
Hingar bingar pesta telah usai, dan sudah hampir satu jam Tiara merebahkan tubuhnya di ranjang milik Bara. Mereka akan menginap beberapa hari di rumah orang tua Bara. Beberapa kali dia menukar posisi agar dapat rasa nyaman. Nyatanya justru susah, raganya lelah ingin istirahat tapi otak dan matanya susah kompromi. Entah karna lingkungan baru atau karna apa.
Di sebelahnya terlihat lelaki bergelar suaminya tidur dengan pulasnya, nafasnya teratur. Tiara tau kesibukan Bara untuk resepsi ini. Karna segalanya di urus sendiri oleh lelaki itu dan tidak melibatkannya. Lebih tepatnya Tiara malas terlibat.
Di raihnya ponsel di atas nakas dan membukanya. Matanya membulat saat melihat conteng 2 berwarna hijau pada seluruh pesan yang dia kirim pada Alex. Reflek dia bangun, menegakkan tubuhnya dan turun. Tanpa dia sadar pergerakannya membangunkan orang di sebelahnya.
Dengan mata setengah terpejam, Bara melihat istrinya menuju kamar mandi sambil membawa ponsel yang menyala.
Beberapa kali Tiara menekan tanda call, tapi tidak ada jawaban dari ujung sana. Hingga panggilan ke 5 dan hampir membuatnya putus asa.
"Hallo.... " ucap Tiara setelah sambungan tersambung. Dia berada di dalam kamar mandi untuk melakulan panggilannya.
Tidak ada sahutan dari ujung sana, hanya keheningan yang terdengar.
" Alex.. " panggilnya dengan suara tercekat, rasa rindu dan marah membuncah hingga membuat perasaanya nelangsa.
"Alex... " kembali dia memanggil nama itu. Tapi tidak ada jawaban sama sekali di ujung sana.
"Alex kamu di mana.. ? "
Tut tut tut.
Belum selesai Tiara berucap tapi panggilan di putuskan sepihak , membuat Tiara luruh ke lantai dengan dada sesak. Dia menangis sendirian di lantai kamar mandi yang dingin, sekuat hati menahan isakan agar tak membangunkan orang lain di tengah malam menjelang pagi itu. Tanpa dia tau Bara yang sudah bangun mendengar semuanya dari balik pintu.
Pagi ini dengan wajah sedikit sembab Tiara ragu-ragu keluar dari kamarnya dan Bara. Suaminya sudah izin pergi lari pagi setelah sholat subuh tadi dan belum kembali. Hari masih sedikit gelap karna baru pukul 6 kurang. Dari arah belakang tercium aroma bumbu yang sedang di tumis. Dia pun bergerak mengikuti arah indra penciumannya. Meski belum familar tapi dia tau di mana letak dapurnya.
"Selamat pagi Ma.. " sapa Tiara pada ibu mertuanya yang sibuk mengaduk bumbu.
Izza menoleh, tersenyum hangat pada menantunya, " Pagi Tiara, sudah bangun to, gimana tidurnya nyenyak.. ?" tanya Izza lalu beralih menatap masakannya.
__ADS_1
Seolah tersindir padahal dia tau tidak ada niatan mertuanya untuk menyindir. Semalam dia memang tak nyenyak tidur, rasanya baru terlelap sebentar saat Bara menepuk-nepuk pipinya untuk pamit lari pagi. Beberapa hari dia memang sedang berhalangan membuatnya malas bangun subuh.
Merasa tidak mendengar jawaban dari menantunya, Izza menoleh kembali menatap menantunya yang terlihat justru melamun.
"Tiara, kamu ga papa? atau masih ngantuk. Istirahat saja dulu, nanti mama panggil kalau udah siap sarapannya."
"Eh, enggak ma. Aku ga papa. Mungkin sedikit ngantuk aja. " tutur Tiara tidak enak hati. Dia segera mendekat melihat apa yang di masak mertuanya.
"Mama masak apa.. ?" tanya nya.
"Mama masak bihun goreng, sebenarnya Uti lebih ahli menu masakan ini. Tapi Uti bilang ga mau masak karna kecapean. "
"Uti adalah panggilan untuk mamahnya mama, kalau Yangti panggilan untuk ibunya mas Arlan. " terang Izza panjang lebar dan hanya di angguki Tiara.
Tak lama memang seseorang yang di panggil Yangti datang menghampiri mereka.
"Ibu mau minum teh.. ?" tawar Izza pada mertuanya.
" Ojo ngomong jowo bu, mantu ku ga reti." jawab Izza sambil terkekeh menatap Tiara.
