Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 43


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa Ra..? " tanya Dion sambil sesekali menoleh pada adik ponakannya yang terud menangis tergugu di kursi sampingnya.


Tadi setelah menemui klien, Dion memutuskan langsung pulang dan justru melihat Tiara duduk menangis di sebuah halte bis. Beberapa saat Dion diam di dalam mobil guna meyakinkan yang dia lihat adalah Tiara.


Dan setelah yakin, dia menghampiri dan mengajak gadis itu naik mobilnya.


"Aku harus gimana kak hwaaa... " Tiara kembali menangis histeris.


Dion memilih menghentikan mobilnya di sebuah taman kota. Sesaat keluar untuk membeli air mineral.


"Minum dulu dek.. " tangan Dion terulur menyerahkan botol yang sudah terbuka tutupnya.


Tiara mengusap ingus dan air matanya dan minum hingga hampir setengah. Lama menangis membuat tenggorokannya cukup kering.


Setelah melihat Tiara sedikit tenang, Dion menoleh ke arah Tiara kembali.


"Jadi ada apa..? kenapa kamu di luar, dan nangis di halte? " tanyanya lembut sambil merapikan poni Tiara.


Gadis itu kembali sesenggukan, meraih tisu yang sudah habis setengah kotak.


"Aku musti gimana kak, undangannya udah di sebar. Tinggal seminggu lagi.. Tapi Alex, Alex.. " ucapnya tersenggal.


Dion mengusap bahu adiknya, menenangkannya sambil mendengar semua cerita Tiara.


Senja mulai menampakkan pendar merahnya. Ponsel Tiara terus berbunyi karna Via dan mamahnya trus menghubunginya, tapi gadis itu abai. Dion setia menemaninya hingga gadis itu merasa siap untuk pulang ke rumah.


"Ya Allah... Tiara...! kamu dari mana saja. ??" Mariana berlari menyongsong kedatangan putrinya. Di ikuti Via di belakangnya.


"Mama... huhuhu..... " Tiara memeluk Mariana erat, menangis sesenggukan membuat Mariana, Dion dan Via saling pandang .


"Ada apa sayang, kenapa kamu nangis? " Mariana mengurai pelukannya, mengusap pipi anaknya yang basah. Mata sembab membuat Mariana menebak yang anaknya sudah menangis sedari tadi. Kembali dia melayangkan pandangan pada Dion. Yang hanya di balas datar lelaki itu.


"Ayo masuk dulu." Mariana menuntun putrinya masuk ke rumah.


"Ada apa bang, kalian kok bisa bareng. ?" cerca Via yang hanya di balas Dion dengan meletakkan jari di depan bibir dan mengikuti Mariana dan Tiara masuk.


"Duduk dulu.. " Mariana duduk di sebelah anaknya setelah Tiara lebih dulu duduk.


"Ada apa, kenapa kamu nangis.. ?"


"Aku... aku.. ke.. temu.. Alex.. " Jawab gadis itu tersenggal. "Alex...Alex... huhuhu.... " kembali dia tergugu.


"Kalian bertengkar.. ?" tebak Mariana begitu saja " Mama kan sudah bilang, kamu di rumah. Di pingit jangan keluar atau menemuinya. Betapa banyak syetan yang terus menggoda . Kan jadi gini.. bertengkar kan akhirnya kalian.. "


Tiara jatuh menelungkup di pangkuaan mamanya, hatinya sakit hingga tidak bisa mencurahkan apa yang sebenarnya terjadi . Dia juga merasa tidak tega jika harus mengatakan sebenarnya. Melihat semua yang sudah disiapkan mamahnya untuk pernikahannya. Membuat dia tergugu.


"Sudah, jangan nangis. Hal biasa bertengkar menjelang pernikahan tu.." bujuk Mariana kembali.


Dion hanya menghela nafas pelan, dia ikut bingung . Dan saat menatap Tiara, gadis itu memberi isyarat menggeleng pelan saat Dion baru akan membuka mulutnya.


