menemaninya bertahun-tahun itu.
Tiara tersenyum sinis, mengusap air mata yang menurutnya si alan terus luruh di depan lelaki yang di cintainya itu.
"Bagi mu ternyata amat mudah, sedang bagiku itu sulit. "
" Aku sudah pernah memintamu mengikutiku Ra, tapi kamu menolak. "
"Dan akhirnya kamu lebih memilih pergi saat akad kita tinggal di depan mata. Apa kamu sadar betapa sakit nya aku." Tiara memegang dadanya yang justru sangat sesak.
"Maafkan aku Ra." Alex menatap wajah kekasihnya itu. Ada rasa bersalah menyarang di hatinya. Tapi nyatanya perbedaan keyakinan memang jadi alasan keduanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa dia? " tanya Tiara seolah memang mengarah pada Imelda.
"Dia mantan ku saat SMA." hanya itu yang keluar dari bibir Alex, Tiara bisa menyimpulkan kenapa mereka tampak canggung saat bertemu di kantor dulu.
Imelda kembali dengan membawa cangkir teh dan meletakkannya perlahan di meja.
"Di minum Ra.. "
Tatapan tajam Tiara seolah menjadi jawaban untuk Imelda.
"Aku minta maaf Ra, kami sudah menikah dan aku sedang hamil 3 bulan." ucap Imelda debgan pelan lalu mengusap lembut perutnya.
Tiara tidak begitu memperhatikan sedari tadi, tapi kini fokusnya beralih pada perut bekas kekasih kakaknya itu.
Sedang Alex tidak menyangka Imelda akan berterus terang, dia kembali menatap luka di wajah Tiara.
"Aku akan lebih menghargai jika kalian bisa bicara jujur sejak awal. " Tiara bangkit, tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari seorang Alex. Lelaki itu telah menghianatinya dan meninggalkannya.
"Aku menyesal pernah mengenalmu, Lex. " Ucapnya sebelum keluar dari rumah itu. Harapannya membawa lelaki itu kembali dan membuktikannya pada keluarganya sudah punah.
Berganti perih dan lara, dia merutuki kebodohannya sepanjang jalan menuju bandara.
Menyesali ke butaanya pada cinta Alex yang di nilai tulus hingga dia mengesampingkan nalarnya.
.
__ADS_1
.