
Hingga keesokan harinya, Tiara tidak berkesempatan untuk mengintrogasi Via. Sampai sahabatnya itu pindah tinggal ke rumah tante Ida. Dia yang ingin keluar rumah juga di larang jika tidak bersama Bara. Jadilah seharian ini dia hanya rebahan di kasur berguling ke sana dan kemari.
"Aku harus menemui Alex, tapi gimana mau keluar kalau penjagaanya ketat gini. " gerutunya sore itu.
Bara sedari pagi belum kembali, dia bilang tadi sedang mengurus beberapa hal mengenai resepsinya. Pagi tadi lelaki itu juga mengajak Tiara turut serta, tapi ternyata kembali Tiara tolak dengan alasan perutnya sakit karna datang bulan.
Berulang kali dia mencoba menghubungi nomer Alex, nomer orang tuanya juga teman-temannya. Tapi tidak satu pun yang mengangkat panggilannya .
tok tok tok
"Non... "Suara bibik di luar membuatnya bangkit dengan malas-malasan.
ceklek.
"Ada apa bi.. ?" tanyanya dengan wajah kusut.
"Ini bajunya aden sudah saya setrika Non. " ujar bibik sambil mengangkat setumpuk pakaian milik Bara.
"Biar saya yang merapikan, makasih bi. " di ambilnya setumpuk baju yang sudah rapi itu.
"Sama-sama Non, permisi. " Setelah bibik berlalu, Tiara membawa setumpuk pakaian itu ke dalam ruang ganti dan membuka lemarinya perlahan.
"Eh.. " kepalanya memutar menatap koper yang tergeletak di pojok. Baju milik Bara masih di koper. Sejak kemarin Tiara bahkan tidak perduli dengan bawaan lelaki itu. Juga tidak menyediakan ruang khusus menyimpan pakaian suaminya.
Atas dasar rasa kemanusiaan, dia terpaksa memindahkan satu lemari isi miliknya yang berisi aneka baju untuk di tempati milik Bara. Wajahnya memerah karna malu saat memasukan pakaian dalam milik lelaki itu di lemari, bahkan yang ada di dalam koper.
Tak sampai satu jam dia selesai membenahi pakaian miliknya juga milik suaminya.
__ADS_1
Bara kembali pukul 08.00 malam dengan muka kusut. Nampaknya sehariaan ini sangat lelah .
"Tiara, suamimu pulang kenapa tidak di sambut. Berikan minum padanya, tanyakan sudah makan atau belum." tegur Mariana sambil menggeleng pelan saat melihat anaknya sibuk memainkan ponselnya.
"Dia udah gede ma, nanti laper juga pasti ngomong. " jawabnya sekenanya, dan kembali fokus ke ponselnya. Dia sedang menanyai salah satu rekan kerja Alex via pesan.
"Tiara.. " Mariana menaikan satu noktah suaranya, yang membuat gadis itu akhirnya bangun menuju dapur mengambil air putih dan membawanya ke atas dengan muka di tekuk.
"Ohh, astaga.. kenapa ga pake baju.. !" teriak Tiara terkejut saat memasuki kamar terlihat Bara hanya menutupi tubuhnya dengan handuk sebatas perut dan paha.Dia pun menutup matanya dengan satu tangan.
"Sorry, aku-aku lagi nyari koper ku di mana? " Bara tak kalah terkejut akan kehadiran Tiara. Sambil celingukan dan berjalan kembali menuju ruang ganti.
Tiara meletakkan gelas yang dia bawa, dan menyusul ke ruang ganti dengan hati berdebar.
"Kamu keluar dulu biar aku ambilkan." ujarnya sambil menatap tembok saat sampai pintu ruang ganti, rasanya ga nyaman melihat tubuh lelaki setengah telanjiang dia depan matanya.
Bara menurut memilih keluar dan duduk di sofa. Tak lama Tiara keluar dan kembali berjalan menyamping membelakangi Bara.
"Sebenarnya enaknya ga pake baju. " goda Bara sambil terkikik sendiri.
"Apa?! jangan macam-macam." ketus Tiara dengan langkah cepat menuju pintu dan keluar dari kamar. Meninggalkan Bara yang tertawa sendiri di dalamnya.
"Kenapa kamu.. ?" sapa Dafa saat melihat adiknya keluar dengan wajah memerah, dia tadi baru akan mengetuk pintu untuk menemui adiknya. Tiara tak kalah terkejut akan kehadiran Dafa di depan pintu kamarnya.
"Ga-ga papa.. " Jawab Tiara gugup.
Dafa mengerutkan keningnya bingung, tapi langsung tak menanyakan lebih lagi.
__ADS_1
"Kado-kadomu udah ada di bawah."
gadis itu mengangguk dan menggandeng tangan kakak sepupunya itu menuju bawah, "Ayo kita lihat. "
"Suamimu mana.. ?" tanya Dafa saat keduanya sudah berada di tengah tangga.
"Dia lagi ganti baju. " jawabnya jujur.
"Owhhh... " Dafa manggut-manggut sambil tersenyum tipis, memperkirakan apa yang terjadi tadi hingga membuat wajah Tiara memerah.
Tumpulan kado pernikahan memenuhi ruang Tv. Rupanya para keponakannya bergotong royong mengangkatnya dari mobil pick-up.
"Banyak banget kak.. ?" Tiara tak menyangka yang kado pernikahannya sebanyak ini.
"Tentu saja, semua kan sudah tau yang menikah kemarin adalah ibu derektur perusahaan." Jawab Dafa sambil menepuk bangga bahu adiknya .
Tiara hanya mencebik, tapi satu bungkusan tampak terlihat lain dari yang lain. Sehingga membuatnya penasaran.
Di ambilnya kado berkotak hitam dan berpita merah maroon. Tidak ada nama pengirim di sana, membuatnya mengernyit heran.
"Dari siapa.. ?" Tanya Dafa yang memperhatikan adiknya itu membolak-balikkan kotak kado.
"Ga tau, ga ada nama pengirimnya. " jawanya sambil menggeleng dan menoleh pada Dafa.
"Coba aja buka, kali aja ada namanya di dalam." usulnya.
Tiara menurut, membawa kotak itu menepi dan membuka pitanya. Tak lama menarik perekat kertas hitam dan membuka bagian penutup kotak.
__ADS_1
Matanya terbelalak saat tau apa isinya.
"I..Ini... " ucapnya terbata.