Via datang membawakan teh hangat dan duduk di sisi Mariana. " Minum dulu Ra, biar anget perutnya "


"Ayo, bangun. Jangan begini. Jelek nanti " bujuk Mariana.

__ADS_1


Tiara perlahan bangkit, mengusap ingus dan air matanya. Kedua mata yang bengkak menjadikan dia sipit.


"Setelah ini istirahat, mama ga akan lagi izinin kamu keluar rumah sampe hari H " tegas Mariana, lalu beralih menatap Via. "Berlaku juga buat kamu Via.. "


Via mengangguk patuh sambil menunduk, karna apa yang terjadi hari ini juga karna dia. Dia ingat betapa Mariana mengomel dan memarahinya sedari tadi karna melihat Via pulang tanpa Tiara.


"Ayo.. Antar Tiara ke kamar " Titah Mariana dan Via langsung berdiri menuntun Tiara ke kamar atas. Untung saja Maira tidur setelah pulang dari salon, jadi itu sedikit banyak mengurangi beban Via yang tadi di marahi oleh Mariana.


"Kamu ketemu Tiara di mana Dion..? " Mariana langsung menatap pada ponakannya itu. Meminta penjelasan.


"Aku ketemu di jalan Tan, dia nangis di halte " jujur Dion, lelaki itu memilih akan mengatak yang sebenarnya. Tapi getar ponsel mengalihkan fokusnya. Pesan dari Tiara.


"Kak.. Aku mohon jangan ngomong sama mama apa yang terjadi sebenarnya "


"Kak.. tolong temui Alex di apartemennya. bujuk Dia kak. Tolong "


"Hanya kakak harapan aku, aku ga mau pernikahan ini gagal kak. Aku ga tega sama mama. "


"Please... kak.. 😭😭😭"


"Dion..?! " Mariana memanggil ponakannya itu yang justru terlihat sangat fokus membaca pesan.


"Eh, iya.. seperti yang tante bilang tadi. Mereka mungkin bertengkar " ujar Dion dengan mengalihkan pandangannya, takut ketahuan sedang berbohong .


Pukul 8 malam setelah makan malam dengan keheningan. Tiara yang tidak berselera makan ikut turun bergabung, meskipun hanya mengaduk-aduk makanannya.


Via tidak berani mengangkat wajahnya karna rasa bersalah. Dan memilih fokus menyuapi Maira. Hanya suara Maira yang berceloteh ini dan itu yang mengisi ruang makan.


Mariana baru akan memakai mukena untuk sholat isya, ketika ponselnya berbunyi.


"Hallo selamat malam... ibunya Tiara. Bisa kita ketemu malam ini " sapa di sebrang talian to the point.


"Iya ibunya Alex, ada apa . Apa ini tentang anak-anak kita. ?" tanya Mariana yang penasaran.


"Iya ibu, bisa kita ketemu sekarang. Saya ada di kedai kopi ujung jalan dekat kawasan rumah ibu " terang Ellen.


"Sekarang..?? " tanya Mariana memastikan.


"Iya ibu, saya tunggu. " Tut.


Panggilan terputus membuat Mariana bertambah bingung.


"Munginkah membahas pertengkaran Alex dan Tiara tadi, tapi kenapa harus ibunya yang turun tangan.. "


.


Pukul 12 malam


Alex menghabiskan beberapa botol minuman di sebuah club. Pertengkaran dengan Tiara siang tadi terus terngiang di kepalanya, hingga dia terus menegak minuman itu.


"Aku ga mau lex, kamu udah janji mau ngikutin aku. Kenapa sekarang jadi begitu aja kamu terbalikkan..!! "


Suara teriakan penolakan Tiara dan tangis kekasihnya membuat kepalanya berdenyut. "Tiara. " gumamnya yang mulai teler . Tapi wajah Tiara yang menangis, lalu meminta turun dan berlari menjauh dari mobil. Hingga keluar pagar gereja. Masih terlihat penuh di matanya yang sudah mulai memejam.

