
2 orang wanita tampak berjalan beriring sambil bercerita. Mereka baru saling kenal saat rombongan tiba di tanah suci. Seseorang yang lebih berisi tubuhnya tampak tertawa saat rekan bicaranya sedang bercerita.
"Jadi kan Za, aku tu ga tau yang dia itu pak RT di situ. Aku kira kan orang datang minta sumbangan. Orang dia bawa tas warna hitam sama map, rupanya dia baru mengurus surat tanah tetanggaku.. " Ucap Mariana yang membuat gelak tawa Izza. Umur keduanya sepantaran, meski jika di lihat seiras. Mama Mariana memang terlihat lebih berumur.
"Ya Allah, kapan-kapan kita ketemu ngobrol lagi ya Mar.. " Pinta Izza yang di angguki Mariana.
"Anak bu Mar, apa udah menjemput.. ?" tanya Arlan saat mereka tiba di pintu keluar bandara.
Mariana mengedarkan pandangannya, dapat dia lihat seorang gadis tersenyum lebar dan melambai padanya.
"Sudah pak Dokter, itu anak gadis saya" tunjuknya ke arah Tiara.
Izza dan Arlan mengikuti arah pandang Mariana.Seorang wanita cukup manis berjalan beriring dengan lelaki tampan menawan.
"Mama... !!" Tiara langsung menghambur memeluk mamanya. "Aku kangen.... syukurlah mama kembali dengan selamat".
"Iya sayang, udah dulu malu di lihatin orang-orang" Mariana lebih dulu mengurai pelukan mereka.
"Tante.. " Sapa Alex sambil menyalami Mariana yang ikut mengangguk dan tersenyum.
"Tiara, ini ibu Izza teman mama selama ibadah di sana. Dan ini suaminya Pak Dokter Arlan" Ujar Mariana memperkenalkan.
"Tiara bu, salam kenal.. " Di ciumnya punggung tangan Izza lalu beralih pada Arlan yang di ikuti oleh Alex.
"Ah iya, salam kenal Tiara. Dan ini pasti calonnya ya.. ?" tebak Izza saat melihat Alex ikut menyalaminya .
"Hehe... iya Za, ini calonnya Tiara. Namanya Alex.. " ujar Mariana , Alex pun tersenyum mengangguk pada Izza dan Arlan.
"Jangan lupa dateng loh nanti di acara tunangan mereka. Aku undang kamu khusus sama pak dokter. Bila perlu ajak anak-anak mu semua." tambah Mariana
Izza mengangguki undangan Mariana. " Insya Allah kami akan datang. Yang penting kabarin kapan waktunya.. "
__ADS_1
"Tenang aja, yang penting nomer kamu ga ganti " balas Mariana di iringi tawa kecilnya.
"Nak Alex kerja apa.. ?" kali ini giliran Arlan mengobrol karna Izza dan Mariana sibuk bercengkarama sendiri.
"Saya kerja sebagai konsultan asuransi Om.. : jawab Alex.
"Bagus itu, pasti gajinya sudah tinggi nih.. " Arlan menepuk lembut lengan Alex.
"Lumayan lah om.. hehe.. "
"Kayaknya kamu seumuran anak sulung Om.. umur kamu berapa? "
"Saya 31 om.. " jawab Alex yang membuat Arlan terkejut.
"Kirain seumuran anak Om, anak om baru 27 . haha ternyata wajah kamu babyface.. "
Alex tersenyum lebar menanggapi ucapan Arlan.
"Alex. ayo kita pulang dulu. Lihat lah tante udah cape tapi di lendoti Tiara.. " ucap Mariana yang langsung mendapat plototan Tiara yang tidak terima. Mereka pun salong mengulas senyum melihat Tiara yang terus menempel pada mamanya.
"Ah iya Lex, pasti.. hati-hati.. " jawab Arlan sambil membalas uluran tangan Alex.
"Za, aku duluan ya. Kamu yakin ga ikut aku aja.. " tawar Mariana sebelum pergi .
"Enggak Mar, kita nungguin anak kita katanya udah OTW.. " jawab Izza sambil membaca pesan dari gadis bungsunya.
"Ya sudah kalau gitu, kami duluan.Assalamualaikum .."
"Waalaikum salam.." jawab Izza dan Arlan bersamaan.
.
__ADS_1
Tak lama sepergian Mariana. Anak-anak Arlan dan Izza memang datang menjemput.
"Mama... papa... !" Laila langsung berlari menghambur ke arah mereka, Izza dan Arlan pun setengah berjongkok menyambut putri mereka.
"Alahai, anak mama. Mana yang sakit Nak.. ?" tanya Izza penuh khawatir sambil mengusap lembut dahi anaknya yang masih terlihat membekas jahitan.
"Udah ga sakit ma, udah sembuh ko.. " ujar Laila dengan senyum lebarnya.
"Anak papa nangis ga pas di jahit.. ?" kali ini giliran Arlan bertanya.
"Nangis pa, sampe seluruh rumah sakit nutup telinga karna kebrisikan suara tangisnya " jawab Ammir sambil menyalami dalgn memeluk orang tuanya bergantian.
"Abang bohong pa, adek cuma nangis sama bang Bara kok.. " ucap Lailana yang di sambut tawa Arlan.
Bara datang terakhir karna menuntun Utinya. Ya itu Humairah.
"Loh, Uti udah lama di sini.. ?" tanya Izza yang terkejut melihat mamanya datang.
"Uti dah lame kat sini dari sejak Lailana jatuh tu hari. Bara bagi kabar, esoknya Uti langsung pegi sini.. " terang Humairah sambil memeluk anaknya. " Anak mama dan jadi haji, semoga mabruk.. "
"Aamiin, terima kasih do'anya Ma.. " Izza memeluk haru tubuh mamanya itu.
Setelah Izza mengurai pelukan, Arlan pun langsung menyalimi mertuanya.
"Mama apa kabar ?, ga nyangka magma ikut njemput.."
"Ye lah... Bagi suprise. Semoga mabruk ya Nak.. " ucap Humairah yang di amini Arlan.
Bara jadi orang terakhir memeluk dan menyalimi orang tuanya.
"Maaf ma, abang lalai jaga Laila.. " bisik Bara saat memeluk mamanya.
__ADS_1
"Udah gapapa, namanya musibah, Bang " Izza mengusap lembut bahu anaknya dan mencium kepala sulungnya penuh sayang.
Sedang Arlan sibuk mendengar celotehan bungsunya yang mengadu tentang Ammir. Kali ini Ammir tidak lagi melawannya, dan itu membuat Izza bernafas lega. Takut anak-anaknya saling berterialk di depsn Uti mereka.