
Bara mulai merasa risih akan sikap Laras padanya. Saat di resto pun, wanita itu terus bertanya akan kabar perpisahannya dengan Tiara. Bahkan melarang karyawan lain masuk ke ruangannya walau hanya sekedar menghantar minum atau makan. Seperti pagi ini, dia kembali di kejutkan akan kehadiran Laras ke apartemennya.
"Kamu? "
"Assalamualaikum Bara, aku bawain sarapan loh buat kamu." dengan wajah riang gembiranya Laras melongok ke dalam, berharap di persilahkan masuk ke dalam.
"Waalaikum salam, kamu ngapain kesini? " Bara mengernyit heran saat gadis itu kembali mengangkat rantang yang dia bawa.
"Aku kan udah bilang, aku bawain sarapan buat kamu. "
"Kenapa repot-repot, aku bisa sarapan di resto nanti. "
"Aku takut maagh mu kumat nanti kalau telat makan. Apa aku tidak di persilahkan masuk? " ujar gadis itu.
Bara menggeleng pelan, " Maaf aku ga bisa ngajak kamu masuk. Kita bukan mughrim."
"Kamu bisa tetep buka pintunya Bara, jadi orang bisa liat kita ngapain di dalam.. " Bujuk Laras.
Dari arah samping muncul Dion yang ikut bingung melihat seorang perempuan di depan Apartemen Bara.
"Eh, bang.. " Bara tentu saja terkejut melihat Dion tiba-tiba datang ke apartemennya. Laras pun menoleh, memandang kehadiran pria yang tanpak klimis dengan jas nya.
"Apa aku mengganggu? " tanya Dion dengan senyumnya.
"Enggak bang, ayo masuk " Bara membuka pintu lebih lebar guna mempersilahkan Dion masuk.
"Bara ! aku ga di persilahkan juga?" protes Laras.
Dion yang baru melangkah kembali menoleh, memandang gadis yang membawa rantang dan tas.
"Dia siapa? "
"Eh, ini Laras bang. Rekan kerjaku. " terang Bara.
Sedang Laras bersungut kesal,
"Yaudah, kamu boleh masuk ." Bara merasa lebih aman karna ada Dion.
Dion duduk di sofa di ikuti Laras dan Bara,
"Ada apa bang, tumben? " tanya Bara kemudian.
"Ekhem.. gini.. " Tapi Dion kemudian melirik ke arah Laras berada .
Seakan paham Bara segera menyuruh Laras menyiapkan apa yang dia bawa ke arah dapur, " Ras, kamu bawa makannya ke dapur aja. Nanti sekalian sama bang Dion sarapannya. "
__ADS_1
Laras merasa senang,karna apa yang dia bawa tak sia-sia. Gadis itu mengangguk dan berlalu untuk masuk ke dapur.
Sepeninggal Laras, Dion dan Bara kembali saling mengobrol.
"Jadi dia ada di kota xxxx bang? " tanya Bara memastikan, yang di angguki Dion.
"Dia ada di rumah Via, semalam Via ngirim pesan sama abang."
"Apa mama sudah tau? " tanyanya lagi.
"Tante udah tau, tapi ya gitu. Kata bibik sebelum pergi mereka bertengkar."
Bara tercenung, bimbang akan langkah yang akan dia ambil. " Apa aku perlu menyusulnya Bang? "
"Apa kamu punya niatan memperbaiki segalanya, rumah tanggamu?" tanya Dion.
"Aku mau, tapi dia mana mau. " tersenyum getir, seakan semua tidak mungkin.
"Lemah! berjuang donk! " seru Dion bersamaan Laras yang muncul dari pintu dapur .
"Bara, udah siap. Ayok sarapan bareng. " ajaknya, membuat kedua pria itu menoleh.
"Aku mandi dulu.Bang,silahkan sarapan dulu ." Bergegas dia lari ke kamar untuk mandi dan bersiap.
Dion pun bangkit menuju dapur, Laras yang semula tersenyum lebar langsung merengut karna justru Dion yang makan lebih dulu.
