
Hujan rintik-rintik membingkai langit hari ini. Mariana dan Ida baru saja pulang dari warung sebrang jalan besar untuk membeli sayur. Rencananya mereka akan sama-sama membuat rendang daging. Itulah walau hujan mereka nekat menyebrang untuk membeli daging dan kelapa.
"Nanti sore aku suruh bang Jamil pulang awal ya mbak, biar kita bisa makan sama-sama. " Ujar Ida sambil menikmati es krim yang tadi di belinya di warung. Anaknya sedang sekolah, itu lah Ida membeli es krim, karna tak akan perlu mengalah pada anaknya yang pasti merengek meminta.
"Kita kan bisa nunggu Da, lagian Jamil juga ga malem kan biasanya pulangnya.. " Jawab Mariana.
Jamil adalah suami Ida, dia bekerja sebagai driver ojol. PHK pabrik membuatnya putar haluan. Janji anak istri bisa makan. Itu prinsip Jamil.
"Ga pesti loh mbak, kadang bang Jamil pulang juga jam 10 . Kalau udah gitu pasti aku ga akan dapat jatah. " Cerocos Ida sambil tertawa.
"Jatah.. ?" Mariana mengerutkan keningnya tidak mengerti. Sedang Ida hanya nyengir kuda melihat kepolosan kakak iparnya yang sudah lama menjanda.
Sesampainya di dekat rumah, keduanya saling pandang. Mariana bingung melihat mobil mewah terparkir di depan rumahnya.
"Kayaknya ada tamu Da.. Rumah ku apa rumahmu.. ?"
"Kayaknya mobilnya si Dion mbak." Ida mengenali mobil itu, karna beberapa kali melihat Dion mengantar Tiara pulang.
"Dion.. ?" Mariana tidak paham dan kenal siapa Dion yang di maksut. Dan saat tiba di depan pagar, wanita yang semula tampak anggun itu langsung berubah sinis .
Seorang wanita dan lelaki muda terlihat mengetuk pintu rumah Mariana. Mereka belum menyadari kedatangan Mariana dan Ida.
"Tamu mu itu mbak.. " ujar Ida. Rumah mereka bersebelahan hanya terpisah oleh dinding sekat. Itulah tadi keduanya menebak-nebak tamu siapa yang datang.
Sedang Mariana tampak berdiri kaku di depan pagar saat tahu ternyata tebakannya benar. Ani, atau Mariani. Kakak kandungnya sedang datang mengunjunginya. Dari jauh dia juga memperhatikan, seseorang yang di panggil Dion.
"Ana.. "
Ida bingung melihat keduanya, dia juga mengingat-ingat merasa tidak asing dengan wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Ngapain kalian disini? " tanya Mariana tanpa basa basi.
"Jadi ini Tante Ana beneran.. ?" yang menjawab justru Dion. Pria itu sudah pangling dengan tampilan tantenya sekarang. Apa lagi dengan wajah yang mulai menua.
"Anaa... " Hanya kata itu yang keluar dari mulut mama Ani. Dion segera mendekat, khawatir mamanya akan limbung dan jatuh.
Pagi tadi mama Ani merenhek minta di antarkan ke rumah mamanya Tiara. Hingga mogok makan, dan akhirnya Dion pun menyetujui untuk mengantarnya.
Mariana menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Ida ikut masuk karna khawatir pada apa yang terjadi, juga kepo dengan kedatangan Dion saat Tiara berada di sekolahan.
"Pulanglah, pintu rumah ini tidak pernah terbuka untuk kalian.. " Ujar Mariana lemah, hatinya sudah lelah karna sedari kemarin menagannya sendiri atas sesak yang di rasa. Karna tidak mau anaknya akan nerasa khawatir dan sedih.
"Ana... " Mama Ani kembali memangis, berusaha mendekat meraih tangan Mariana. Tapi Mariana langsung menepis.
"Ana... maafkan aku Na... Maaf.. " Mams Ani bersimpuh memeluk kaki Mariana, Adiknya yang sudah 17 tahun pergi dari rumah.
"Maaa.... " Dion panik ikut mendekat, saat tahu mamanya bersimpuh .
"Ana... huhuhu... maafkan aku... Maaf kan aku Ana.. !" Teriak mama Ani sambil menangis.
Mariana hanya diam tak bergeming melihat kakaknya bersimpuh. Suara Mama Ani yang keras membuat tetangga mulai berkumpul.