__ADS_1


"Tiara... " kembali dia merancau di iringi bayangan pertengkaran mereka di depan halte. Saat itu Alex berhasil mengejarnya dengan menggunakan mobil.


"Tinggal seminggu Lex.. huhuhu.. tinggal seminggu pernikahan kita "


Ucapan Tiara seolah sebuah kaset yang terus memutar membuat Alex mengeram kesakitan di kepalanya.


Naina yang baru tiba di club tersenyum lebar saat mendapati Alex ada di sana. Dengan langkah pasti dia berjalan mendekat, hingga berhenti di sebelah Alex yang terlihat merancau karna mabuk.


"Alex sayang... " bisiknya di telinga Alex yang memiringkan kepalanya di atas meja bar.


"Tiara... " rancau Alex lagi " Jangan pergi sayang "


Naina berusaha mencerna rancauan Alex. gadis itu menebak yang Alex sedang bertengkar dengan kekasihnya.


"Moment yang pas... " ujar Naina dengan senyum lebarnya. Baru dia akan memegang lengan Alex. Seseorang lebih dulu menepisnya.


Plak.


"Jangan sentuh dia. . !"


Naina menoleh. menatap seseorang yang baru datang mengganggu rencana kesenangannya.


"Siapa kamu?! " tanyanya ketus.


"Ga penting siapa aku, dia menghubungiku tadi . Minggir.. " ucap Wanita itu lalu mulai menarik lengan Alex.


"Enak aja. Dia datang bersama ku tadi " Protes Naina berbohong.


"Kamu belum terlihat bau alkohol say, jadi pastinya kamu baru dateng "


Wanita cantik itu tersenyum miring, dan tak mengindahkan tatapan kesal Naina.


"Memang kamu siapanya hah?! " bentak Naina tak terima.


"Dia Alex ku. Aku kekasihnya.. " ujarnya sebelum pergi memapah Alex keluar dari club yang di irungi tatapan marah Naina.


Wanita tadi memapah Alex hingga ke mobilnya, lalu segera mengantarkan pulang menuju Apartemen di mana Alex tinggal.


"Tiara... Tiara... " Alex tetap merancau sepanjang jalan.


Dengan menggunakan ibu jari Alex, pintu Apartemen itu terbuka. Gadis itu kembali memapah Alex, membawanya ke kamar.


"Tiara.. jangan pergi.. " Alex menarik tangan wanita itu hingga terjerambab di atas tubuhnya.


"Alex. aku bukan Tiara...! " kesalnya sambil menepuk pipi Alex dengan keras.


Alex yang mabuk perlahan membuka dan memejam kan matanya kembali di iringi senyum manisnya.


"Tiara... sayang... " bayangannya wanita di depannya adalah Tiara. Hingga dia langsung membalikan tubuh wanita itu berada di bawahnya dan menciumi bibirnya.


"Alex... Aku bukan Tiara...!" kembali wanita itu mengingatkan saat Alex mulai mengangkat baju miliknya. Tangan Alex yang mulai menjamah titik sensitifnya membuat dia ikut terbuai dan mendesah.


"Tiara.. kita nikmati malam pengantin kita sayang.. " rancaunya sambil membuka kasar celana milik nya dan mengangkat rok wanita itu. Tanpa aba-aba langsung menyatukan miliknya.

__ADS_1


"Ahhhkkk..... " wanita itu terkejut, karna sikap buru-buru Alex padanya yang belum siap.


Hingga menjelang pagi, dengan peluh yang mengucur Alex mengahiri sesi bercintanya dan tumbang di samping tubuh yang sudah sama-sama polos. Sedang wanita di sisinya mulai gamang. Merasa bodoh karna kembali terjebak dengan Alex.


__ADS_2