"Mbien awakmu juga ga reti, saiki pinter kok, ben belajar. " balas ibu mertua Izza, membuat Izza menatap menantunya yang sudah sepenuhnya mengerutkan keningnya, tampak lucu.
"Kamu ga ngerti bahasa jawa sayang.. ?"
Tiara menggeleng cepat, lingkungannya tidak ada satupun yang menggunakan bahasa jawa. Membuat mertuanya dan nenek pihak papa Arlan mengulum senyum.
"Nanti minta ajarin Bara.. " ujar Yangti sambil menuang air hangat.
Bersamaan itu Bara yang baru selesai lari pagi masuk ke dapur dengan badan penuh keringat .
__ADS_1
"Nah kae bocae teko.. " ujar Yangti sambil tertawa. Karna cucu kesayangannya sudah kembali.
"Pada ngomongin apa Yangti, Ma.. ?" tanya Bara lalu beralih menatap istrinya, senyum tipis dia berikan pada Tiara yang entah mengapa membuat seseorang yang si beri senyuman itu terpana tapi berusaha mengabaikannya dengan memalingkan wajah.
"Opo, wong lagi ngomong jowo. Tapi bojo mu ga ngerti . " terang yangti menatap cucu menantunya.
"Ga reti lah, wong uduk wong jowo. " balas Bara menuangkan minuman dan meneguknya. Tetesan keringat itu membuatnya terlihat lebih macho dan Tiara terus memperhatikannya . Pantas saja badan Bara tampak tegap berotot. Ternyata dia rajin olah raga, dulu saat SMA saja sudah terlihat paling menonjol apa lagi sekarang. Jika di bandingkan Alex, kulit Bara justru lebih gelap, khas orang indonesia. Sedang Alex yang memang keturunan campuran kulitnya bersih putih layaknya orang cina. Tapi mata Alex tidak sipit, karna menurun dari mamanya yang orang medan.
Tiara mengumpat dalam hati sendiri, kenapa jadi membandingkan keduanya. Hingga tidak sadar yang ke 3 orang itu terus membicarakannya tanpa dia tau artinya.
"Wis kono, gowo melbu kamar, delok , ket mau ga uwis-uwis nyawang awakmu, Le.. " Goda Yangti, Tiara hanya tersenyum karna tidak paham ucapan Yangti. Tapi terlihat Mama mertuanya tertawa geli.
"Ayo Ra.. " Bara mengulurkan tangannya yang membuat Tiara bingung.
"Kemana.. ?" tanya nya polos. Membuat Mama Izza dan Yangti tertawa lagi. Bara pun ikut mebgulas senyum manisnya dan menarik tangan Tiara untuk mengikutinya.
Sesampainya di kamar, Tiara terus membuntuti Bara.
"Bara, Yangti sama mama tadi ngomong apa sih ..?"
Bara hanya menoleh sebentar, dan melanjutkan kegiatanya menyeka keringat dengan handuk.
"Kok diem sih, aku penasaran. Kan mereka sambil nglirik aku ngomongnya.. " Kali ini Bara bahkan akan masuk ke kamar mandi dan Tiara terus mengikuti.
"Mereka ngomong, kamu mau ikut mandi bareng ga.. ?" godanya setelah separuh badan sudah memasuki pintu kamar mandi.
"Ish, apa sih. kayaknya ga gitu intonasinya. " sebal Tiara dan berbalik kembali ke ranjang. Sedang Bara tertawa dan menutup pintu kamar mandi.
Saat Bara selesai dengan rutinitas mandinya, di lihatnya tubuh Tiara sudah ambruk ke ranjang dengan mata terpejam. Mungkin ketiduran lagi setelah main ponsel. Dia tau wanita itu juga tidak cukup tidur semalam. Dengan lembut dia memasangkan bantal pada kepala Tiara, menyelimuti kakinya agar hangat dan mengambil ponselnya untuk di simpan. Di usapnya kepala Tiara dengan lembut sembari memandang penuh wajah yang tidak banyak berubah sejak SMA dulu. Masih sama, bedanya hanya sekarang lebih terawat hingga tak nampak lusuh dan kusam.
__ADS_1
Perlahan Bara menurunkan ciumannya di kening gadis itu dengan penuh perasaan. Dia tidak tau dan tidak mau berangan apapun untuk hubungan mereka ke depannya. Yang dia akan lakukan sekarang adalah berusaha mencintai, mencurahkan kasih sayang, pada seseorang yang sudah bergelar istri.
"Istri Baradyaka.. " lirihnya dengan senyum tipis penuh perasaan bangga.