"Tante, apa ga sebaiknya kita masuk, ga enak di lihatin tetangga kayak gini. '' Dion memberi saran, karna risih melihat tetangga Mariana mulai berdatangan.
"Aku sudah bilang, pintu rumah ini tidak terbuka untuk kalian.. " Tegas Mariana.
"Annaaaa... hahahuhuhu.. Maafkan aku Na..Maafkan aku.. "
Mariana langsung menarik paksa tangan mama Ani dari kakinya dan menghempasnya kasar.
__ADS_1
"Mbak fikir dengan minta maaf bisa mengembalikan keadaan seperti 17 tahun lalu. Aku susah payah mencari restu dan mbak justru menfitnah ku dengan mengatakan kalau aku akan mencuri harta papa. Padahal mbak dan mama lah yang sudah menyembunyikan semua berkas papa. Apa mbak bisa mengatakan pada papa bahwa aku tidak bersalah. Katakan pada papa mbk..Katakan..!!" Teriak Mariana geram.
"Hingga akhir hidupnya, papa menilaiku sebagai anak durhaka. Itu gara-gara mbak..!!! "
"Sampai aku ingin melihatnya untuk terahir kali pun tidak di izinkan. Mbak kira aku ga sakit hati. hah....!!!"
"Kamu yang gila akan harta hingga tega mengkambing hitamkan saudara mu sendiri. Lalu sekarang dengan mudahnya mbak datang meminta maaf. Setelah semua luka dan susahnya aku untuk bangkit. Salahku apa mbak padamu. Apa salah ku...?!!!! ". nafas Mariana tersenggal. Luka itu benar-benar menganga lebar. Luka di masa lalu yang membuatnya susah. Hingga ijazah kuliahnya pun ikut di bakar oleh ayahnya pada saat itu.
Dulunya dia adalah anak orang berada, tapi hubungannya dengan Almarhum Hardian tidak di setujui. Dan saat dia berjuang mendapat restu, kakak dan mamanya justru dengan tega menfitnahnya. Mariana sakit hati karna hingga akhir hayat papanya, dia tidak berkesempatan membela diri.
"Anak Durhaka kamu.. "
Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Mariana, mengalahkan teriakan histeris mama Ani yang terus menangis meminta maaf.
"Pulanglah, jangan mengangguku dan juga putriku. Aku sudah tenang sekarang . Kalian juga sudah hidup senang dan nyaman kan.. ?"
"Anaaa... aku minta maaf Na, akan ku kembalikan semua hak mu padamu Na...! " Kembali mama Ani membujuk. Yang justru di balas tawa sinis Mariana .
"Kalau mbak mau minta maaf, aku bisa memaafkan. Asal mbak bisa mengatakan pada papa. Aku tidak bersalah. Katakan mbak.. Katakan pada papa. !!" Teriak Mariana sambil mulai menangis.
Mama Ani kembali bersimouh, bagaimana dia akan mengatakan pada papanya sepertintang di minta adiknya itu, sedang papanya sudah tidak ada di dunia ini. Wanita itu semakin menangia putus asa. Penyesalan datang menampar hidupnya saat ini. Penyesalan akan ketamakannya.
Ida mendekat untuk menenangkan kakak iparnya. Kini dia paham, siapa wanita yang datang dengan tangis dan meminta maaf itu.
Seperti cerita Almarhum, ternyata benar Mariana adalah anak orang kaya pada masa dulu.
Mariana langsung membuka kunci rumahnya, menarik Ida untuk masuk dan memutupnya kasar. Hingga membuat tetangganya yang datang menguping berjingkat kaget.
Mama Ani masih meraung-raung histeris dan berusaha di tenangkan Dion. Sedang Mariana menangis tergugu di kamarnya dengan Ida yang dengan telaten mengusap punggungnya untuk menenangkan.
__ADS_1
Dion tidak banyak berkomentar, baginya yang memang saat itu sudah kelas 5 SD sedikit banyak tahu dengan apa yang terjadi 17 tahun lalu. Hingga kepergian neneknya karna stroke, di susul papanya karna di tembak oleh lawan bisnis. Juga kepergian tiba-tiba Dara, adik bungsunya yang meninggal karna tabrak lari. Menyisakan mama Ani yang setres dan juga justru membaik setelah di rawat oleh Tiara.
Dion merasa itu adalah teguran untuk mamanya dan sekeluarganya .