"Maksutnya? " tanya Laras yang tidak mengerti arah pembicaraan lawannya.
"Apa kamu terbiasa memberi perhatian lebih pada suami orang? " Dion memandang wajah Laras,terlihat Laras membuang pandangannya karna tersinggung.
"Dia punya magh, aku cuma khawatir. "
Dion menyunggingkan senyumnya, sejujurnya lontong sayur buatan Laras sangat enak menurutnya. Tapi dia tidak ingin memuji gadis di depannya itu.
"Kamu khawatir pada orang yang tidak tepat, dia suami orang. Kamu masih muda, jangan sampai orang mengataimu pelakor. "
Laras yang mendengar ucapan Dion naik berang, tapi dia tidak berani lagi menjawab. Takut menimbulkan keributan di apartemen Bara.
Bara bergabung di meja makan tepat setelah Dion selesai makan.
"Loh Ras, kamu ga ikut bareng sarapan sama bang Dion.? " tanya Bara saat melihat mangkok gadis itu masih bersih.
"Dia menunggu mu." justru Dion yang menjawab dengan santai sembari memainkan ponselnya.
"iya, aku menunggumu. Nanti sekalian bareng ke resto ya Bar. " ujar gadis itu dengan senyum lebarnya pada Bara.
__ADS_1
Terdengar Dion berdecih, membuat bara tak enak hati, sedang Laras merasa tersinggung kembali.
"Ras, aku ga bisa. aku akan cuti beberapa hari. Aku ada urusan di kota xxxxx. Kamu bisa kan handle resto selama aku pergi?"
"Urusan apa.. ?" tanya Laras tanpa perduli tatapan tajam Dion padanya.
"Apa seorang rekan kerja sekepo itu dengan urusan pribadimu Bara? " Suara Dion membuat keduanya diam. Bara merasa sangat takut Dion akan salah paham.
"Aku ada urusan, dan kamu ga perlu tau Ras. " tegas Bara kemudian.
Setelah Bara dan Laras selesai sarapan.Dion bangkit, merapikan pakaiannya dan pamit untuk pergi. Di iringi tatapan kesal Laras yang berharap lelaki itu pergi sedari tadi.
"Ayo kamu mau ke resto kan? "
"Aku.. ?" tanya Laras bingung.
"Iya, memangnya mau apa lagi seorang gadis di apartemen pria beristri.Kamu masih gadis kan? " Ledek dion santai.
Bara mengulum senyumnya, " makasih ya bang."
"Sama-sama, aku bawa rekan kerjamu dulu. Takut jadi fitnah. "
Laras dengan masam muka mengambil tas miliknya dan berjalan Mengikuti Dion.
'' Bara, aku pergi dulu. Bye.. "
Bara mengangguk, sembari tersenyum melihat tingkah Dion. Yang sedikit banyak membantunya menghadapi sosok Laras.
Sesampainya di bawah. Laras mengikuti langkah Dion menuju parkiran.
"Kamu ngapain ngikutin saya? " tanya Dion.
"Ya, kan tadi katanya suruh ikut. lagian kantornya searah kan? jadi apa salah aku numpang sekalian." ujar Laras.
"Enak saja, kamu kira saya supir angkot " Dion melenggang masuk tanpa memperdulikan Laras, tujuanya tadi hanya membawa gadis itu keluar dari apartemen Bara.
"Apa.. ??" dengan kesal Laras menepuk kaca mobil milik Dion sambil mengumpat serapah.
Sedang Dion tersenyum puas berhasil mengerjai gadis bernama Laras itu.
.
Bara mengemasi beberapa potong baju dan apa yang dia perlukan. Dia akan menjemput Tiara. Dia akan mencoba peruntungan, semoga saja istrinya luluh. Hingga rumah tangganya bisa di pertahankan.
"Ma, aku akan ke xxxxx menjemput Tiara. Do'akan ya ma. Semoga dia mau pulang bersama ku. " ujarnya di talian.
__ADS_1
"Iya sayang, mama selalu do'akan." jawab Izza tulus .