
Dengan saling bergandengan ibu dan anak itu berhenti pada sebuah kamar VVIP sebuah rumah sakit besar. Suasana mulai ramai, jarna sudah tiba jam besuk pasien.
Mariana menoleh pada wajah putri nya dan seketika Tiara mengangguk memberi dukungan.
Tangan wanita itu terulur mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
Beberapa saat hening karna tidak ada jawaban apapun dari dalam. Seketika membuat mereka gelisah. Mariana menghela nafas pelan, rasa dadanya begitu sesak memikirkan hal-hal negative tentang kakaknya .
Suara pintu terbuka mengalihkan fokus keduanya, Dafa mencul dengan wajah kusutnya. Dafa tampak terkejut akan kehadiran Tiara dan Mariana.
"Masuk Tan.. Ra. . " Dafa membuka pintu lebih lebar.
Mariana perlahan mulai melangkah masuk ke ruangan yang tercium berbagai aroma obat. Tiara juga mengikuti mamanya. Dan Dafa kembali menutup pintu.
Ruangan itu tampak luas, sesuai dengan kelasnya. Di atas ranjang rumah sakit seorang wanita yang terlihat pucat dan kurus menutup matanya. Helaan nafasnya terasa sesak.
Dion yang semula menunduk dengan terus mengelus tangan lemah mamanya ikut menoleh saat menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu. Awalnya dia mengira yang datang mengetuk pintu adalah penghantar makanan.
Mata Mariana mengembun melihat keadaan wanita itu jsuh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Tubuhnya kurus hanya tinggal tulang dan kulit.
Tiara lebih dulu melangkah ke arah sebelah ranjang yang kosong. Gadis itu menyeka aur matanya.
"Nama Ani... " panggilnya lirih, gadis itu tidak menyangka keadaan mama Ani seburuk ini.
Dion berdiri dan sedikit mundur guna mempersilahkan Mariana lebih mendekat.
Tatapan Mariana tetap terfokus pada sosok Ani, perlahan dia mendekat dan duduk di kursi yang tadi di pakai oleh Dion.
__ADS_1
Hening, hanya suara isak Tiara yang terus mengelus lembut rambut kusam Ani.
"Mbak.. Aku datang.. " Ucapan itu lolos dari bibir Mariana bersamaan buliran bening meluncur bebas hingga membasahi krudungnya yang berwarna coklat.
Dion dan Dafa saling memandang dan meraub oksigen sebanyak-banyaknya.
Sudah hampir 6 bulan mama Ani kembali masuk rumah sakit. Dan keadaanya semakin memburuk semingguan ini.
Kedua lelaki itu sedikit merasa lega. Karna apa yang menjadi keinginan mamah mereka untuk mendatangkan Mariana , sudah terwujut. Selanjutnya kakak beradik itu hanya bisa pasrah.
Mariana meraih tangan lemah kakaknya, ikatan darah antara mereka membuat hati Mariana tertaut. Tidak ada lagi perasaan benci atau sakit hati saat melihat keadaan Ani sekarang.
Perlahsn mata Ani terbuka, membuat Dion dan Dafa ikut mendekat.
"Anna.. " suaranya hanya berupa bisikan di ikuti nafas tersenggal.
Tangis Mariana langsung pecah, wanita itu bangkit memeluk lembut tubuh ringkih kakaknya.
"Maaf kan Ana. ." bisiknya lagi.
Mariana mengurai pelukannya, mengusap air mata yang sudah berderai.
"Aku sudah memaafkan mu mbak, aku sudah memaafkan mu.. " ujarnya sesenggukan.
Mama Ani tersenyum di iringi air mata yang juga mengalir dari sudut matanya.
"Mbak harus sembuh, mbak belum menunjukan pada ku di mama makam papa kan. ? mbak harus sembuh untuk menghantar ku ke sana. " imbuhnya lagi.
Semua ikut terharu tak terkecuali Tiara, Dafa mendekat merangkul adik manisnya yang sudah lama dia rindukan. Berusaha menenangkan.
"Maafkan salah papa dan mama Ana, maafkan salah ku juga yang tidak bisa membela mu saat itu. " Mama Ani menghela nafas panjang membuat Mariana meringsek maju memeluk bagian perut wanita kurus itu dengan kepala menyandar di dekat bahu kakaknya.
"Makam papa ada di kampung halamannya, rumah kita dulu di Bukit Tinggi. Papa berpesan untuk di makamkan di sana, dia ingin tidur tenang bersama tempat di mana anak-anaknya lahir dan tumbuh dulu.." tambahnya lagi.
__ADS_1
Mariana semakin tersedu, bayangan masa kecil penuh bahagia berlari bercanda dengan papa dan kakaknya melintas begitu saja di kepalanya. Ucapan Ani seolah memintanya untuk bernostalgia dan justru membuat ulu hatinya nyeri.
"Maaf kan papa Na, maaf kan juga salah mama yang begitu tega pada mu, maaf kan aku yang tidak bisa melindungi sebagai kakak. " Nafas Ani semakin menipis .
"Aku sudah memafkan papa, mama dan juga mbak. Aku sudah memaafkan kalian, aku sudah reda. Mungkin semua sudah takdir ku.. " jawab Mariana.
Mama Ani meraih tangan adiknya, lalu pandanganya teralih pada Dion, Dafa juga Tiara. Dia mengangguk seolah meminta mereka mendekat.
"Aku titipkan anak-anak ku padamu Ana, maaf aku merepotkan mu.." Ucap Ani saat anak-anaknya sudah mendekat.
"Mama ngomong apa.. ?" Dafa menangis , meraup tangan mamanya menciuminya . Sedang Dion sebagai kakak berusaha tegar meski hatinya ikut hancur mendengar ucapan mamanya.
"Mbak harus sembuh, kita bisa sama-sama merawat mereka. Menimang cucu kita nantinya.. " Mariana berusaha menyemangati kakaknya.
"Dara sudah datang Dion.. " Tatapan Ani lurus menuju pintu keluar. Dion langsung mengikuti arah pandang mamanya .
Lelaki itu menepuk punggung Dafa yang sesenggukan untuk menenangkannya. Juga menatap Tiara juga Mariana.
"Mama, kami akan berusaha iklas jika mama pergi.. " ucapan Dion terhenti saat merasa pukulan di perutnya.
"Kamu ngomong apa bang, mama ga akan mati. Mama akan hidup lama. . !" Teriak Dafa tidak terima akam ucapan abangnya.
Tiara meraih lengan Dafa,berusaha menenangkan emosi lelaki itu. Dion mengusap air matanya dan kembali mendekati adiknya.
"Kita harus iklas Daf.. " bujuknya halus. " Bukan hanya kedatangan tante dengan Tiara, tidak iklasnya hati kita juga memberatkan mama untuk pergi.. " imbuhnya lagi.
Dafa meraung-raung dan Dion segera memeluknya. Hati anak mana yang iklas kehilangan orang tuanya.
Saat Dion memeluk menenangkan Dafa. Teriakan Mariana membuat mereka berurai.
"Mbak..... mbak.....!! mbak ani....!! "
Siang itu mama Ani pergi untuk selamanya, di ikuti tangis air mata orang-orang yang menyayanginya.
__ADS_1